PALU EKSPRES, DONGGALA – Tiga gadis remaja warga Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah tampak cekatan melayani setiap orang yang datang membeli olahan pisang ubinya. Mereka bergantian. Dengan sigap mengupas pisang, lalu dilumuri adonan tepung. Sementara yang lain, langsung menyambut untuk dicelupkan ke dalam wajan mendidih.
Di atas meja telah siap adonan sambal cabai. Pelengkap gorengan pisang dan ubi. Sebentar kemudian, pesanan dalam kantong plastik sudah ditangan pembeli. Ketiganya pun tidak terlihat canggung. Sangat percaya diri seolah terbiasa. Kegiatan jual beli olahan pisang diatas menjadi salah satu pemandangan diantara deretan stand pameran di Lapangan Desa Lompio Kecamatan Sirenja, Donggala Sulteng, Sabtu 8 Februari 2020.
Di tempat ini sedang berlangsung festival dan pameran yang diselenggarakan Save The Children. Festival diramaikan perlombaan-perlombaan dan hiburan bagi anak. Sedang pameran dikonsep dengan menampilkan segala program kemanusiaan yang telah dilaksanakan Save The Children sejak tanggap bencana kurang lebih 15 bulan belakangan.
Tiga gadis remaja ini adalah sekian dari 250 anak yang dijangkau Save The Children melalui program pelatihan kewirausahaan. Di antara anak-anak yang ikut program ini terdapat anak putus sekolah, yang sekaligus menjadi korban langsung bencana 28 September 2018 silam.
Senior Field Manager/Humanitarian Director sekaligus Kepala Kantor Save the Children di Donggala, Wiwied Trisnadi menyebut, pelatihan wirausaha diberikan dalam bentuk pelatihan tata boga, tata busana, salon dan montir untuk wirausaha perbengkelan.
Menurut dia, program pelatihan tersebut akan terus berproses hingga program Save the Children di Kabupaten Donggala berakhir pada September 2020 nanti.
“Tujuan kita agar anak-anak putus sekolah ini bisa memiliki kesempatan hidup yang lebih baik, “kata Wiwied.
Menurut dia, sebagai langkah awal agar anak-anak termotivasi untuk membuka usaha adalah dengan mengikuti kegiatan festival dan pameran. Agar olahan yang mereka buat bisa langsung dipasarkan ke masyarakat yang hadir mengunjungi kegiatan ini. “Kamipun menjadi konsumen mereka,. Agar mereka bisa percaya diri dan optimis untuk memasarkan usaha tata boga yang mereka jalankan,” ujarnya.
Namun program latihan kewirausahaan yang telah dilakukan Save the Children, tidak terputus setelah nanti program berakhir di Kabupaten Donggala. Pihaknya jelas Wiwied, telah menjalin kemitraan dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Kecamatan Sirenja. Kedepan setelah program berkahir, BUMDES diharap memberi pendampingan bahkan pemberdayaan.
Bukan saja terhadap pengembangan hasil pelatihan pada anak, namun terhadap seluruh program-program pemberdayaan masyarakat yang telah dirancang berkelanjutan. “Kami bermitra BUMDES karena punya legalitas untuk itu,”paparnya.
Pascabencana lanjut Wiwied, Save The Children yang merupakan merek Yayasan Sayangi Tunas Cilik telah melaksanakan program kemanusiaan di Donggala sejak Oktober 2018. Wilayah yang menjadi sasaran program yaitu Kecamatan Balaesang, Balaesang Tanjung dan Kecamatan Sirenja.
Tercatat sudah sebanyak 400 unit hunian sementara (Huntara) insitu, tersebar di tiga kecamatan itu. Merehabilitasi 20 gedung sekolah. Membangun 62 ruang belajar dan 3 ruang bermain anak. Kemudian 15 ruang belajar telah mendapatkan perbaikan berat (retrofitting) dan 21 sekolah telah mendapatkan perbaikan ringan ruang kelas. Dimasa tanggap darurat, save the children juga memberi bantuan uang tunai kepada sebanyak 6.290 kepala keluarga di tiga kecamatan. Setiap keluarga mendapat Rp 1,5juta.
Kepada nelayan, Yayasan Sayangi Tunas Cilik membantu alat tangkap dan mesin lengkap dengan perahu. Bantuan ini menyasar sedikitnya 40 kelompok nelayan. Sementara untuk petani, pihaknya menyalurkan bantuan berupa hand tractor, bibit tanaman hingga peralatan semprot.
“Program kepada nelayan dan petani ini kita tujukan untuk merehabilitasi mata pencaharian mereka setelah terdampak bencana,”demikian Wiwied.
Tak kalah membantu adalah pelayanan gratis adiministrasi kependudukan. Dalam festival dan pameran program, save the children bekerjasama Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil setempat selama kegiatan berlangsung, Jumat sampai Sabtu 8 Februari 2020.
Kantor Kepala Desa Lompio didatangi ribuan warga dari tiga kecamatan untuk mengurus penerbitan kartu keluarga, akte kelahiran dan kartu identitas anak. Di hari -hari biasa layanan ini sebenarnya dibuka oleh unit pelaksnana teknis daerah (UPTD) Dinas Dukcapil Donggala di tiga kecamatan.
Namun setelah bencana, khususnya UPTD Kecamatan Sirenja, layanan ini kurang berjalan optimal. Kantor UPTD mengalami kerusakan hingga tak layak pakai. Urusan administrasi kependudukan untuk sementara dilakukan langsung di rumah pejabat kepala UPTD.
Namun begitu, inipun tak cukup efektif. Kepala UPTD masih harus bolak balik ke Kantor Dinas Dukcapil untuk kepentingan pencetakan. Selama kegiatan, kurang lebih 253 lembar kartu keluarga berhasil tercetak. Kemudian 279 kartu identitas anak. 460 lembar akte kelahiran dan 3 lembar akte kematian.
Aminah, Warga Desa Tanjung Padang Kecamatan Sirenja mengaku sangat terbantu dengan layanan gratis tersebut. Menurut dia, selama ini, urusan administrasi kependudukan sulit dilakukan. Karena dirinya harus bolak balik hingga ke kantor Dinas Dukcapil di ibu kota Kabupaten Donggala. “Setidaknya kita tidak keluar banyak uang bensin. Karena jarak pelayanan sangat dekat tempat tinggal,”katanya. (mdi/palu ekspres)






