PALU EKSPRES, MAKASSAR- Muktamar Nasional Ikatan Dokter Indonesia ke-30 yang digelar di Gedung Convention Hall, Kota Samarinda, pada 23-28 Oktober 2018, akan dihadiri pengurus IDI dari 33 provinsi dan 412 pengurus kabupaten/kota. Prediksi peserta sekitar 2.500-3.000 orang. Kegiatan ini sekaligus pengukuhan Ketua Umum Baru PB IDI Dr. Daeng M. Fakih, M.HK bersama kabinetnya untuk periode 3 tahun. Salah satu program unggulan dengan membentuk lembaga penelitian, di mana Dr. Marhaen Hardjo Ph.D M.Biomed Ahli Stem Cell, alumni Kedokteran Unhas, diminta untuk memimpin lembaga penelitian dan publikasi PB IDI.
Langkah awal dengan menjajaki kerja sama dengan PT Kalbe Farma. Terobosan Program unggulan lembaga baru di PB IDI di era Dr. Daeng ini antara lain menerbitkan secara reguler majalah kedokteran Indonesia, menyelenggarakan pemberian penghargaan kepada proposal penelitian terbaik dan peneliti berprestasi di bidang kedokteran dan kerjasama penelitian di bidang klinikal trial di Indonesia. Selain itu, pemantapan pembentukan lembaga penelitian PB IDI GB Bistro Senayan city, Kamis (18/10/2018).
Kegiatan ini dihadiri Dr. Daeng M. Fakih, SH MH ketua elek PB IDI. Dr. Marhaen Hardjo Ph.D M.Biomed, Ketua lembaga reseach PB IDI . Dr. Rahyussalim, Sp.BT sebagai Editor jurnal kedokteran, Pihak PT. Kalbe Farma diwakili Dr. Michael Buyung dan Dr. Artati.
Saat muktamar juga diagendakan MoU PB IDI dengan PT Kalbe Farma. Tema besar Muktamar Nasional IDI ke-30 adalah “Reformasi Sistem Pendidikan dan Pelayanan Kesehatan”.
“Tentu semua daerah punya persoalan masing-masing terkait dengan tema besar tersebut dan itu akan menjadi agenda besar nasional,” ujar dr Wachyudi Muchsin SH, Humas IDI Kota Makassar.
Lanjut dokter Yudi, muktamar nasional IDI ke-30 di Samarinda, Kalimantan Timur, rencananya akan dihadiri Presiden Joko Widodo dan Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek.
Di tempat terpisah, Dr Marhen Hardjo Ph.D, Ketua lembaga reseach PB IDI mengatakan ,selain agenda utama muktamar adalah memilih ketua umum baru yang akan memimpin IDI untuk tiga tahun ke depan, juga pengukuhan ketua Pengurus Besar IDI hasil muktamar 2015 di Medan, Sumatera Utara.
“Sesuai AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) IDI, ketua IDI dipilih melalui muktamar, namun hasil pemilihan atau `president elect` baru akan memimpin IDI tiga tahun berikutnya. Jadi, sekarang ini yang dikukuhkan menjadi ketua PB IDI adalah hasil muktamar tiga tahun lalu di Medan,” Oleh sebab itu, Muktamar ke-30 di Samarinda juga akan membahas perubahan AD/ART, khususnya mengenai pemilihan ketua,” jelas dr Marhaen yang juga Direktur Rumah Sakit Umum Wisata UIT (***)






