PALU EKSPRES, PALU – Bank Indonesia (BI) telah memastikan kesiapan dan ketersediaan instrumen pembayaran baik tunai maupun non tunai menjelang hari Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2019.
Dari segi pembayaran tunai, BI memperkirakan kebutuhan uang pada Desember 2019 akan mencapai Rp 1,56 triliun (UPB 96.05persen dan UPK 3,95persen) tumbuh 26.56persen year on year (yoy) dari realisasi Desember 2018 yakni Rp1,24 triliun.
Dengan estimasi tersebut, BI menjamin ketersediaan uang rupiah Iayak edar kepada masyarakat. Perbankan juga menjamin ketersediaan uang Iayak edar melalui ATM dan layanan perbankan lainnya.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Tengah, Abdul Majid Ikram menjelaskan, estimasi kebutuhan uang menjelang Nataru di wilayah Sulteng diperoleh atas atensi kebutuhan uang pihak Perbankan sebagai bentuk antisipasi transaski keuangan yang terjadi dalam momentum tersebut. “Permintaan bank. Karena ada beberapa yang menambah ATM,”jelas Abdul Majid, Selasa 17 Desember 2019.
Dari segi alat pembayaran non tunai, BI juga telah mempersiapkan infrastuktur andal yang siap menunjang transaksi selama Nataru. Seperti sistem kliring Bank Indonesia (SKNBI), RTGS, dan standarisasi QR yang telah diluncurkan Agustus 2019 lalu atau dikenal sebagai QRIS.
Untuk mengoptimalisasi layanan pembayaran non-tunai, SKNBI saat ini kata Majid, sapaan akrabnya telah mengakomodasi 9 kali settlement per hari. Yakni tiap 1 jam sekali, dengan batas maksimum transfer dana dalam sekali pengiriman Rp1 miliar.
Biaya transaksi SKNBI kata dia juga telah mengalami penyesuaian yakni sebesar Rp 3500,00 per transfer. Transfer dana dengan SKNBI tersebut bisa dilakukan melalui aplikasi mobile banking. Sangat cocok untuk masyarakat yang ingin melakukan jual beli barang dengan niIai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Sementara untuk transaksi ritel atau transaksi dengan nominal di bawah 2 juta rupiah, masyarakat saat ini juga bisa menikmati kemudahan bertransaksi menggunakan QR Code yang telah distandarisasi BI atau Quick Response Indonesian Standard (QRlS).
Sistem ini menurutnya memungkinkan masyarakat untuk melakukan pembayaran melalui berbagai aplikasi yang dikeluarkan oleh jasa sistem pembayaran demgan satu kode QR. “Saat ini telah terdapat kurang lebih 1.500 merchant / titik transaksi menggunakan QRIS,”ujarnya.
Dalam momentum Nataru, BI jelasnya mengubah layanan jam operasional kegiatan Perbankan yang disesuaikan dengan libur nasional. Layanan ini akan kembali normal pada 2 Januari 2020 mendatang.
Contohnya operasional kliring. Layanan ini akan tutup pada 24 sampai 25 Desember 2019 karena libur nasional. Oleh sebab itu beberapa Perbankan menyiapkan sarana ATM.
“Kami meminta bank pada tanggal itu mengisi ATM sebagai antisipasi karena kliring tidak bisa dilaksanakan pada tanggal itu,”jelasnya.
Selain mengantisipasi kebutuhan uang, BI Sulteng juga telah berkoordinasi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan Satuan Tugas (Satgas) Pangan dalam mengantisipasi kebutuhan bahan pangan jelang Nataru. Dari koordinasi bersama itu, BI memperkirakan terjadi penurunan jumlah produksi tanaman pangan dan hortikultura karena faktor cuaca. Selain karena faktor irigasi yang belum berjalan optimal.
Produksi tanaman pangan yang diperkirakan menurun yakni beras, bawang merah, cabai besar dan cabai rawit serta ikan segar. Namun untuk bawang merah, cabai diperkirakan stoknya masih tergolong aman untuk penuhi kebutuhan masyarakat. “Sedangkan untuk beras, stok beras Bulog diperkirakan masih mencukupi untuk kebutuhan hingga 5 bulan kedepan,”demikian Majid. (mdi/palu ekspres)






