Selasa, 19 Mei 2026
Opini  

You, What You Eat

Muh. Nur sangadji

Oleh  Nur Sang Adji

Di suatu pagi, saya urus pisang yang dipanen di halaman rumah saya beberapa hari lalu. Begitu serius, hingga saya lalai merespon catatan pendeknya karib saya, Saleh, tentang ekonomi dan pertanian. Pisang itu, sebahagiannya telah saya bagi kepada mahasiswa. Setengahnya lagi tertutup karung dan saya alpa, sehingga separuh dari setengahnya membusuk.

Pisang yang busuk, saya kubur untuk pengayaan bahan organik tanah. Dan, yang masih bagus, saya bawa ke satu hotel di Palu sebagai bahan demonstrasi di dapan peserta. Mahasiswa se Kota Palu untuk gerakan anti narkoba bersama BNN. Saya ilustrasikan kekayaan tanah kita untuk produksi. Ada di desa maupun di kota. Mengapa tergiur Narkoba, bila produk pertanian halal berlimpah untuk konsumsi dan hasilkan rupiah.

***
Adalah Brillat Savarin, ahli hukum dan Gizi asal Perancis yang bilang. “Dit mois que est ce que vous mangez, et je vous dit qoui est vous”. “Bilang pada saya apa yang kamu makan dan saya akan bilang siapa kamu sebenarnya”. Jadi, kita mengkonsumsi apa, menentukan siapa kita sesungguhnya.

Konsumsi menjadi salah satu dari tiga ukuran penting dalam ketahanan pangan, disamping produksi dan distrubusi. Konsumsi juga menjadi alat ukur ekonomi, bersama investasi, export-import dan lainnya. Sering kali, konsumsi tidak terpenuhi bukan karena tidak ada produksi, tapi karena gagal jangkau karena mandek distribusi atau melemahnya daya beli berbareng meningkatnya harga jual.

Tapi, kalau semua kita berproduksi, kemandirian telah terjawab. Meskipun baharu untuk kepentingan subsistem semata. Minimal kekuatiran akan paceklik tidak terjadi. Inilah esensinya “urban farming” yang terus didorong untuk membentuk pemahaman bahwa kota tidak berarti tidak ada pertanian.

***
Ada ahli ekonomi menyatakan ini, “if you stop to produce you will die”. Karena itu pemerintah Cina satu ketika mendorong penduduknya untuk menjadi produsen (terutama pertanian) sebanyak mungkin.
Hingga, akhirnya mereka sadar, bahwa konsumen (baca : konsumsi/konsumtif) patut hadir sebagai penyeimbang.

Ternyata, ahli ekonomi tersebut juga melanjutkan untuk ekonomi modern, “even you produce, but you can not seal it, you will also die”. Karena itu produk harus laku. Di dunia pertanian, dikenal istilah tanam, petik, jual. Belakangan masuk kata olah sebelum jual untuk dapat nilai tambah.

Di soal jual beli inilah manusia sering payah di aspek moralnya. Banyak sekali hadist mengingatkannya. Gandy meletakannya, satu dari tujuh dosa sosial (sevent social sins) yang amat dia kuatirkan. Saya menemukan wujudnya di kawasan Tamrin City sesaat silam. Ada dua penjual duku di pelataran. Satunya menuliskan 1 kg 10.000. Satunya lagi menulis 1 kg Rp 7.500. Manusiawi bila saya pilih yang murah. Tapi, waktu membayar untuk 2 kg, dia menyebutkan Rp 30.000. Ternyata, angkanya 1/2 kg seharga Rp 7.500. Tapi, angka 2 ditulis sangat kecil, nyaris tidak terlihat. Politik dagang, ternyata merambah hingga rakyat jelata.

***
Berkait konsumsi dan dagang ini, berapa tahun silam, pemerintah Cina menggeser penduduknya dari desa ke kota dalam program urbanisasi (kebalikan dengan kita, transmigrasi). Data yang saya peroleh, 400 juta per tahun didrop ke kota untuk memicu konsumsi. Tentu, agar hasil produksi dapat diserap pasar.

Baru saya sadar bahwa “golojo” alias “nadoko” alias konsumtif itu ternyata penting juga untuk kesehatan ekonomi. Tapi, kita butuh makin banyak warga yang “nadoko” dengan cerdas dan seimbang. Baik gizinya maupun jumlahnya (yang dikonsumsi dan yang diproduksi). Sebab, apa yang kita makan, mengungkap identitas kita : “you, what you eat. Entahlah. ***

 

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777

Eksplorasi Ritme Permainan Berbasis Data Real-Time Menghadirkan Perspektif Segar dalam Dunia Gaming Interaktif
Evaluasi Matematis Pola Distribusi Simbol Mahjong Ways Dalam Ekosistem Kombinasi Dengan Variasi Nonlinier
Investigasi Pola Adaptif Grid Mahjong Ways Dalam Menghasilkan Distribusi Simbol Dengan Struktur Variatif
Studi Komputasional Dinamika Interaksi Reel Mahjong Ways 3 Menggunakan Kerangka Sistem Stokastik Berkelanjutan
Adopsi Teknologi Machine Learning Menghadirkan Tren Baru dalam Pengembangan Sistem Game Interaktif Modern
Inovasi Visual dan Algoritma Dinamis Menghadirkan Dimensi Pengalaman Baru pada Platform Gaming Masa Kini
Kajian Probabilistik Ragam Kombinasi Mahjong Ways 2 Menggunakan Model Distribusi Interaktif Multilevel
Metode Statistik Adaptif Kini Menjadi Kunci Memahami Pergeseran Ekosistem Game Digital Modern
Evolusi Sistem Interaktif Masa Kini Membentuk Cara Baru Pengguna Memahami Dinamika Digital Harian
Studi Perilaku Digital Terkini Mengungkap Pergeseran Strategi Pengguna dalam Ekosistem Interaktif Modern