PALU EKSPRES, JAKARTA – Memasuki gerbang politik tahun ini, namun perekonomian Indonesia mulai membaik dengan menunjukan tanda-tanda positif. Saham satunya, tercermin dari derasnya aliran modal asing ke dalam negeri (capital inflow) sejak akhir 2018 hingga awal 2019.
Bank Indonesia (BI) mencatat, capital inflow sejak 1-17 Januari 2019 sebesar Rp 14,75 triliun. Dari dana tersebut, paling banyak masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 11,48 triliun dan ke pasar saham sebesar Rp 3,21 triliun.
Gejolak perekonomian global membuat investor mulai melirik negara berkembang sebagai ladang investasi dalam menanamkan modalnya di tanah air dibandingkan negara maju seperti Amerika Serikat (AS).
“Ekonomi global sedang melambat shingga investor hindari pasar negara maju dan masuk ke pasar negara berkembang,” kata ekonom Indef Bhima Yudhistira kepada Jawapos.com, Minggu (20/1/2019).
Beberapa faktor yang membuat investor global cenderung mengambil sikap wait and see terhadap investasi di negara paman Sam tersebut lantaran keputusan Bank Sentral The Fed yang menunda menaikkan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sehingga menimbulkan kekecewaan terhadap Presiden Donald Trump. Selain itu, perang dagang antara AS dan Tiongkok pun masih akan berlangsung.
“Diprediksi sampai 2020 ekonomi glonal akan melemah karena perang dagang jadi dana asing masih masuk ke Indonesia,” tuturnya.
Berdasarkan data BI, capital Inflow masuk berasal dari instrumen Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 11,48 triliun dan ke pasar saham sebesar Rp 3,21 triliun. Menurutnya, karena imbal hasil yang ditawarkan SBN cukup tinggi yaitu skitar 8 persen.
“Surat utang indonesia memiliki bunga tertinggi di asia. Investor tertarik return yg tinggi,” imbuhnya.
Sementara untuk pasar saham sendiri, para invetor masih optimis dengan fundamental perekonomian Indonesia. Hal tersebut tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus menunjukkan performa positif di atas level 6.000. Saat ini, IHSG berada di posisi 6.448 dengan kapitalisasi pasar Rp 7.338 triliun.
“Ekonomi pertumbuhan 5 persen ditopang oleh bonus demografi dianggap cukup prospektif dibanding Jepang, korea dan eropa yang populasinya menua atau aging population,” jelasnya.
Hal senada juga dikatakan oleh analis Forex Time Lukman Otunuga yang mengatakan, mata uang pasar berkembang memasuki pekan trading dengan nuansa waspada karena berbagai risiko geopolitik dan kekhawatiran mengenai pertumbuhan global yang melambat membuat investor gelisah.
“Kinerja mata uang pasar berkembang bervariasi. Ringgit Malaysia dan Rand Afrika Selatan melemah. Walau begitu, Lira Turki, Yuan China, dan Rupiah Indonesia mampu bertahan terhadap Dolar,” ujarnya seperti diberitakan Minggu (20/1/2019).
Menurutnya, dengan ketidakpastian Brexit dan ketidakpastian politik di Washington serta berbagai risiko geopolitik lainnya yang mengganggu keyakinan investor. Meskipun bisa bertahan menguat, namun mata uang pasar berkembang tetap rentan melemah.
Di Indonesia sendiri, Lukman menjelaskan, sentimen menjadi buruk pasca laporan bahwa ekspor Indonesia merosot dengan laju paling cepat dalam lebih dari satu tahun terakhir bulan lalu.
Seperti diketahui, total ekspor menurun 4,62 persen pertahun di bulan Desember dan impor hanya sedikit menguat 1,16 persen, sehingga defisit perdagangan lebih besar dari perkiraan.
Lukman menambahkan, kebuntuan politik di Washington dan ekspektasi bahwa Fed akan beristirahat meningkatkan suku bunga terus membebani Dolar.
“Selera terhadap Dolar akan semakin menurun apabila data ekonomi yang mengecewakan status safe haven mata uang ini,” imbuhnya.
Lukman mengingatkan, isyarat melambatnya pertumbuhan global akan terus memengaruhi pasar berkembang, termasuk Indonesia,” tuturnya.
(rom/jpc)






