Oleh: H. Sofyan Arsyad
PARA sahabat Nabi Muhammad Saw terlihat berkumpul mengelilingi orang gila. Rasul Saw menghampiri dan bertanya, ada apa ini? “Orang gila sedang mengamuk, ya Rasul”.
Setelah diam sejenak, Nabi berkata, orang ini bukan gila. Ia hanya sedang mendapat musibah. Beliau lalu menyebut lima ciri orang gila sebenarnya. Pertama, orang yang berjalan dengan sombong. Kedua, memandang orang lain dengan pandangan merendahkan. Ketiga, membusungkan dada. Keempat, berharap surga sambil tetap berbuat maksiat. Dan kelima, kejelekannya membuat orang tidak aman dan kebaikannya tidak pernah diharapkan.
Dalam terminologi bahasa Arab, orang gila disebut ”majnun”. Pakar tafsir Alquran Muhammad Quraish Shihab mendefenisikannya sebagai manusia yang tertutup akalnya. Ia memiliki kesamaan dengan beberapa akar kata. Istilah jinn dalam Alquran berarti yang tersembunyi dan tertutup. Janin (bayi yang masih dalam kandungan, karena ketertutupannya oleh perut ibu), al-junnah (perisai, karena ia menutupi seseorang dari gangguan), junnah (orang munafik menjadikan sumpah untuk menutupi kesalahan dan menghindar dari kecaman dan sanksi), janan (kalbu manusia, karena ia dan isi hati tertutup dari pandangan serta pengetahuan).
Jadi, orang berkelakukan aneh yang biasa kita sebut ”gila”, sebetulnya masih memiliki akal. Namun akalnya tertutupi oleh hawa nafsu, sehingga tidak mampu menerangi perilakunya.
Setiap orang perlu mengintrospeksi diri, jangan sampai diantara lima ciri orang gila sebenarnya itu ada pada dirinya. Sekalipun ada, tak perlu cemas. Saat ini umat Islam ibarat sedang diterapi massal di ”rumah sakit jiwa terbesar di dunia”. Namanya RSU Ramadhan. Sebulan penuh, jiwa dan hati dirawat di sini. Jika serius berobat dan patuh pada anjuran ”dokter”, Insya Allah begitu keluar dari RSU Ramadhan (1 Syawal), jiwa dan hati kembali bersih, sehat, dan suci. Kembali ke fitrah, ibarat bayi baru dilahirkan.
Kita mungkin sepakat, sombong adalah penyakit paling sulit diobati. Penyakit tertua di dunia ini antara lain dipicu oleh sifat attakasur dalam diri manusia. Allah SWT berpesan: ”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur” (Q.S Attakasur, 1-2).
Attakasur, adalah keinginan memperbanyak kesenangan dan perhiasan dunia. Pengidap attakasur selalu berniat mengalahkan orang lain dengan harta. Dari takasur, lahir tiga penyakit rohani manusia yaitu takabbur (sombong), dengki dan dendam. Singkatnya, takasur membuat seseorang menjadi sombong.
Merasa diri kaya, sehingga cenderung merendahkan orang lain. Rasa sayang terhadap kaum lemah dan miskin, berganti menjadi kebencian. Kehadiran mereka mengetuk pintu rumah dianggap mengganggu kesibukan. Lupa jika harta hanya titipan Allah. Dan tamu yang datang adalah utusan untuk menagih titipan/hak.
Selain membuat sombong, takasur menyuburkan rasa dengki. Merasa iri dan marah bila melihat orang lain lebih kaya, berpengaruh, populer, dan lebih dihormati. Segala cara dilakukan untuk menjatuhkan. Endingnya, tersenyum bangga berhasil membuat orang lain hidup menderita.
Bahaya takastur paling besar adalah dendam. Membenci orang yang memenangkan persaingan, dan berusaha membalas kekalahan itu dengan mencelakakannya. Tanpa sadar, ia telah berubah dari makhluk yang dititipkan seperseratatus kasih sayang Allah, menjadi makhluk jahat dengan seratus macam tipu daya.
Ramadhan 1441 H adalah momentum untuk mereparasi sifat-sifat buruk itu. Bila selama sebulan puasa kita baru sebatas menahan makan, minum dan tidak bersetubuh di siang hari, maka bobot puasa kita tak jauh lebih baik dari kualitas puasa seekor burung dara. Dimasukkan ke dalam sangkar tanpa diberi makan dan minum, dari fajar sampai menjelang malam. Wallahu a’lam.*






