Sabtu, 5 September 2026
Opini  

SDM Belum Adaptif Perubahan, Sulit ”Bersinergi”

Oleh: Hasanuddin Atjo, Ketua Ispikani Sulawesi Tengah

KINI kita berada di era Industri 4.0 atau era melenial yang ditandai oleh maraknya pemanfaatan instrumen digitalisasi di berbagai aktifitas kehidupan. Hampir semua transaksi, pemantauan-pengamatan, proses perizinan, belajar-mengajar sampai kepada pertemuan mulai digantikan oleh instrumen ini.

Dampaknya adalah sejumlah bisnis konvensional seperti taxi, transaksi by cash, bisnis jasa seperti travel atau jasa pengurusan atau perantara sangat terpengaruh, bahkan ada yang pailit. Ini juga mulai dirasakan oleh bisnis transportasi udara, hotel dan penyewaan gedung, karena komunikasi dan dialog tidak harus pada satu tempat tertentu yang bertemu langsung tetapi mulai beralih ke tele konferens, skype, sampai ke vidio call yang relatif murah dan cepat. Bahkan ke depan jasa konsultasi medis atau hukum diprediksi juga dapat tergantikan oleh sistem ini.

Melambungnya harga tiket transportasi udara selain disebabkan oleh nilai tukar rupiah yang melemah, dan adanya pilihan untuk transportasi darat karena fasilitas TOL atau Kereta api yang lebih cepat dan nyaman, juga disebabkan pertemuan dan rapat mulai beralih ke sistem digital. Maskapai tentunya mempunyai kewajiban membayar pinjaman, sehingga harus mengkalkulasi ulang harga tiketnya oleh karena faktor yang telah disebutkan tadi. Ini adalah sebuah dinamika dalam bisnis yang selalu berorientasi kepada daya saing.

Masih segar dalam ingatan, begitu tingginya protes dari peserta angkutan konvensional seperti taxi dan angkot terhadap taxi aplikasi, namun akhirnya bisa diterima karena sebuah kebutuhan.

Dunia kerja saat ini diisi sekitar 60 persen oleh gen Y atau generasi melenial (lahir setelah tahun 1980) dengan karakter update atau kekinian, adaptif, inovatif, tegas dan demokratis. Sisanya adalah gen X (lahir sebelum tahun 1980) dengan kebiasaan lebih kepada prosedural dan konvensional. Diantara gen Y dan X ada yang disebut gen Intercept atau irisan, namun prosentasenya kecil yang terdiri atas dua sub gen: pertama sub gen yang usia bilogisnya X, namun karakternya mengikuti gen Y. Kedua, adalah sub gen yang usia bilogisnya Y tetapi karakternya mengikuti gen X.

Persoalan yang muncul kemudian adalah kepada SDM yang belum adaptif dengan perubahan-perubahan yang telah disebutkan diawal tulisan ini, sehingga menimbulkan gap antara yang adaptif dengan yang belum. Inilah yang menjadi salah satu penyebab sulitnya membangun “frekuensi yang sama” dalam rangka membangun yang berorientasi kepada melayani, melindungi, memberdayakan dan mensejahterahkan.

Harapan kita bagaimana prosentase gen intercept yang pertama lebih diperbesar dan prosentase gen intercept yang kedua dapat dikurangi. Ada beberapa alasan mengapa sub gen intercept harus menjadi perhatian, terutama sub gen pertama. yaitu : (1) kepemimpinan puncak dalam organisasi masih didominasi oleh generasi X; (2) bonus demografi 2028-2030 memerlukan skenario yang masih dirancang oleh generasi X yang berkarater melenial, karena bila tidak, maka bonus ini akan berlalu begitu saja.

Pertanyaan yang muncul kemudian bagaimana strategi yang harus dibangun menyikapi perubahan yang begitu cepat dan kadang kala tidak terlihat itu?. Dari beberapa referensi termasuk dialog terbatas yang dilakukan dengan beberapa kalangan, maka jawabannya adalah “suka tidak suka harus membangun literasi”.

Pengertian literasi sesungguhnya adalah keterbukaan wawasan terhadap beberapa hal yang terus berkembang dan berubah. Paling tidak ada tiga poin penting untuk itu yaitu keterbukaan wawasan terhadap sosial-budaya termasuk di dalamnya pemahaman berdemokrasi; keterbukaan wawasan terhadap perkembangan inovasi-teknologi; dan kerterbukaan wawasan terhadap ekonomi. Selanjutnya bagaimana skenario atau strategi membangun literasi?. Jawabannya adalah membangun “minat baca dan daya baca ”dan kemudian menjadi referensi untuk merancang sebuah strategi atau scenario.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa umumnya gen X minat bacanya sudah ada, namun daya bacanya yang harus ditingkatkan. Sebagai contoh sebahagian besar gen X sudah familiar dengan teknologi washapp (WA) dan bisa menghabiskan waktu lama untuk membaca atau merespon sejumlah informasi pendek yang substansinya sebenarnya hal yang biasa saja. Tetapi kalau diperhadapkan kepada bacaan yang memerlukan pemikiran dan analisis seperti terkait dengan substansi soial-budaya, inovasi-teknologi dan tentang ekonomi yang banyak tersedia di WA group atau melalui fasilitas Google searching biasanya dilewatkan atau dipending. Kebiasaan ini tentunya harus dirubah agar gen X dapat menyiapkan sebuah skenario yang akan dilanjutkan oleh gen Y dan Z akan datang.

Masih ingat dalam ingatan bagaimana Mr. Mahathir Muhamad yang sudah uzur, berusia 92 tahun kemudian diminta oleh rakyatnya kembali menjadi perdana Menteri Malaysia untuk satu periode kedepan. Ini tentunya berkaitan dengan minat dan daya baca yang tinggi dari sang Perdana Menteri terpilih tersebut. Diyakini bahwa kita mampu mempersipkan skenario atau strategi pembangunan untuk diteruskan oleh generasi Y dan Z. (***)

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam