oleh

Status Ekonomi Mahasiswa Kita

-Opini-2.146 views

Nur Sangadji . Foto: Dok


Oleh Nur Sangadji

Suatu sore di tahun 2004, saya diundang Rektor Unkhair. Dr. Rivai Umar. Kala itu saya sedang bekerja untuk UNDP di Ternate. Kami berdiskusi di ruangan beliau. Hadir juga Prof Gufran dan Pak Rektor yang sekarang, Pak Dr. Husen Alting. Ko Fai (panggilan akrab) bilang begini. Bagaimana pendidikan kita bisa maju..?. Sedangkan, mahasiswa kita kurang gizi.

Beliau berkelakar. Siang tadi, kata ko Fai, ada mahasiswa yang minta uang padanya. Mahasiswa itu memelas, sejak pagi, pak Rektor, baru satu bungkus super mie yang masuk. Ko Fai meniru ucapan mahasiswa itu. Lalu beliau jawab, ini uang. Segera beli lagi tambahannya. Agar sudah dua tiga bungkus yang masuk yaa. Barangkali cuma berkelakar. Namun, itulah fakta kebanyakan mahasiswa kita.

Saya punya pengalaman yang lain. Dia satu mahasiswa asal Sulawesi Barat. Masuk ke kelas saya dengan tertatih. Saya tanya, kenapa kaki mu..? Kamu kecelakaan ? Dia tidak menjawab. Kawan kawannya yang lain pun tidak. Wajah mereka seperti menyesali pertanyaan saya. Masa pak Nur tidak tahu..? Begitu kira -kira, pikiran mereka dalam pikir ku.

Beberapa menit kemudian, saya baru tahu. Kalau dia, ternyata penyandang difabel. Tuna daksa. Sesudah itu saya selalu beri semangat padanya. Belakangan dia menghilang. Saya tanya pada kawan-kawannya. Ternyata, dia berhenti kuliah. Alasannya, tidak punya cukup biaya untuk bayar kost, uang kuliah dan biaya hidup. Saya minta mahasiswa asal Sulbar untuk cari. Tapi, berjalannya waktu. Tidak berhasil hingga kini.


Saya merasa menyesal. Karena, secara formal akademik, mestinya bisa diselamatkan melalui beasiswa. Alat detektornya banyak. Antara lain, dosen wali, wakil dekan bidang kemahasiswaan dan dosen pengajar lainnya. Sayang, tidak terdeteksi.

Kali lain, saya menemukan mahasiswi pramusaji di Warung Tabe. Warung yang sudah hilang disapu tsunami Teluk Palu. Tapi alhamdulillah, tetap menjadi pelayan warung. Dia lakoni hingga lulus menjadi sarjana Pertanian. Pengalaman lain lagi saat mencuci mobil. Salah satu karyawan pencucinya adalah mahasiswa ku. Dia yang langsung memperkenalkan dirinya.


Saya pikir masih banyak adik -adik mahasiswa kita bernasib serupa atau bahkan lebih susah. Saya sangat kagum kepada mahasiswa jenis ini. Mereka punya semangat juang (figting spirit) yang sangat tinggi.

Karena itu, saya tidak pernah memarahi mahasiswa yang terlambat atau bahkan tidak ikut kuliah saya. Sebab, saya beranggapan, tidak ada mahasiswa yang malas. Bila mereka tidak ikut kuliah. Itu, karena mereka sedang rajin di tempat lain.

Tugas saya sebagai guru adalah menciptakan perkuliahan sedemikian rupa hingga mereka merasa rugi kalau tidak ikut perkuliahan. Dalam hal ini, saya punya patron guru sebagai teladan. Antara lain, Prof Matulada, Ir, Tjuk Soroso dan Ir. Sukarno Tarakuku. Ketiganya telah wafat. Doa ku untuk mereka. Semoga memperoleh rahmat dan ampunan. Guru yang terakhir, pak Sukarno ini, masih diminta oleh mahasiswa untuk masuk lagi. Padahal, frekuensi tatap muka sudah selesai.


Kembali ke status ekonomi mahasiswa kita, saya telah minta pimpinan universitas untuk berpihak secara sengaja. Pertama, setiap keluarga dosen mengadopsi mahasiswa miskin ini. Ada ribuan dosen dan pegawai, bila ini didorong sebagai gerakan. Efeknya akan sangat berarti.

Supaya tidak disebut hanya bicara atau habis di cerita, maka saya tunjukkan contoh. Semoga tidak riya. Dengan kemampuan yang kami punya. Kami pernah menampung anak Luwuk keturunan Jawa. Anak Tolis keturunan Bugis. Dua anak Lero Pantai Barat keturunan Kaili. Empat anak Banggai Pulau dan juga anak Ambon. Keturunan ini sengaja ditulis untuk tunjukkan bahwa mereka semua anak Indonesia. Juga, untuk bilang bahwa kami tidak punya kaitan sanak famili. Pernah juga orang Jepang dan Canada, tapi itu orang berada. Meskipun, tinggal secara kekeluargaan.

Bila mereka tinggal di rumah kita, minimal bebas biaya kost dan konsumsi harian. Insya Allah, tidak terasa bagi kita. Tapi, sangat berarti bagi mereka. Beberapa dari mereka sudah selesai. Sekarang, masih tersisa tiga lagi.

Kami juga syukurlah, punya sepotong lahan. Ukurannya cuma 20 X 50. Namun, di lahan ini sudah lebih 10 sarjana pertanian lahir. Ada sarjana Ubi. Sarjana Jagung, sarjana Kacang. Sarjana Tomat. Saya berkelakar, lagi tunggu ada yang mau teliti cabe. Agar lengkaplah menjadi sarjana dabu-dabu. Semuanya serba gratis. Saya ingin ajak semua karib untuk bantu generasi dengan beri contohnya.
Semogalah menjadi amal jariyah. Amin yaa Rabb.


Kedua, mengurangi tunjangan kinerja (serdos) untuk dosen dan pejabat yang bagi saya tidak rasional. Baik besarannya maupun rasio berdasarkan jenjang jabatan yang sangat menyolok dan tidak adil. Meskipun banyak nurani belum tersentuh. Saya tetap menyuarakannya. Terutama, selaku anggota senat universitas. Semogalah ada kesadaran segera. Mumpung kita sedang dicoba dengan wabah corona.

Ketiga, mengurangi secara signifikan penjalanan dinas. Terutama ke luar negeri dengan tingkat urgensi yang tidak terukur. Bayangkan, bila setiap individu dosen yang bertandan ke luar negeri mengabiskan Rp 50 Juta sampai dengan Rp75 juta. Berapa mahasiswa miskin yang bisa kita selamatkan dengan dana tersebut.

Ini, sama sekali tidak berarti kunjungan dinas tidak boleh lagi. Boleh, tapi harus konkrit “out put, outcome dan impact”nya. Harus terbaca pertanggungjawabannya. Maka, saya menegaskan perlu ada “listing” yang menggambarkan secara jelas. Informasi tentang siapa yang pergi, ke mana, kapan, di mana, untuk apa dan berapa biaya yang dihabiskan serta apa yang diperoleh. Dengan begitu, akan nampak siapa saja yang sering mondar mandir keluar negeri. Dan, apa hasilnya. Bila tidak rasional, wajib kembalikan budgetnya ke kas negara. Ini butuh “strong leadership” dan “high comitment” dari penyelenggara institusi.


Untuk ini saya menaruh salut dan respek yang tinggi kepada beberapa karib yang saya tahu. Mungkin ada yang lain, tapi saya belum tahu. Mereka adalah Muktar (Marhum dan Lutfi). Kebetulan, punya nama depan yang mirip. Satunya, ketua Senat Fakultas. Dan, satunya lagi, Dekan. Mereka berdua ini yang tegas menolak gagasan untuk memperjalankan Dekan dan Ketua Senat ke Australia di bulan Maret kemarin.

Tapi, kalau hanya mereka berdua pastilah tidak dihirau. Ternyata, Corona yang membatalkannya. Setelah Corona berlalu, saya tidak tahu apakah napsu plesiir ini masih tetap ada. Napsu yang pada zaman Orde Baru, kampus sangat marah. Marah kepada anggota DPR yang gemar jalan- jalan ke luar negeri. Di era ini, justru kebalikan atau menjadi bahagiannya.

Andaikan jadi pergi, ada kurang lebih 22 orang. Potensi dana yg diduga habis seketika dalam waktu sekitar satu minggu adalah Rp1,5 Miliar sampai dengan Rp2 miliar. Ada ratusan mahasiswa miskin yang dapat kita selamatkan dengan besaran budget ini. Mereka, anak-anak kita. Tanggung jawab kita sebagai Orang tua, Guru dan Generasi yang lahir lebih dahulu. Wallahu alam bi syawab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed