Minggu, 5 April 2026
Daerah  

Atasi Hama Cabai dengan Tumbuh-Tumbuhan

IMG-20190828-WA0128

PALU EKSPRES, BANGGAI– Penggunaan tumbu-tumbuhan sebagai pestisida untuk mengendalikan hama tanaman mungkin belum begitu dikenal luas petani di Indonesia. Bagi mereka yang awam, teknik inipun masih terdengar asing ditelinga.

Tapi tidak bagi petani di Kelurahan Sisipan Kecamatan Batui Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah. Pengendali  hama berbahan alami ini telah mereka gunakan sehari- hari di kebun cabai milik mereka. Selain murah, bahan aktifnya mudah ditemui di alam bebas. Racikannya dikenal dengan istilah pestisida nabati (Pesnab)

Laporan Hamdi Anwar.

Yurince Bangian (49) tahun terdengar begitu menguasai teori racikan Pesnab. Penjelasannya runut bak lulusan sarjana pertanian. Mulai dari pilihan bahan, cara meracik hingga pola penyemprotan. Perempuan inipun fasih tatkala menjelaskan seperti apa kondisi bibit cabai dan kapan harus mulai menyemprot cairan Pesnab.

Yurince adalah Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Bilalang Kelurahan Sisipan Kecamatan Batui Kabupaten Banggai. Kecamatan ini adalah satu dari tiga kecamatan yang menjadi sasaran program Corporate Social Responcibility (CSR) PT Donggi Senoro Liqiud Natural Gas (DLSNG) selain Kecamatan Nambo dan Kintom.

“Bahannya alami Banyak tumbuh disekitar kebun,”ucap Yurince, Senin 26 Agustus 2019.

Cairan Pesnab merupakan  hasil fermentasi kunyit, geraka, lengkuas, sereh, daun pepaya, serta daun gamal. Terkadang Yurince menambahkan daun sirsak maupun tembakau.

Bahan-bahan tersebut kata dia dicampur sekaligus dalam sebuah wadah. Selanjutnya diaduk rata. Lalu diendapkan bersama air selama seminggu.

“Kalau sudah jadi, baunya menyengat,”ucap Yurince.

Cairan Pesnab tutur Yurince mulai disemprot ketika bibit cabai berumur seminggu. Semprotan awal ini  untuk mengantisipasi agar tanaman tidak dihinggapi hama.

Dua jenis hama  penyerang  cabai menurutnya  adalah tungau (Brevipalpus phoenicis). Hewan kecil dengan delapan tungkai ini merusak daun cabai. Kemudian kutu daun putih (Bemasia Tabaci). Kutu daun lebih merusak ketimbang tungau. Karena hama ini menyerang hampir seluruh bagian tanaman.

“Paling banyak tungau dengan kutu. Bila daunnya rusak, cabai tidak tumbuh subur,”tuturnya.

Dalam kondisi tertentu, Yurince bersama anggota dalam kelompok yang ia pimpin kadang menambahkan minyak kayu putih dalam racikan Pesnab. Ini hanya dilakukan jika hama masih tetap bertahan meski telah diberi Pesnab.

“Biasa hamanya kebal. Tapi begitu dicampur minyak kayu putih, hamanya pasti hilang. Sangat mujarab pak,”jelas Yurince ketika ditemui di areal perkebunan anggota KWT, Kelurhan Sisipan, Banggai, Senin 26 Agustus 2019.

Pemahaman Yurince tidak sebatas meracik dan menggunakan Pesnab. Ia ternyata fasih akan teori racikan pupuk alami yang bahan aktifnya juga berasal dari tumbu-tumbuhan. Dalam dunia pertanian pupuk alami ini dikenal dengan istilah microorganisme lokal (MOL)

“Kalau kurang tumbuh kita biasanya pakai pupuk gonopu (sabut kelapa) secara terus menerus,”imbuhnya.

Pupuk organik MOL menurut Yurince umumnya juga dibuat dari hasil fermentasi sejumlah jenis tanaman dan buah-buahan. Pepaya, gula merah, air cucian beras dan air kelapa bahan utamanya. Hasil fermentasi bahan ini cukup efektif merangsang pertumbuhan cabai.

“Sama seperti Pesnab, racikan pupuk organik ini juga didiamkan selama satu Minggu baru digunakan untuk menyemprot,”sebut Yurince.

Segelas cairan pupuk organik MOL hasil fermentasi katanya bisa dilarutkan bersama 15 liter air. Takaran ini untuk disemprotkan pada jumlah dan luas tanam yang telah mereka tentukan. Cairan disemprot ketanah sekitar tanaman cabai, dua kali seminggu.

Memasuki umur dua Minggu, lanjut Yurince, cabai sudah harus dipupuk.  Dilanjutkan ketika umur sebulan hingga menjelang masa panen. Penyemprotan MOL pun mereka lakukan pascapanen. 

Pengetahuan Yurince mengenai Pesnab dan MOL ia dapat dari kegiatan sekolah lapang pertanian. Salah satu metode pengembangan CSR PT DLSNG bidang pertanian. Di sekolah lapang itu mereka rutin menggelar pertemuan bersama pendamping dari perusahaan.

“Seminggu sekali kami diberi arahan bagaimana menanam cabai pupuk dan racun organik itu,”bebernya.

Selain sekolah lapang pertanian, KWT binaan PT DLSNG juga diajarkan membentuk kelembagaan kelompok hingga membuat koperasi untuk keberlanjutan modal usaha pertanian bagi setiap anggota.
Melalui koperasi itu, Yurince dan anggota lainnya bisa meminjam dana  yang dihimpun dari simpanan anggota.

Pengumpulan dana dilakukan dengan dua pola yakni simpanan wajib dan pokok.  Simpanan pokok sebesar Rp50ribu dan simpanan wajib Rp10 yang diserahkan setiap bulan. Berikutnya simpanan sukarela yang sifatnya tidak mengikat.

“Simpanan wajib ini kami serahkan setelah panen cabai,”ucapnya.

Semenjak bergabung dalam kelompok binaan DLSNG, Yurince menuturkan kini penghasilan keluarganya lebih meningkat meski belum signifikan. Sebab usaha bercocok tanam dengan pola pendampingan baru saja dimulai setahun belakangan. Namun paling tidak pemasaran hasil produksi cabai dari kelompoknya kini lebih terarah.

“Hasil panen kita jual ke koperasi pertanian. Tidak perlu jauh-jauh,”katanya.

Sebelumnya Yurince mengaku ia dan anggota lainnya hanya bercocok tanam umbi-umbian dan pisang. Komoditi ini menurutnya sulit dipasarkan. Hingga akhirnya ia dan 20 anggota lainnya mulai memanfaatkan lahan bersama seluas kurang lebih 1 hektar untuk menanam cabai.

Pendamping CSR Pertanian DLSNG, Subalih, menjelaskan, pola penyaluran CSar perusaahan bersifat komprehensif. Tidak sebatasemneri modal, membentuk kelompok dan koperasi.  Tetapi mereka juga dibekali pengetahuan mengenai cara bercocok tanam yang baik dan benar. Membuat  Pesnab dan MOL. Termasuk mengajarkan management pengelolaan kelompok dan koperasi hingga pemasarannya.

“Sekolah lapang dikakukan langsung di kebun milik warga dengan menggelar pertemuan sebulan sekali,”kata Subalih.

Pesnab dan MOL kata Subalih sengaja dipilih sebagai alternatif mengendalikan hama. Demikian halnya MOL sebagai pupuknya. Dengan begitu biaya produksi lebih efisien serta ramah lingkungan.

“Utamanya ketersediaan bahan yang ada disekitar kebun petani,”kata Subalih.

Pandangan akademisi.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tadulako Palu, Hasriyanti menjelaskan, pestisida kimia dan pestisida  organik masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Zat aktif  dalam pestisida kimia menurutnya memang lebih ampuh membunuh hama tanaman.

“Misalnya disemprot hari ini. Maka hama langsung mati hari ini juga,”jelas Hasrianty.

Akan tetapi pestisida kimia berbahaya bagi kesehatan manusia dan keberlangsungan organisme lingkungan disekitar perkebunan. Zat kimia yang terkandung didalamnya bisa meredusi hasil penen.

“Organisme musuh alami hama bisa ikut mati ,”jelasnya.

Hama yang terkena pestisida kimia  menurutnya juga bisa menjadi resisten (kebal) terhadap racun yang dikandungnya. Akibatnya, hama dapat menjadi lebih banyak dikemudian hari.

“Awalnya hama menghilang setelah pakai pestisida kimia. Tapi nanti hama justru akan lebih bertambah karena sudah kebal,”paparnya.

Kalangan akademisi kata Hasriyanti memang mendorong penggunaan Pesnab dan MOL bagi petani dalam bercocok tanam dalam setiap penyuluhan maupun sosialisasi.

Rekomendasi penggunaan pestisida dan pupuk alami ini juga kerap direkomendasikan ke pemerintah melalui dinas terkait. Sayangnya,  rekomendasi ini jarang direalisasikan dalam program pemerintah yang bersentuhan dengan petani.

“Mungkin sulit bagi pemerintah untuk hal ini. Karena ini bersinggungan  dengan kepentingan industri produk pestisida kimia,”pungkasnya.

Eksternal Communication Supervisor DSLNG Doty Damayanti, mengatakan,  tanaman cabai memiliki potensi pasar yang memadai. Baik pasaran lokal maupun regional. Namun sejauh ini petani sekitar perusahaan belum mengelolanya secara intensif.

Melalui program CSR DLSNG bidang pertanian, pihaknya kemudian melakukan pendampingan secara masif.

“Kita mulai dengan pendidikan melalui sekolah lapang. Membekali warga bercocok tanam cabai. Mulai cari bibit. Cara buat pupuk dan pestisida dengan memanfaatkan yang ada disekitar alam . Jadi tidak perlu keluar biaya lagi untuk beli pupuk dan pestisida,”katanya.

Selain itu pendampingan untuk keterampilan sisi hilir. Misalnya pembentukan “stocking point” agar petani  tidak perlu repot mencari pemasaran. Stoking point merupakan tempat menjual hasil pertanian yang dibentuk terpisah dan masih menjadi bagian pendampingan perusahaan.

Stoking point dibentuk bersamaan dengan sebuah koperasi pertanian. Kegiatan stoking point ini mencakup pembelian hasil panen kelompok tani lalu memasarkannya.

“Begitu ada stok yang jumlahnya cukup besar, pengelola stocking poin bisa langsung menjualnya. Ini mempercepat akses pasar sekaligus menghindari tengkulak,”jelasnya.

Sementara itu, CSR Manager PT Donggi-Senoro LNG Pandit Pranggana menambahkan, sekolah lapang dibentuk khusus untuk pendampingan petani secara komprehensif. Pembentukan diawali dengan berbagai analisa. Lalu menyusun dalam sebuah kurikulum pendidikan.

Ini kata dia bertujuan agar petani menjadi tangguh. Mengetahui teori dalam memilih bibit, membuat pupuk dan pestisida serta management kelembagaan kelompok tani.

“4 dari 16 kurikulum yang sebelumnya disusun dari hasil analisa kemudian dituangkan dalam kegiatan sekolah lapang,”kata Pandit.

Sekolah lapang merupakan transformasi pola penyaluran CSR yang selama ini dipraktekkan DLSNG bagi masyarakat.

“Kini kita tidak lagi memberi stimulan secara tunai kepada orang perorang. Karena pengalaman selama ini bantuan terkadang mereka jual tanpa menghasilkan apa-apa,”demikian Pandit. (mdi)

(Tulisan ini untuk mengikuti anugerah jurnalistik DLSNG tahun 2019).