Oleh Syarifudin Dg. Siampe (Kepala KUA Kecamatan Pamona Selatan)
Seorang saudara muslim saya bertanya “pak tidak salat Jumat? “Nunggu imbauan dan intruksi dari Ulama dan Umarah dulu baru pergi salat” jawabku santai.
Bagi yang baru mengaji kemarin sore, pasti sudah mencak-mencak itu. Salat di masjid kok takut, ini baru virus covid saja sudah takut, bagaimana kalau pedang musuh sudah ada di depan mata pasti lebih takut lagi. Menghina agama itu namanya. Kita harus berkeyakinan bahwa yang mendatangkan manfaat dan mudharat hanya Allah SWT.
Di sinilah salah satu hikmah ujian kecerdasan kita dalam memahami ajaran Islam, apakah sudah lengkap atau baru hanya kulit-kulit terluarnya saja. khususnya yang laki-laki, yang telah baligh, sehat, muqim, dan waras, salat Jumat itu hukumnya fardhu ‘ain. Tidak salat Jumat pasti lah berdosa besar. Namun siapa sih yang tidak sedih kalau harus meninggalkan ritual ibadah yang selama ini kita laksanakan secara berjamaah?
Tapi mereka yang sudah agak mendalam pemahaman ilmu agamanya, selalu memandang syariat Islam dengan luas, luwes serta lengkap dengan semua perangkatnya sama sekali tidak jadi masalah. Sebab dalam ilmu fiqih kita memang sudah dibekali dengan berlapis-lapis kajian pemecahan masalah syariah. Kalau masalahnya begini, jawabannya begitu. Kalau masalahnya begitu, jawabannya begini. Oleh karena itu kita harus maklum dengan kelakuan kalangan awam yang rasa sok tahu ini. Apalagi ada juga yang mengakit-ngaitkannya dengan kesalahan pemimpin Negara.
Dalam masalah ini, baik para ahli dan para ulama telah memberikan penjelasan sesuai spesifikasinya dalam bidang ini dan meracik ayat Al-Quran dan hadits Rasul, yang lalu dikaji agar dapat dipahami. Lalu lahirlah imbauan dan fatwa tersebut. Bagi yang minim ilmu tinggal menikmati hasil ijtihad mereka. Jangan lalu keluar statmen bahwa ia lebih tahu dari para ahli tersebut, lalu keluarlah statmen yang bisa jadi bukan saja tidak tepat, bahkan bisa menjadi polemik di masyarakat. Padahal Rasulullah telah mewanti-wanti kita dengan sabdanya: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.”
Itulah sebabnya, saya tetap memilih mengikuti anjuran kebanyakan ulama dan pemerintah untuk salat di rumah saja selama pandemi covid-19 ini, daripada memaksakan diri untuk salat di masjid dengan resiko terlular. Bukankah ini adalah bagian dari ikhtiar yang dianjurkan dalam agama kita sebagaimana firman Allah “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
Ketika kita tidak salat Jumat, niatnya sama sekali bukan mau menentang perintah Allah. Sebaliknya, justru karena kita taat kepada Allah atas petunjuk para alim ulama untuk menghindari hal-hal yang merusak dan beresiko kepada nyawa kita.
Peristiwa ini mungkin mewakili dari sekian saudara saya muslim yang dihadapkan pada situasi seperti ini. Maka kita selaku yang bukan ahli dan pakar dibidangnya, apalagi yang keilmuannya masih parah dan bermasalah besar, sebaiknya kita menahan diri untuk tidak ikut-ikutan berfatwa. Biarkan saja para ahli dan pakarnya yang pendapat, sebab mereka memang ahlinya. Mereka berhak dan punya kompetensi untuk itu. Adapun kita, mari kita duduk manis saja mendengarkan para pakar pendapat, tidak perlu merasa jadi pahlawan kesiangan di bidang yang sama sekali bukan keahlian kita.
Dari pada buat status dan komentar di media sosial yang terlalu jauh dari ilmu yang dimiliki dan ternyata kurang tepat, lebih baik kita tahu diri. Sebenarnya agak segan menuliskan masalah ini, karena para pakarnya sudah mengetahui apa yang akan terjadi dan mereka pun pasti sangat sedih saat imbauan ini harus ditaati dan dijalankan oleh seluruh lapisan masyarakat. Dan, jangan pula anda bertanya saya bingung pak ikut yang mana. ***






