Minggu, 9 Agustus 2026
Opini  

Bencana Kebakaran

Oleh : Nur Sangadji (muhdrezas@yahoo.com)

BENCANA itu punya dua penyebab. Satu, murni alamiah seperti erupsi gunung api atau gempa bumi. Dua, murni akibat perbuatan manusia. Ada juga gabungan, alamiah tapi diakselerasi perbuatan manusia. Baru sehari kita berada di tahun baru 2020. Jakarta terendam banjir lagi. Lagi, Karena ini sudah sering. Intensitas hujan yang tinggi, berpadu dengan tindakan manusia di bumi memperparah kejadian. Dan, ini terus berulang hingga kini. Sebelumnya, kita alami kebakaran hutan yang juga berulang. Tapi, ada bencana yang dekat dengan keluarga namun kurang mendapat perhatian, yaitu kebakaran rumah.

Satu ketika, kepala dinas pemadam kebakaran kota Palu membagi pikiran saat ditanya seputar musibah kebakaran. Dia bilang, Respon Damkar sangat terkait dengan beberapa hal. Sudaryano Lamangkona, sang Kadis yang energik ini seolah ingin mengajak publik untuk merenung tentang karut marut urusan bencana kebakaran. Pertama, cepatnya informasi yang masuk; Kedua, Situasi lalu lintas;

Ketiga, kondisi lapangan pada objek terbakar; Keempat, sarana dan prasarana penunjang; Kelima, partisipasi warga yang tidak menjadikan kebakaran sebagai tontonan dan wisata.
Tentu, ini pikiran seorang Kepala Dinas berdasarkan pengetahuan dan pengalaman beliau selama ini. Analisis beliau itu mesti mendorong kita untuk perbaiki cara kita berfikir tentang pembangunan. Dia harus berciri komprehensip, integratif dan holistik. Sebab itu maka, mendiskusikan kebakaran, tidak sama persis dengan mendiskusikan dinas pemadam kebakaran. Dua hal yang tidak berbeda sekali, tapi juga tidak sama persis. Satunya bermakna isu. Sedangkan satunya lagi adalah sektor atau institusi. Soal, yang ini belum tuntas dalam kerja koordinasi birokrasi hingga kini.

Nanti, ketika kita serius berfikir. Kita baru akan temukan. Ternyata, kebakaran itu adalah juga, soal “trafic flow” yang bukan urusan Damkar. Soal, perumahan dan kualitas fasilitas, seperti lebar jalan misalnya. Ini juga bukan urusan Damkar. Dan, soal lain yang sama sekali tidak punya relasi instruktif atau tupoksi dengan Dinas Pemadam kebakaran.
Satu soal yang sangat terkait adalah kesiapan dan kesigapan insan insan Damkarnya. Dan, ini yang saya tulis di buku saya “Helai Daun Sakura”. Di satu bagiannya, saya tulis tentang bunyi sarine disamping Pusat latihannya JICA di Kota Tokyo. Satu bulan saya menginap di sini pada tahun 2004. Bunyi Sarine itu selalu hadir. Saya bertanya, mengapa begitu lama. Ternyata semua RT di jepang, dilatih hadapi kebakaran.

Inilah lesson learned bagaimana negara itu membangkitkan kesiapan, kesigapapan dan kepekaan hadapi bencana. Bernama, kebakaran. Mereka berusaha menekan “Human error” pada tingkat yang paling rendah. Latihan dan sosialisasi kesiap- siagaan menjadi agenda rutin berjangka waktu tertentu. Ini dilakukan untuk menjaga kepekaan atas bencana (sensitive of disaster).

Di negara modern, pemadam kebakaran relatif tidak banyak kerja karena kesadaran masyarakat tumbuh oleh upaya sungguh-sungguh. Dukungan teknologi pencegahan dan informasi sudah mumpuni. Karena itu, peristiwa kebakarannya sendiri menjadi minim.
Barangkali karena kurang kerjaan, suatu ketika institusi pemadam kebakaran di Perancis terlibat rekayasa untuk mendapatkan pekerjaan. Rekayasa yang merupakan skandal memalukan itu berlangsung sekitar tahun 1996. Peristiwanya terjadi di kota Montpelier Perancis selatan. Ini adalah salah satu kawasan terpanas di wilayah mediterania. Dikenal dengan istilah “region de midi”.

Midi itu bermakna tengah hari, menggambarkan suasana panas. Di kawasan ini, kebakaran hutan paling sering terjadi. Hingga satu saat di tahun 1996 itu, terungkap skandal besar yang menghebohkan. Ternyata, hutan yang terbakar itu, sengaja dibakar sendiri oleh pihak pemadam kebakaran. Mungkin, agar mereka mendapat proyek pemadaman kebakaran. Di tempat kita, tidak butuh rekayasa karena kebakaran hampir saban waktu terjadi. Berbedanya, meskipun frekwensi kejadiannya tinggi, tapi curahan perhatiannya (political will dan political budgeting) boleh jadi, amatlah minim. Maka, hanya kesadaran masyarakat dan dedikasi yang tinggi dari petugaslah yang mampu menyelamatkan negeri kita dari bencana kebakaran.Wallahualam bi syawab. ***

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital