Oleh : Nur SANGADJI (muhdrezas@yahoo.com)
BAGIAN II
Sekarang, mari kita menyoal kata-kata “hidup di era”. Nadim bilang, kita hidup di era di mana ijasah tidak menjamin kompetensi. Di sini kita bicara tentang dimensi waktu. Ada dua kondisi waktu yang berbeda tentang objek yang dinilai. Kongkrit atau sedikit vulgar. Hemat saya, beliau mau bilang, dahulu kala bagus, tapi sekarang..? Kira-kira begitulah cara saya membacanya.
Gelar tidak menjamin kompetensi. Lagi-lagi, ini pernyataan yang oratoris dan sangat biasa, dengan alasan. Pertama, menunjukkan fakta bahwa ada atau banyak lulusan kita yang tidak kompeten bukan..?. Kedua, mendorong kita agar proses edukasi di dunia akademik dipacu dengan sungguh-sungguh.
Sebagai guru, saya tidak perlu malu mengakuinya. Ambilah contoh, satu saja. Bahasa Inggeris yang diajarkan selama minimal 12 tahun sejak SMP. Apa yang telah diperoleh murid dan mahasiswa kita ? Saya menduga kurang dari 10 persen anak anak Indonesia bisa berbahasa Inggeris dengan baik. Padahal, mereka semua telah mengantongi ijasah.
*******
Bandingkan, anak-anak Malaysia yang sekolah ke luar negeri. Mereka langsung masuk ke ruang kuliah. Sementara, anak-anak kita mencari tempat kursus bahasa lagi. Memang, mereka negeri “Commenwealth nation”. Tapi, bukankah Inggeris sudah lama pergi. Masalahnya, ada pada teknik mengajar dan pembiasaannya. Anak-anak kita, akhirnya kalah berkompetisi dengan waktu.
Selanjutnya, mohon maaf, sedikit subjektif. Saya dan kawan-kawan yang belajar bahasa Prancis tahun 1994 di CCF (centre culture Francais) yang telah berubah menjadi IFI (institute Francais d’Indonesie). Belajar 3 bulan, dinyatakan lulus, langsung studi ke Prancis. Semua sudah sukses. Ada yang telah Professor, Dekan, Rektor bahkan Atase Pendidikan di UNESCO yang sekarang. Sementara Bahasa Perancis dalam pikiran saya, lebih sulit dari bahasa Inggeris.
Tiga bulan belajar bahasa Perancis, sandingkan dengan 12 tahun belajar bahasa Inggeris. Lantas, apa yang keliru dan perlu dibenahi di sini..? Pikir saya, konsep, strategi, teknik, dan atmosfir pembelajaran.
*******
Saya berpandangan bahwa pada saat lulus SD, anak-anak sudah bisa bercakap bahasa Inggeris. Dua anak dari sahabat saya, Dosen Tadulako yang besar di Jerman, selama hanya kurang lebih 3 tahun. Mereka berdua bisa fasih berbahasa Inggeris. Dan ingat, Jerman bukanlah negara berbahasa Inggeris. Anak-anak itu pun masih taman kanak-kanak. Mereka malah yang selalu memperbaiki “pronounsation” sang ayahnya. Satu keluarga ini, akhirnya bisa berbahasa Jerman dan Inggeris saat pulang ke Palu.
Karena itu, ketika Nadim bilang, bahasa Inggeris ini tuntas di SD. Saya sangat memaklumi. Tapi, saya toleransikan untuk SMP dan SMA, lanjutankan bahasa Inggerisnya pada “writing and grammar”. Sedangkan, “conversation and reading” sudah matang saat SD.
Waktu, belajar bahasa Perancis, guru saya (madame Anna), di Montpelier, Perancis Selatan pernah bilang. Pemahaman terhadap grammar akan mengikuti kemampuan percakapan kita. Karena itu, jangan terlalu mengkuatirkannya. Saya membuktikan kebenaran kata-kata beliau beberapa waktu kemudian. Fakta lainnya, kita dan orang Inggeris yang sudah hebat berbahasa Indonesia dan Inggeris. Bila diuji tentang grammar masing-masing bahasa tersebut, saya yakin belum tentu lulus.
*******
Atas semua ini, saya berkeyakinan, kesalahan kita adalah mengajarkan grammar ini pada hari pertama anak kita belajar bahasa. Kesalahan kedua, dengan demikian, kita sesungguhnya tidak mengajari bahasa Inggeris. Namun, mangajari mereka menjadi ahli bahasa Inggeris. Dan konsekwensinya, yang bisa pasti hanya sedikit.
Tidak percaya ? Coba periksa ahli apa saja di seluruh dunia ini. Selalu hanya sedikit. Semua orang Inggeris, bisa berbahasa Inggeris. Tapi, yang ahli bahasa Inggeris di tanah Inggeris sendiri, tidaklah banyak. Begitu juga, di Indonesia yang semua orang relatif bisa berbahasa Indonesia. Ahli bahasa Indonesia yang kita ingat hingga kini, hanya satu orang. Dialah, Yusup Syarif Badudu yang populer dipanggil Yus Badudu asal Gorontalo.
*******
Ini baru urusan bahasa Inggeris. Bagaimana dengan kedokteran. Teknik, sosial politik, pertanian dan seterusnya. Kita bahkan akan memproduksi malapetaka yang lebih dahsyat. Apalagi kalau proses akademiknya dirancang dengan curang berbau mafioso (academic crime). Bayangkan, kampus akan melahirkan dokter yang rajin bikin mal praktek. Ahli konstruksi bangunan yang rawan rontok, dan seterusnya. (Bersambung ke Bahagian III). ***






