PALU EKSPRES, PARIGI- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parigi Moutong (Parimo) mulai menggelar ujian calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang 5.316 pelamar.
Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Parigi Moutong, Ahmad Saiful kepada wartawan, Selasa 24 Februari 2020 di lokasi ujian mengakui di hari pelaksanaan ujian masih terdapat beberapa kekurangan. Namun kegiatan sudah berlangsung dan sudah teratasi.
“Di hari pertama ini memang kita akui masih ada kendala-kendala kecil, tetapi ujianya di dalam sudah berlangsung dan sudah bisa teratasi,” ungkapnya.
Menurut dia, panitia seleksi daerah (Panselda) hanya fokus melakukan pemantauan di luar ruangan. Kemudian yang bertugas di dalam ruangan selama ujian berlangsung hanya panitia seleksi Nasional (Panselnas).
“Jadi, di dalam itu yang menangani selama pelaksanaan ujian ini hanya Panselnas dalam hal ini dalam hal ini BKN Pusat Palu, Makasar, jadi kita secara teknis mengurus administrasi Panselda dan administrasi peserta yang ada di luar dan Insya Allah ini bisa berjalan sesuai harapan,” harapnya.
Hanya saja kata dia, ada beberapa peserta dengan terpaksa ditolak masuk di ruang ujian karena terlambat. Kemudian syarat administrasi tidak terpenuhi.
“Ada beberapa peserta yang ditolak masuk. Pertama, faktor keterlambatan waktu sudah dimulai dan syarat administrasinya tidak dipenuhi ada yang tidak membawa KTP,” ungkapnya.
Sehingga, terkait hal itu kata dia adalah ranah Panselnas dan Panselda tidak bisa mengintervensi kebijakan standar operasional prosedur (SOP). Olehnya diharapkan kepada peserta kedepannya sbelum memasuki ruangan tidak bisa membawa barang lainnya selain KTP dan kartu ujian.
Sebelum masuk ruangan jelasnya, peserta tidak dibolehkan membawa uang maupun barang yang berbahan logam. Karena akan mengganggu jalannya kegiatan.
“Kenapa tidak dibolehkan bawa uang karena menjaga kemungkinan jangan sampai terjadi ada catatan-catatan di lembaran uang itu. Kemudian, benda-benda berbahan logam juga tidak bisa dibawa oleh peserta karena nantinya akan mengganggu jaringan yang sedang digunakan,” jelas Saiful.
Lanjut dia mengatakan, peserta yang ikut dalam ujian tersebut barasal dari berbagai daerah di Indonesia. Dan, terbanyak di Sulawesi Tengah, karena disebabkan beberapa daerah di Sulteng tidak mendapat formasi CPNS tahun ini.
“Yang tidak dapat formasi itu Poso, Banggai, Kota Palu dan Provinsi sehingga sasarannya ke Parimo,” ungkapnya.
Menurutnya, Parigi Motong termasuk formasi terbanyak yakni 200 formasi dibanding Kabupaten lainya hanya seratus lebih formasi. Sehingga tidak heran jika Parimo menjadi sasaran pencari kerja tersebut.
“Jadi 200 formasi itu terdiri dari tenaga pendidik 139, tenaga kesehatan 38, tenaga teknis 18, dan 5 penyuluh pertanian. Jadi kalau diprosentase peluang lulus 3,7 persen saja yang diterima dari jumlah 5.316 peserta yang ikut ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut berlangsung selama empat hari yakni, mulai 25 hingga Kamis 28 Februari 2020. (asw/palu ekspres)






