Minggu, 9 Agustus 2026
Opini  

Era Industri 4.0, Pengelolaan Desa Harus Berbasis Digitalisasi

Oleh Hasanuddin Atjo

Penerbangan Batik Air ID 6271 Manado-Jakarta take off on schedule, 07.45 WITA. Seat pesawat terisi penuh, meskipun pagi itu dalam waktu hampir bersamaan ada 4 penerbangan direct ke Jakarta. Memberi indikasi geliat ekonomi tetap tinggi, meskipun dibayangi virus Corona yang menjadi faktor penyebab berkurangnya kunjungan wisatawan  ke Manado khususnya wisatawan asal China.

Gubernur Sulteng, Longki Djanggola sebagai mantan ketua BKPRS, Badan Kerjasama Pembangunan Regional Sulawesi dan Gubernur Sulut, Olly Dondokambe penerus tongkat estafet BKPRS, dalam sambutan pemilihan ketua BKPRS, Senin malam, 2 Maret  2020,  mengemukakan bahwa pembangunan ke depan harus berbasis kewilayahan dengan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Pengembangan sektor tambang maupun non tambang harus diseimbangkan dengan prinsip ramah lingkungan dan keberlanjutan.

Karena akan berada di dalam pesawat sekitar 3 jam dan pasti banyak nganggurnya, menu mode pesawat di android saya diaktifkan agar frekuensi gelombang android tidak mengganggu komunikasi pilot dengan menara kontrol. Selanjutnya mulai berpikir dan menulis.

Terlintas dalam pikiran, bagaimana seharusnya skenario membangun pertumbuhan ekonomi berbasis kewilayahan yang inklusive, berkelanjutan dikaitkan dengan persoalan kemiskinan, ketimpangan serta era Industri 4.0, menindaklanjuti harapan mantan dan ketua BKPRS.

Di era Industri 4.0, membuat sejumlah negara di dunia berlomba menyesuaikan sistem pengelolaan pemerintahannya  agar bisa menyesuaikan dengan tuntutan perubahan dari yang tidak terlihat sampai dengan terlihat. Perubahan itu dimulai dari tingkat pengelolaan pemerintahan yang tertinggi, negara sampai dengan yang terendah yaitu pemerintahan desa. Penerapan digitalisasi telah menjadi salah satu fokus oleh sejumlah negara maju.

Pemerintahan desa merupakan garda terdepan dari sistem pemerintahan kita. Maju dan sejahteranya sebuah negara bergantung kepada kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desanya. Ada berbagai ukuran kesejahteraan masyarakat yang bisa menjadi acuan, ukuran atau referensi.

Pendapatan per kapita masyarakat atau PDRB, Produk Domestik Regional Bruto, adalah salah satu instrumen yang bisa menjadi indikator kesejahteraan. Menurut Budiono (Mantan Wapres RI era SBY) bahwa dari sisi pendapatan, dikategorikan sejahtera bila PDRB minimal 6.000 dolar US atau 84 juta rupiah per kapita/tahun. Saat ini, PDRB masyarakat Indonesia baru mencapai 4.000 dolar US atau sekitar 56 juta rupiah. Semakin ke Timur Indonesia dan semakin ke desa nilai PDRB itu semakin jauh di bawah 56 juta rupiah/kapita/tahun.

Hasil assement  lembaga auditor berkelas Internasional, Price Waterhouse Cooper (2017), bahwa PDRB masyarakat Indonesia di tahun 2045, bertepatan dengan 100 tahun merdeka atau tahun emas sekitar 23 ribu dolar US atau setara 322 juta rupiah per kapita per tahun (Kurs 14.000 rupiah per dolar US).

Kajian ini merupakan sebuah harapan yang akademik  karena telah melalui sejumlah kajian dan perhitungan yang bisa dipertanggungjjawabkan secara akademik. Hanya saja yang perlu ditekankan bagaimana capaian itu bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat indonesia secara berkeadilan maupun berkelanjutan.

Di desa tersedia semua sumberdaya mulai alam, manusia dan capital yang disediakan oleh pemerintah. Di lain sisi, desa juga tempatnya masalah sosial yang krusial mulai kualitas sumberdaya manusia, SDM; kemiskinan; pengangguran dan ; ketimpangan. Boleh dikatakan bahwa desa tertimpa pepatah lama: “ Mati di lumbung Padi”. Artinya, meskipun kaya dengan sumberdaya, namun masyarakatnya belum dapat memanfaatkan maupun menikmatinya.

Suka-tidak suka, mau tidak mau penerapan digitalisasi dalam perencanaan dan pembangunan desa harus segera dimulai. Bila tidak, maka harapan untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang inklusive, yang berkualitas tinggal menjadi sebuah kenangan.

Contoh Desa Cerdas atau Smart Village dengan program atau kegiatan yang juga Smart, seperti Smart Farming, Smart Tourism, Smart Handycraf di setiap kabupaten maupun kota harus segera dimulai. Tantangannya bahwa kepala desa dan perangkatnya harus familiar dengan teknologi informasi. Karena itu pementaan terkait dengan kompetensi dan kapasitas kepala desa dan perangkatnya menjadi salah satu kebutuhan. Desa yang berada di klasemen atas menjadi prioritas untuk menjadi contoh desa cerdas.

Penerintah Pusat maupun Penerintah Daerah tentunya harus memberikan perhatian terhadap tantangan-tantangan yang akan dihadapi dalam mewujudkan Indonesia Hebat 2045, versi Presiden dan Wakil Presiden Jokowi-Mar’uf Amin.

Rekruitmen pimpinan di daerah mulai kepala desa, Bupati dan Wali Kota sampai dengan pemilihan Gubernur sudah harus menyeimbangkan kompetensi dan kepentingan politik. Fit and Proper, atau uji kelayakan bagi bakal calon pimpinan daerah, apakah kepala desa, bupati/wali kota sampai Gubernur menjadi tahapan yang sangat strategis bagi lahirnya pimpinan daerah harapan.

Peran “Rahim Politik” dalam hal ini sang pemilik hak usung, hak suara serta penyelenggara Pilkada menjadi kunci dalam melahirkan pinpinan yang mampu mewujudkan harapan-harapan itu. SEMOGA.

 

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital