Minggu, 9 Agustus 2026
Palu  

9.600 Warga Balaroa Tidak Dapat Jatah Hidup

PALU EKSPRES, PALU– Sebanyak kurang lebih 9.600 korban bencana likuefaksi di Kelurahan Balaroa dilaporkan belum mendapat jaminan hidup (Jadup) ataupun bantuan logistik dari pemerintah.

Hal itu dibeberkan Sekretaris Forum Korban Likuifaksi Kelurahan Balaroa, Agus Mangkona dalam forum libu ntodea yang digelar di Jalan Tupu Sado Kelurahan Balaroa, Rabu malam 27 Februari 2019.

Menurut Agus, penyebabnya lantaran nama-nama  warga tersebut tidak masuk dalam basis data pengungsi untuk Kelurahan Balaroa yang sebelumnya  diterbitkan Bappeda Palu. Sementara acuan pembanguan acuan pembanguan Jadul maupun logistik adalah data tersebut.

“Sudah empat bulan lebih kondisi itu terjadi di Kelurahan Balaroa,”kata Agus dalam forum itu.

Menurutnya, basis data yang tidak akurat juga menyebabkan warga korban bencana likuefaksi bingung. Karena nama-nama yang tidak terdata itu otomatis tidak akan diambil untuk relokasi menempati hunian sementara (Huntara) maupun hunian tetap (Huntap).

Agus pun memprotes statemen Wakil Presiden RI M Jusuf Kalla terkait penyakitan dana stimulan perbaikan rumah rusak. Menurutnya sampai saat ini penyaluran dana itupun belum jelas. Akhirnya kata dia, banyak korban yang akhirnya membangun rumah singgah secara swadaya.

Begitu juga soal kejelasan ganti rugi atas tanah warga yang tersapu likuefaksi. Yang menurut Agus, warga masih punya hak karena memiliki sertifikat sebagai penguat hak keperdataan.

“Pembangunan rumah singgah itu sebenarnya bentuk protes atas ketidakjelasan semua proses penanganan bencana yang dilakukan pemeirntah,”jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Palu, Erfandi, menyebut, Pemkot perlu menyampaikan setiap perkembangan informasi terkait rencana pembangunan Kota Palu. Khususnya rencana menyangkut pemberian hak korban bencana.

“Contohnya saja soal jumlah huntara yang tidak sebanding dengan jumlah pengungsi, Itu diawali ketidakjelasan informasi”kata Erfandi.

Demikian halnya mengenai  data pengungsi. Karena ketidakjelasan informasi,  akhirnya  muncul opini masyarakat bahwa mereka tidak akan didata di Balaroa apabila mereka mengungsi ditempat lain.

“Itu semua penyebab mengapa kemudian banyak warga Balaroa yang tidak terdata,”ujarnya.

Menjawab itu, Kepala Bappeda Palu Arfan menyatakan bahwa untuk data pengungsi saat ini pihaknya tengah melakukan perbaikan data. Sejauh ini basis data pengungsi  sudah sampai tahap 2. Untuk mengakomodir warga pengungsi yang belum masuk dalam basis data tahap dua, maka akan dimasukkan dalam basis data tahap tiga.

“Jadi yang sejauh ini belum terdata, itu akan dimasukkan dalam data tahap tiga,”jelas Arfan.

Mengenai ganti rugi lahan warga yang terdampak likuefaksi, Arfan menjelaskan, secara umum telah dimasukkan dalam data kerugian bencana Kota Palu.  Pemkot Palu menurutnya mengajukan nilai kerugian atas infrastruktur secara total sebesar Rp6triliun.

“Kerugian itu sudah kami laporkan. Termasuk kerugian warga atas tanah terdampak likuefaksi. Kita berharap, mudah mudahan ada kebijakan ganti rugi atas laporan tersebut,”demikian Arfan.

(mdi/palu ekspres)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital