PALU EKSPRES, POSO– Sulawesi Tengah merupakan salah satu provinsi dengan angka perceraian yang cukup tinggi. Kementerian Agama RI mencatat, Januari hingga Agustus 2019 telah terjadi 600 perceraian. Penyebabnya macam-macam. Termasuk karena adanya pernikahan dini.
Demikian Kepala Bidang Advokasi Penggerakan dan Informasi (Adpin) BKKBN Perwakilan Sulteng, M Rosni, dalam sosialisasi pembangunan keluarga yang digelar bersama BKKBN dan mitra, Senin 16 September 2019 di SMAN 1 Lage Kabupaten Poso.
Rosni mengatakan penyumbang perceraian salahsatunya memang karena kawin muda. Artinya mental, sosial dan ekonomi belum cukup matang untuk menjalani kehidupan berumah tangga.
“Remaja yang menikah di usia dini belum mampu mengelola sebuah keluarga. Mereka masih berpikir inpulsif. Remaja masih bertindak semaunya tanpa memikirkan akibatnya. Siapa yang repot, pasti mereka sendiri,”kata Rosni.
Karenanya dalam kesempatan itu, Rosni mengimbau pelajar di SMAN 1 Lage agar dapat meneruskan pendidikan minimal hingga jenjang sarjana. Dan jika saatnya menikah, maka usia idealnya 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki.
Demikian halnya pacaran. Rosni menyebut, pacaran hanya akan menghentikan pendidikan. Tumbuhkan prinsip dalam diri, bahwa pendidikan lebih penting dari pacaran ataupun menikah usia dini.
Perempuan kata dia tidak boleh mudah terbuai janji janji manis tentang indahnya pernikahan.
“Karena dalam 10 atau 20 tahun kedepan, kalian akan menggantikan kami sebagai pelanjut perjuangan. Pendidikan itu penting,” ujarnya.
Sosialisasi pembangunan keluarga diikuti 200 siswa-siswi bersama jajaran guru. Kegiatan ini semarak dengan pembangunan doorprize seperti sepeda gunung, magic jar, dispenser, setrika, dan ponsel android.
Anggota DPRD Poso, Mercy Hande, mewakili anggota Komisi IX DPR Verna Inkiriwang, mengatakan, pacaran sangat merugikan perempuan.
“Pacaran bebas sangat tidak menguntungkan. Apalagi bagi perempuan. Perempuan kalau dijanji-janji kadang-kadang lupa daratan. Hindari itu,”pungkasnya.(**/mdi/palu ekspres)






