PALU EKSPRES, PARIGI – Diperkirakan sekitar 1700 hektar sawah di Kecamatan Moutong, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) tidak berproduksi. Penyebabnya, sedimen lumpur dari lokasi tambang emas yang sudah masuk ke areal persawahan yang ada di wilayah setempat.
Hal itu disampaikan Anggota DPRD Parimo, Arifin Dg. Palalo saat rapat paripurna penyampaian hasil reses di ruang rapat DPRD Parimo, Rabu 8 Januari 2020.
Menurut Arifin, kondisi tersebut hingga saat ini terus disuarakan oleh petani yang ada di Kecamatan Moutong. Bahkan, saat ini para petani di Moutong meras frustasi terhadap hasil produksi sawahnya yang tidak lagi sesuai harapan.
“Karena sampai saat ini curahan hati mereka kepada kami, sebab mendapatkan 500 kilo saja dalam satu hektare itu susah untuk memenuhi kebutuhan makan mereka,” kata Arifin meneruskan keluhan para petani tersebut.
Olehnya kata Arifin, aspirasi para petani tersebut bisa segera ditindaklanjuti oleh pemerintah. Termasuk Komisi III DPRD Parimo yang membidangi hal ini.
“Kami undang ke sana untuk hadir dan melihat langsung bagaimana keadaan dan kondisi sawah yang ada di Moutong,” ujarnya.
Arifin mengungkapkan, berdasarkan hasil penelusuran di lapangan saat reses, salah satu penyebab sawah di Moutong kurang optimal lagi berproduksi adalah material lumpur yang begitu banyak masuk di areal persawahan. Lumpur ini berasal dari lokasi pertambangan emas yang dikelola oleh warga Negara Korea di wilayah tersebut.
“Jadi lumpur itu disebabkan oleh tambang yang hari ini dikelola oleh Korea dan jaraknya kurang lebih 100 meter dari irigasi,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, memang persoalan tambang adalah kewenangan Pemerintah Provinsi Sulteng. Tetapi masyarakat di kabupaten ini yang mendapatkan dampak dari persoalan tersebut.
“Sehingga masyararakat kita di sana sangat susah untuk mendapatkan hasil sawah yang mereka harapkan,” sebut Arifin. (asw/palu ekspres)






