Minggu, 5 April 2026
Palu  

Tiga Dusun di Sambo Sigi Teraliri Air Bersih

PALU EKSPRES, SIGI – Warga di tiga dusun Desa Sambo Kecamatan Dolo Selatan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kembali bisa menikmati air bersih. Sebuah sistem penampungan air bersih kini berdiri di desa tersebut.

Sebelumnya, warga teramat kesulitan memenuhi kebutuhan air bersihnya. Bencana 28 September 2018 silam, ikut menghancurkan sistem pipanisasi air di desa tersebut. Lima bulan lebih lamanya warga harus turun sungai untuk mengambil air.
Wikram, Kepala Desa Sambo, Sabtu 30 Maret 2019 mengaku, sebelum bencana, warga memiliki sebuah sistem pipanisasi yang memanfaatkan air sungai. Sistem itu mengalirkan air ke beberapa titik penampungan kecil yang tersebar di tiga dusun.

Namun setelah bencana, pipanisasi yang mereka gunakan rusak akibat goncangan gempa.
Sedikitnya kata Wikram, 200 kepala keluarga yang menggantungkan kebutuhan airnya menggunakan sistem pipanisasi desa.

“Hancur semua pipanya pak. Karena hanya menggunakan paralon,”kata Wikram.

Menurut dia warganya kini bisa menikmati air bersih langsung di rumahnya masing-masing. Warga tiga dusun tinggal menyambung selang ke bak-bak kecil yang terdapat di setiap dusun. Bak-bak kecil ini mendapat suply air dari sebuah bak penampungan besar (Eksisting) berkapasitas 50 meter kubik.

Bak eksisting menurut dia dibangun secara swadaya antara warga  bersama PT Pertamina Persero menggunakan dana bantuan dari Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB). Bak dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 10meter persegi yang berada tepat di tepi sungai.

“Lahannya pun merupakan lahan yang dihibahkan masyarakat,”jelas Wikram.

Pihaknya lanjut Wikram, saat ini telah membentuk kelompok kerja warga untuk merawat bak tersebut. Lalu mengatur jadwal perawatannya.

“Secara bergilir warga dusun dijadwal untuk melakukan perawatan. Karena pada prinsipnya bak itu kini  milik bersama dan wajib untuk menjaganya,”jelas Wikram.

Pembangunan bak eksisting di Desa Sambo merupakan program recovery PT Pertamina bersamaan FSPPB. Di desa Sambo, Pertamina melaksanakan sedikitnya tiga program. Yakni revitalisasi sarana air bersih, livelihood dan educare program. Sabtu 30 Maret 2019. 
Direktur SDM Pertamina, Koeshartanto dan Presiden FSPPB, Arie Gumilar hadir langsung dalam acara peresmian program tersebut.

Presiden FSSPB, Arie Gumilar menyebut, program itu didanai atas uluran tangan karyawan PT Pertamina. Sedikitnya terkumpul dana kurang lebih Rp847uta. Dia mengaku jumlah dana sangat terbatas. Makanya pola penyaluran bantuan dilakukan dalam bentuk pemberdayaan dan revitalisasi.

“Model pemanfataan dana di Desa Sambo ini diawali dengan proses asessmen agar pemanfataan tepat karena anggaran terbatas,”kata Arie.

Selain revitalisasi air sarana air, pihaknya juga melakukan pemberdayaan ekonomi dalam program livelihood. Warga Desa Sambo dilatih mengolah pisang sepatu menjadi saleh pisang. Olahan kuliner tersebut diadopsi dari daerah Cilacap. Dimana sebelumnya Pertamina melakukan program desa binaan.

Kebetulan kata dia Desa Sambo memiliki sumber daya alam berupa ladang pisang yang dikembangkan warga. Potensi pengembangan saleh pisang karena sejauh ini pisang hanya dikembangkan sebatas untuk keripik.

“Alhamdulillah sudah ada beberapa kelompok usaha masyarakat yang menggeluti usaha itu,”jelasnya.

Kemudian program educare. Dalam progam ini, pihaknya melakukan proses belajar mengajar dengan konsep alam yang dipadukan kurikulum 13. Konsep sekolah alam diyakini mampu membuat suasana belajar mengajar anak anak menjadi santai. Sekaligus membawa sejumlah tenaga pengajar untuk studi banding untuk meningkatkan kompetensinya.

“Dengan sendirinya menjadi program trauma healing bagi anak sekolah dan pengajar,”jelasnya.

Dia berharap, pola yang dilakukan FSPPB dan warga Sambo bisa diadopsi oleh BUMN lainnya dalam melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaannya. Agar bantuan termanfaatkan dengan baik dan berkelanjutan.

Sementara itu Direktur SDM Pertamina, Koeshartanto menjelaskan, program di Desa Sambo merupakan program yang dilaksanakan bersama FSPPB dan warga. Bukan merupakan program dari corporate PT Pertamina. Program korporasi kata dia sudah dilakukan pada masa tanggap darurat.

“Itu merupakan program rehabilitasi. Ini luar biasa karena pendekatannya pemberdayaan,”sebutnya.

Berharap hal ini bisa berkembang dan mandiri dikemudian hari. Program ini menurutnya akan berkesinambungan. Baik melalui dana corporate social responcibility (CSR) korporasi. Utamanya mengenai pemberdayaan usaha ekonomi masyarakat.

(mdi/palu ekspres)