Minggu, 9 Agustus 2026
Opini  

Nadim, Teruslah Mendobrak

Oleh : Nur SANGADJI  (muhdrezas@yahoo.com)

 

BAGIAN II

Sekarang, mari kita menyoal kata-kata “hidup di era”.  Nadim bilang, kita hidup di era di mana ijasah tidak menjamin kompetensi. Di sini kita bicara tentang dimensi waktu. Ada dua kondisi waktu yang berbeda tentang objek yang dinilai. Kongkrit atau sedikit vulgar. Hemat saya, beliau mau bilang, dahulu kala bagus, tapi sekarang..? Kira-kira begitulah cara saya membacanya. 

Gelar tidak menjamin kompetensi. Lagi-lagi, ini pernyataan yang oratoris dan sangat biasa, dengan alasan. Pertama, menunjukkan fakta bahwa ada atau banyak  lulusan kita yang tidak kompeten bukan..?.  Kedua, mendorong kita  agar proses edukasi di dunia akademik dipacu dengan sungguh-sungguh. 

Sebagai guru, saya tidak perlu malu mengakuinya. Ambilah contoh, satu saja. Bahasa Inggeris yang diajarkan selama minimal 12 tahun sejak SMP.  Apa yang telah diperoleh murid dan mahasiswa kita ? Saya menduga kurang dari 10 persen anak anak Indonesia bisa berbahasa Inggeris dengan baik. Padahal, mereka semua telah mengantongi ijasah.

*******

Bandingkan, anak-anak Malaysia yang sekolah ke luar negeri. Mereka langsung masuk ke ruang kuliah. Sementara, anak-anak kita mencari tempat kursus bahasa lagi. Memang, mereka negeri “Commenwealth nation”. Tapi, bukankah Inggeris sudah lama pergi. Masalahnya, ada pada teknik mengajar dan pembiasaannya. Anak-anak kita, akhirnya kalah berkompetisi dengan waktu. 

Selanjutnya, mohon maaf, sedikit subjektif. Saya dan kawan-kawan yang belajar bahasa Prancis tahun 1994 di CCF (centre culture Francais) yang telah berubah menjadi IFI (institute Francais d’Indonesie).  Belajar 3 bulan, dinyatakan lulus, langsung studi ke Prancis. Semua sudah sukses. Ada yang telah Professor, Dekan, Rektor bahkan Atase Pendidikan di UNESCO yang sekarang. Sementara Bahasa Perancis dalam pikiran saya, lebih sulit dari bahasa Inggeris. 

Tiga bulan belajar bahasa Perancis, sandingkan dengan 12 tahun belajar bahasa Inggeris. Lantas, apa yang keliru dan perlu dibenahi di sini..? Pikir saya, konsep, strategi, teknik,  dan atmosfir pembelajaran.

*******

Saya berpandangan bahwa pada saat lulus SD,  anak-anak sudah bisa bercakap bahasa Inggeris. Dua anak dari sahabat saya, Dosen Tadulako yang besar di Jerman, selama hanya kurang lebih 3 tahun. Mereka berdua bisa fasih berbahasa Inggeris. Dan ingat, Jerman bukanlah negara berbahasa Inggeris. Anak-anak itu pun masih taman kanak-kanak. Mereka malah yang selalu memperbaiki “pronounsation” sang ayahnya.  Satu keluarga ini, akhirnya bisa berbahasa Jerman dan Inggeris saat pulang ke Palu. 

Karena itu,  ketika Nadim bilang, bahasa Inggeris ini tuntas di SD. Saya sangat memaklumi. Tapi, saya toleransikan untuk SMP dan SMA, lanjutankan bahasa Inggerisnya pada “writing and grammar”. Sedangkan, “conversation and reading” sudah matang saat SD. 

Waktu, belajar bahasa Perancis, guru saya (madame Anna), di Montpelier, Perancis Selatan pernah bilang. Pemahaman terhadap grammar akan mengikuti kemampuan percakapan kita. Karena itu, jangan terlalu mengkuatirkannya. Saya membuktikan kebenaran kata-kata beliau beberapa waktu kemudian.  Fakta lainnya, kita dan orang Inggeris yang sudah hebat berbahasa Indonesia dan Inggeris. Bila diuji  tentang grammar masing-masing bahasa tersebut, saya yakin belum tentu lulus. 

*******

Atas semua ini, saya berkeyakinan, kesalahan kita adalah mengajarkan grammar ini pada hari pertama anak kita belajar bahasa. Kesalahan kedua, dengan demikian, kita sesungguhnya tidak mengajari bahasa Inggeris. Namun, mangajari mereka menjadi ahli bahasa Inggeris. Dan konsekwensinya, yang bisa pasti hanya sedikit. 

Tidak percaya ? Coba periksa ahli apa saja di seluruh dunia ini. Selalu hanya sedikit. Semua orang Inggeris, bisa berbahasa Inggeris. Tapi, yang ahli bahasa Inggeris di tanah Inggeris sendiri, tidaklah banyak. Begitu juga, di Indonesia yang semua orang relatif bisa berbahasa Indonesia. Ahli bahasa Indonesia yang kita ingat hingga kini, hanya satu orang. Dialah, Yusup Syarif Badudu yang populer dipanggil Yus Badudu  asal Gorontalo. 

*******

Ini baru urusan bahasa Inggeris. Bagaimana dengan kedokteran. Teknik, sosial politik, pertanian dan seterusnya. Kita bahkan akan memproduksi malapetaka yang lebih dahsyat. Apalagi kalau proses akademiknya  dirancang dengan curang berbau mafioso (academic crime). Bayangkan, kampus akan melahirkan dokter yang rajin bikin mal praktek. Ahli konstruksi bangunan yang rawan rontok, dan seterusnya. (Bersambung ke Bahagian III). ***

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital
Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Platform Permainan Daring Modern Terbentuk Dari Blockchain Dan Big Data
Skalabilitas Game Online Di Tengah Pertumbuhan Pengguna Digital Global Didukung Infrastruktur Cloud Native
Transparansi Ekosistem Game Online Berbasis Teknologi Masa Kini Didukung Blockchain Modern Dan Smart Contract
Ekosistem Game Modern Yang Lebih Terhubung Terbentuk Dari Integrasi Internet Of Things Dan Artificial Intelligence
Industri Game Modern Menyesuaikan Layanan Dengan Perubahan Perilaku Digital Berkat AI Berbasis Prediksi
Performa Game Multiplayer Meningkat Melalui Teknologi Edge Computing Dengan Pemrosesan Data Lebih Cepat
Platform Game Multiplayer Mengantisipasi Ancaman Siber Lebih Efektif Berkat Cyber Intelligence Modern
Pengembangan Game Modern Menjadi Lebih Fleksibel Dan Adaptif Berkat Artificial Intelligence Berbasis Cloud
Transformasi Digital Perusahaan Skala Kecil Dan Menengah Dipercepat Melalui Pengembangan Aplikasi Low Code
Visibilitas Konten Pada Google Discover Meningkat Secara Organik Berkat Strategi Search Engine Optimization