PALU EKSPRES, DONGGALA- Gedung sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTS) Alkhairaat Desa Alindau, Kecamatan Sindue Tobata, Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah kini tampil kinclong. Ruang-ruang kelas serta ruang guru terlihat mewah. Mobilernya baru, lengkap dengan fasilitas penunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah ini.
Sebelumnya, siswa-siswi MTS teramat kesulitan mencari naungan hanya untuk sekedar melangsungkan kegiatan belajar mengajar. Sebuah bangunan bekas mushallah reot yang tidak terpakai, terpaksa mereka gunakan. Mushallah inipun sebenarnya ruangan bekas kandang kambing. Tak jarang pula para guru harus membawa serta murid-muridnya untuk berpindah-pindah untuk belajar. Kadang dibawah pohon besar. Bahkan kerap kali meminjam teras rumah warga.
Kini muridnya bisa nyaman belajar. Para guru pun tak lagi kawatir jika cuaca sedang tidak bersahabat.
Sebuah bangunan sekolah telah berdiri menggantikan kandang kambing dan mushallah tua. Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) III Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) membantu pihak sekolah untuk membangun gedung baru. Selain itu Hiswana Migas juga membangun sebuah ruangan bagi pondok pesantren tahfidz Qur’an lengkap dengan Mandi Cuci Kakus (MCK).
Kepala MTS Alkhairaat Alindau, Afriyana Indra Dewi, merasa amat terharu atas bantuan tersebut. Dia tidak menyangka kalau ruangan belajar mewah kini telah berdiri menggantikan mushallah tua dan kandang kambing.
“Kami sebenarnya hanya ingin ruangan biasa. Asal ada tempat untuk belajar. Gedung bantuan Hiswana Migas ini terlalu megah,”kata Afriyana, haru dalam sambutannya.
Ia kemudian menceritakan bahwa keberadaan MTS Alkhairaat Sindue, ia dirikan mulanya hanya bermodal semangat pada tahun 2017. Ia berniat membangun sekolah di kampung halaman suaminya yang merupakan warga Desa Alindau. Semangat membangun sekolah ia tunaikan dengan meminjam Mushola tua, yang tidak digunakan lagi untuk ibadah.
Mushola tua itu dulunya juga merupakan kandang kambing. Afriyana kemudian mengubahnya dengan menyediakan meja dan kursi untuk 13 muridnya. Saat bencana 28 September 2018, mushola ini roboh dan tidak bisa digunakan. Afriana sempat berniat membubarkan sekolah karena tidak memiliki daya lagi untuk menyiapkan sarana dan prasarana. Namun 13 muridnya menolak dan ingin tetap bersekolah meski tidak memiliki bangunan. Semangat muridnya ini pun kemudian menumbuhkan keinginannya untuk melanjutkan belajar mengajar, meski dibawah pohon.
“Usai gempa, sebelum ada tenda darurat yang diberikan oleh dinas sosial, saya dan murid bersekolah dibawah pohon pak. Dulunya mau saya bubarkan, karena memang sudah tidak ada lagi sarananya,”ujar Afriana menceritakan kisah pilu tersebut.
Afriana mengaku mimpi dengan bantuan yang begitu besar diberikan ini. Bahkan kata dia, sekolah MTS ini menjadi salah satu sekolah favorite di Kecamatan Sindue, Donggala. “Dulu murid saya diteriaki sekolah kandang kambing, tapi sekarang alhamdulilah kami kelebihan murid pak,” katanya.
Namun masih ada yang kurang kata Afriana. Hampir seluruh tenaga pengajar tidak mendapat upah sama sekali dari sekolah ini. Ia mengajak rekan gurunya untuk mengajar tanpa pamrih, dan menerima tawaran itu. Afriana pun berharap mereka semua mendapat perhatian dari pemerintah maupun organisasi yang bisa memberikan Corporate Social Responsibility (CSR) bagi para pengajarnya.
“Tapi kami sudah sangat bersyukur dengan bantuan ini. Semoga dari Hiswana Migas bisa terus membimbing kami, atau mungkin kalau bisa CSR nya juga bisa diberikan ke kami sedikit pak,”tambahnya.
Tahun ini merupakan tahun ajaran ke 3 MTS berjalan. Tahun 2018 sebelum gempa siswa MTS sudah mencapai 51 orang. Kini setelah punya gedung baru, siswa MTS Alkhairaat bertambah menjadi 98 orang. Afriyana mengaku, MTS Alkhairaat di Desa Alindau merupakan satu-satunya sekolah berbasis agama Islam di Kecamatan Sindur Tobata, Donggala. Karena itu ia berharap keberadaan sekolah ini kedepan menjadi benteng aqidah bagi generasi mudah di desa itu.
“Kita perlu memikirkan bagaimana anak-anak, generasi kita di sini untuk tetap dekat dengan agama,”tandasnya.
Ketua DPD III Hiswana Migas Juan Tarigan mengatakan, bantuan ini merupakan bentuk kepedulian dari pengurus terhadap pemulihan pendidikan pasca bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah. Bukan hanya sekolah, pihaknya juga menyiapkan sarana dan prasarana, yakni meja dan kursi, lemari sekolah, air bersih, papan tulis, meja bola pimpong, infokus dan komputer untuk menunjang aktifitas sekolah itu. Untuk ekstrakurikuler, pihaknya juga membantu penyediaan alat seni samra dan sound sistem buat pihak sekolah.
Semua merupakan hasil sumbangan dari 14 DPC Hiswana Migas dibawah hirarki DPD III. 14 DPC itu adalah, DKI Jakarta, Tanggerang, Banten, Purwakarta, Bekasi , Depok, Bogor, Sukabumi, Cianjur , Subang, Cirebon, Garut, Bandung – Sumedang dan Priangan Timur.
Menurutnya kehadiran sekolah ini, pendidikan generasi di Desa Alindau, Kabupaten Donggala ini bisa lebih baik lagi. “Kita berharap semakin baik dengan kehadiran kami,” kata Juan. Iapun berharap, para guru MTS tetap Istiqomah dan tulus mengabdikan untuk pendidikan agama di sekolah itu. Sebagaimana niat awal pendirinya, Afriyana, membangun generasi pencetak kader terbaik bangsa.
Karena menurutnya bantuan Hiswana Migas pun sesungghunya bantuan dari Allah SWT yang disampaikan melalui Hiswana Migas. Hak itu merupakan jawaban karena niat tulus dan ikhlas para pengurus MTS. “Kami berharap sekolah ini jangan dikomersilkan. Insyaallah, kami akan kembali memberi bantuan agar sekolah tetap berjalan dengan baik,”demikian Juan Tarigan. (mdi/palu ekspres)






