Minggu, 5 April 2026
Agama  

Ramadhan Melatih Diri Rendah Hati

Nurkhairi. Foto: istimewa

Oleh Nurkhairi (Kepala Seksi Bimas Islam Kemenag Kabupaten Buol)

TIDAK mudah untuk menjadi hamba Allah yang tekun beribadah. Dibutuhkan kesungguhan dan perjuangan panjang tanpa lelah. Namun, lebih tidak mudah lagi untuk menjadi orang yang tetap istiqamah dan rendah hati disaat dirinya semakin tekun beribadah.
Dahulu, ada seorang sahabat Rasulullah Saw bernama Abu Dzar al-Ghifari ra. Selain ahli ibadah, di kalangan para sahabat, ia dikenal memiliki prestasi mengagumkan dalam fase perjuangan sejarah awal da’wah Islam.
Tetapi pengorbanannya saat berjuang bersama Rasulullah, belum dirasa cukup. Ia kerap menyadari dirinya lemah dan banyak kekurangan dalam beribadah. Bahkan tidak segan mengakui kelemahannya kepada orang lain.

Suatu ketika, Abu Dzar datang kepada Rasulullah Saw dan berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku ternyata lemah dalam melakukan amal-amalku?”
Tak berselang lama, Abu Dzar menerima pesan singkat dari Rasulullah. “Jagalah orang lain dari keburukan mu, itu saja sudah merupakan shadaqah darimu untuk dirimu sendiri.” (HR. Muslim).
Setiap muslim diperintahkan untuk senantiasa meningkatkan amal shaleh dalam hidupnya. Tak perlu ia membanding-bandingkan kelebihan amal-amalnya dengan amal orang lain. Karena hal tersebut hanya akan menjerumuskan dirinya menjadi ujub dan sombong.
Syaikh Muh. Ahmad Ar-Rasyid, seorang ulama yang amat tawadhu’ pernah menasehati agar jangan sampai kita cenderung memandang ibadah kita lebih baik dari orang lain. Sebab hal itu adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia akan membakar hangus sikap-sikap tawadlu dalam diri. Disamping menjadi sumber terbesar bagi lahirnya sikap saling dengki sehingga merusak silaturahmi.
Konon Nabiyullah Isa AS pernah berkata, “Berapa banyak lentera yang cahayanya mati tertiup angin. Berapa banyak ibadah yang pahalanya rusak oleh kesombongan. Amal sholeh ibarat cahaya, dan cahaya itu bisa padam oleh angin ujub dan kesombongan.”
Allah SWT mengingatkan, “Katakanlah, apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”.’ (QS. Al-Kahfi: 103-104).’

Setiap muslim seharusnya bersyukur bila mampu istiqamah dan menemukan nikmatnya beribadah. Bukan lantas menjadikan itu sebuah keistimewaan pribadi. Lalu berbangga dan menepuk dada, seakan semua itu adalah semata-mata perjuangannya.
Tanpa rahmat Allah, apa yang dibangga-banggakan tak akan diperoleh. Sehingga tidak sedikitpun alasan yang membenarkan seseorang menatap hina atau meremehkan orang-orang yang belum mendapat hidayah Allah SWT. Apalagi sampai mengklaim diri sebagai penghuni surga, sementara orang lain hanya layak bermukim di neraka.

Rendah hati dan kesantunan dalam bertutur kata adalah di antara ciri-ciri akhlak mulia. Ia mampu meluluhkan kerasnya hati orang yang mendengarkannya.
Suatu pagi, ulama tasawuf ternama, Ibrahim bin Adham berpapasan dengan seseorang yang telah sekian lama membencinya. Orang tersebut berkata dengan angkuh, “Wahai Ibrahim bin Adham, menurutmu mana yang lebih suci, antara jenggotmu dengan ekor anjingku?”, sambil menunjuk anjing yang sedang dituntunnya.
Sebuah pertanyaan bernada penghinaan. Namun Ibrahim bin Adham menyambutnya dengan senyuman ramah. Tak sedikitpun tampak perubahan roman wajahnya. Dengan santun Ibrahim menjawab, “Kalau jenggotku ini kelak masuk neraka, itu pertanda bahwa ekor anjingmu lebih suci dari jenggotku. Akan tetapi kalau jenggotku ini kelak berada di surga, maka itu pertanda jenggotku lebih suci dari ekor anjingmu.”
Kalimat itu meluncur biasa saja dari mulut Ibrahim. Tapi getarannya menjadi luar biasa di kuping dan hati orang yang membencinya. Orang tersebut seketika berlutut dan memeluk kaki Ibrahim bin Adham. Ia mengakui kesalahannya. Ia mohon dibimbing memeluk Islam dan diperkenankan menjadi murid Ibrahim.

Sepuluh hari terakhir Ramadhan, adalah momentum untuk sungguh-sungguh berikhtiar merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta, dan berendah hati dalam pergaulan dengan sesama.
Kita tentu tidak berharap, cahaya amal ibadah kita mati oleh karena perasaan kita sendiri yang menganggap lebih sempurna dan mulia dari sesama. Yang diharapkan adalah keimanan kita tidak redup oleh kebanggaan kita karena telah mendapatkan penilaian dan pandangan yang baik dari orang lain.
Semoga hidayah dan ridha Allah senantiasa bersama kita, sehingga keluarga, daerah, bangsa, dan negara kita terselamatkan dari wabah virus corona, Amin ya Robbal ‘alamin.*