Minggu, 9 Agustus 2026

BPS Warning, Inflasi Kota Palu Masih Berpotensi Melebihi Target

PALU EKSPRES, PALU– BPS Provinsi Sulawesi Tengah mengingatkan Pemerintah Daerah Provinsi Sulteng, khususnya Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) segera membuat langkah antisipatif agar inflasi akhir tahun tak melampaui target. Warning tersebut disampaikan Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Sulteng, G.A. Nasser pada paparan rilis BPS mendampingi Kepala BPS Sulteng, Faisal Anwar, Senin (2/9/2019) di kantor BPS Sulteng.

Nasser menjelaskan, berdasarkan pergerakan laju inflasi tiga bulan terakhir ini yang menunjukkan pergerakan naik, menggambarkan inflasi pada bulan depan (September 2019) masih berpeluang terjadi. “Jadi melihat pergerakannya, berpotensi terjadi inflasi pada bulan berikutnya dan ini bisa mempengaruhi target inflasi Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, yakni pulus minus 3,5,” kata Nasser.

Menurut Nasser, walau laju inflasi saat ini pada angka 1,7 persen tapi tiga bulan kedepan masih ada momen-momen penting yang bisa mendongkrak laju inflasi. Di antaranya, natal dan tahun baru. “Musim kering yang melanda Sulawesi Tengah saat ini bisa mempengaruhi hasil panen petani, dan ini sangat berpengaruh terhadap inflasi di daerah ini,” ujarnya.

Namun secara umum, inflasi bulan Agustus 2019 di Kota Palu masih tergolong terkendali walau angka inflasi masih di atas rata-rata nasional.

Sementara itu, Kepala BPS Sulawesi Tengah, Faisal Anwar mengatakan, Selama Agustus 2019, Kota Palu mengalami inflasi sebesar 0,31 persen. Lima komoditas utama penyebab inflasi di daerah ini, adalah Cabe Rawit 0,23 persen, Ikan Kembung 0,23 persen, Ikan Ekor Kuning 0,22 persen, Ikan Cakalang 0,10 persen dan Ikan Layang 0,007 persen.

Faisal mengatakan, inflasi pada Bulan Agustus 2019 juga dipengaruhi naiknya indeks harga yang terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 2,78 persen, diikuti oleh kelompok sandang 0,86 persen; pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,23 persen; makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,13 persen, serta perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,07 persen.

Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga kata Faisal, adalah kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 2,01 persen serta kelompok kesehatan sebesar 0,04 persen. Pada periode yang sama tambahnya, inflasi year on year (yoy) Kota Palu mencapai 4,79 persen. Kenaikan indeks year on year tertinggi terjadi pada kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 7,56 persen, sedangkan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mengalami kenaikan indeks terendah sebesar 3,42 persen.

Inflasi Kota Palu sebesar 0,31 persen menurut Faisal, karena andil kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 0,58 persen; kelompok sandang sebesar 0,04 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,03 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,01 persen; serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,01 persen.
“Sementara kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan memberikan andil negatif terhadap inflasi sebesar 0,36 persen, sedangkan kelompok kesehatan turut memberikan andil negatif di bawah 0,01 persen,” kata Faisal.

Beberapa komoditas utama yang memiliki andil terhadap inflasi kata Faisal, antara lain cabai rawit sebesar 0,23 persen, ikan kembung sebesar 0,23 persen, ikan ekor kuning sebesar 0,22 persen, ikan cakalang 0,10 persen, ikan layang 0,07 persen, ikan kakap merah 0,05 persen, cabai merah 0,04 persen, emas perhiasan 0,03 persen, tahu mentah 0,03 persen, dan semangka 0,02 persen.

Sedangkan beberapa komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi adalah tarif angkutan udara sebesar 0,37 persen, tomat buah 0,11 persen, ikan selar 0,08 persen, ayam hidup 0,07 persen, kangkung 0,05 persen, bayam 0,05 persen, ikan teri segar 0,03 persen, ikan teri kering 0,03 persen, sawi hijau 0,03 persen, dan bawang merah 0,03 persen. (fit/palu ekspres)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital