Minggu, 5 April 2026
Palu  

Melawan Takut Demi Merawat Pasien Covid 19 di RS Madani Palu

Rirhy Ola Mengkido. Foto: istimewa

PALU EKSPRES, PALU- Tak banyak tenaga medis yang mau terjun langsung menjadi bagian dalam tim perawatan pasien terkonfirmasi positif Covid 19. Kabar menakutkan tentang paramedis yang tewas karena terjangkit, menjadi alasan utamanya.

Kabar itupun sempat merasuki benak Rirhy Ola Mengkido (27). Seorang bidan cantik di Rumah Sakit (RS) Madani Palu. Yang kini setiap hari harus berinteraksi dengan pasien Covid 19. Meski awalanya merasa takut dan kawatir, namun hasrat untuk menolong sesama mendorong kuat nyalinya untuk melawan rasa takut.

Kenyataan yang mengantar Rirhy Ola Mengkido jadi salahsatu tim perawat terjadi setelah pihak RS Madani Palu tidak mendapat respon dari seluruh tenaga medis disana. Banyak yang menolak. Tidak siap dan berani.

Rirhy sapaan akrabnya mengaku, penunjukkan untuk menjadi tim perawat akhirnya sampai kepada dirinya. Setelah Direktur RS Madani Palu, dr Nirwansyah coba membangun komunikasi tersebut. Ia kemudian menerima ajakan itu setelah mendengar arahan direktur kalau tugas ini sangat mulia. Sebuah tugas yang resikonya fatal. Taruhannya nyawa tapi untuk menyelamatkan nyawa orang lain.

“Bukan suatu kebetulan tapi ini adalah kesempatan kepercayaan Tuhan untuk saya ikut terlibat. Selama bisa jadi berkat terjun langsung jadi dampak bagi pasien covid, kenapa tidak?, saya kira dengan semua ini, Tuhan punya maksud tujuan tersendiri untuk saya” katanya.

Dia tidak memungkiri rasa takutnya memuncak ketika awal mengetahui akan diminta menjadi tim perawat.
Apalagi kalau bukan tentang banyaknya berita tentang tenaga medis yang gugur saat bertugas. Semua kabar menakutkan tentang ganasnya virus ini sempat menciutkan nyalinya.

“Kenyataannya memang sudah banyak teman-teman medis yang terpapar saat bertugas. Dan tidak sedikit dari mereka kehilangan nyawa dalam tugas mulia ini,”tuturnya.

Iapun mengaku, ketakutan pasti akan tetap ada. Tapi dia melawannya demi tugas mulia.

“Saya hilangkan dan hanya bisa saya lawan. Karena saya pikir tujuan saya bukan untuk mati tapi demi alasan kemanusiaan,”ujar perempuan kelahiran Poso ini.

Rirhy mengaku bangga dan bersyukur bisa terlibat dalam misi penyelamatan nyawa manusia. Sebuah misi yang ia sebut  tidak pernah ia pikirkan.

“Sama sekali tidak terpikir akan dipilih  menjadi  perawat pasien covid. Tapi saya bersyukur meskipun awalnya saya takut,”ujarnya.

Ketakutannya pun hilang seiring waktu. Setelah beberapa hari terjun langsung berinteraksi dengan pasien. Keberaniannya pun muncul ketika melihat direktur RS Madani Palu yang juga terlihat santai bersama pasien. Ini menjadi motivasi bagi tim lainnya.

“Sekarang tidak takut lagi. Karena saya sudah benar-benar yakin ini adalah kesempatan untuk mendedikasikan diri  bagi sesama, khususnya pasien covid”ucapnya.

Bagaimana reaksi keluarga?. Rirhy menyebut tidak masalah. Motivasi untuk berani menjalankan tugas justru didorong keluarga besarnya yang ikut memberi dukungan atas tugas mulia itu. Keluarga kata dia hanya berpesan agar tetap berhati -hati dan berpasrah pada Tuhan.

“Tidak ada laangan.Mereka hanya katakan jika saya yakin dan mampu, yah jalani saja. Karena Tuhan mungkin menunjuk diri saya bagi yang membutuhkan di masa pandemi ini. dan mereka hanya berpesan tetap hati-hati dan andalkan Tuhan,”jelasnya.

Selain melawan rasa takut dan Alat Pelindung Diri (APD) saat berugas, serta mengandalkan Tuhan, Rirhy mengaku itu adalah modal utama yang mendorongnya tetap enjoy hingga saat ini.

Rirhy hanya berpesan. Pasien Covid 19 tak boleh distigmatisasi. Seperti yang saat ini mulai mencuat ditengah masyarakat. Kata dia, stigmatisasi itu muncul hanya karena terbatasnya pengetahuan masyarakat tentang Covid 19.

“Intinya, menurut saya ini adalah kesempatan melayani. Kesempatan untuk memberi yang terbaik bagi orang-orang yang membutuhkan,”demikian Rirhy. (*/mdi/palu ekspres)