Sabtu, 16 Mei 2026
Agama  

Kebiasaan yang Sudah Terbiasa

Basrin Ombo. Foto: Dok

(Menelisik arti ucapan Minal ‘Aidin Walfaizin)

Oleh  Basrin Ombo, S.Ag., M.HI

Setiap akhir Ramadhan, banyak di antara kita (tidak hanya umat Islam, bahkan oleh mereka umat lain yang sekadar memberikan ucapan) seakan berlomba membuat ucapan atas keberhasilan menggapai kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu. Ada yang membuat ucapan melalui spanduk, kartu ucapan, video atau ada yang mengucapkan secara langsung. Hal itu merupakan kebahagiaan tersendiri baik yang bagi yang mengucapkan ataupun yang mendapatkan ucapan tersebut.

Sebuah kalimat yang ringan diucapkan namun memiliki makna yang dalam yang berisi doa dan pengharapan. Kalimat itu adalah “Minal ‘Aidin Walfaizin”. Kalimat ini diidentikkan dengan ucapan permohonan maaf lahir dan batin, sebuah kalimat tahniah atau ucapan selamat. Di Indonesia, kalimat ini menjadi ucapan  yang sangat familiar, terkhusus pada saat Idul Fitri.

Namun, banyak orang beranggapan bahwa kalimat “Minal ‘Aidin Walfaizin” diartikan dengan “mohon maaf lahir dan batin”. Hal ini jelas menjadi salah kaprah. Lalu apa sebenarnya arti dari kalimat tersebut…? Menurut seorang ulama, kalimat ini tidaklah berdasar dari generasi para sahabat ataupun para ulama setelahnya (salafus salih). Kalimat ini mulanya berasal dari seorang penyair pada masa Al-Andalus, yang bernama Shafiyuddin Al-Huli, ketika dia membawakan syair yang konteksnya mengisahkan dendang wanita di hari raya.

Kalimat “Minal ‘Aidin Walfaizin” diterjemahkan “semoga kita semua tergolong orang yang kembali dan berhasil”.  Artinya, kalimat yang diucapkan saat Idul Fitri ini adalah sebuah doa dan harapan agar kita semua menjadi golongan orang yang kembali kepada kesucian atau fitrah. Fitrah sejatinya mengandung kebaikan, kemuliaan, kejujuran, dan persaudaraan, setelah kita berhasil mengalahkan hawa nafsu.

Kalimat “Minal ‘Aidin Walfaizin” menyiratkan makna pencapaian seorang mukmin setelah berpuasa penuh dan berperang melawan hawa nafsunya dengan cara melakukan segala ketaatan kepada Allah SWT. di bulan Ramadan.

Dalam banyak literatur Islam, ada tradisi yang kerap dilakukan para sahabat ketika merayakan Idul Fitri. Mereka biasa mengucapkan selamat kepada orang yang berhasil menjalankan puasa selama sebulan penuh.  Ucapan tersebut adalah “Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum.” (“Semoga Allah menerima [amal ibadah Ramadan] kami dan engkau.”). Ucapan di atas dapat ditambahkan dengan “Taqabbal yaa Kariim, wa Ja’alanaallaahu wa Iyyaakum Minal ‘Aidin Walfaizin.” Bahkan ada juga yang menambhkan ucapan “Wal Maqbuulin Kullu ‘Ammin wa Antum bi Khair.”

Jika seluruh kalimat ini dirangkai menjadi: “Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum, Taqabbal yaa Kariim, wa Ja’alanaallaahu wa Iyyaakum Minal ‘Aidin Walfaizin, Wal Maqbuulin Kullu ‘Ammin wa Antum bi Khair.” Yang artinya: “Semoga Allah menerima (amal ibadah Ramadhan) kami dan kamu. Wahai Allah Yang Maha Mulia, terimalah! Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang serta diterima (amal ibadah). Setiap tahun semoga kamu senantiasa dalam kebaikan.” Jika terlalu panjang, cukup menggunakan kalimat ‘Taqabbalallahu Minna wa Minkum, bukan dengan ‘Minal aidzin wal faidzin.’ (Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab Fathul Bari).

Namun demikian, banyak juga kalangan ulama yang mengatakan bahwa ucapan selamat datangnya hari raya tidak ada batasannya, baik “Minal aidzin wal faidzin” ataupun “Taqabbalallahu Minna wa Minkum”, selama ucapan itu mengandung arti yang baik. Apalagi ucapan itu mengandung doa khusus bagi sesama umat Islam di saat Idul Fitri. Sebab Idul fitri menyiratkan makna yang berkaitan dengan tercapainya tujuan kewajiban berpuasa, yakni manusia yang bertaqwa.

Kata Id berdasar dari akar kata “aada-yauudu” yang artinya kembali sedangkan fitri bisa berarti buka puasa untuk makan dan bisa berarti suci. Fitri yang berarti buka puasa berdasarkan akar kata “ifthar” (sighat mashdar dari “aftharo-yufthiru”) dan berdasar hadis Rasulullah SAW yang artinya :”Dari Anas bin Malik: Tak sekali pun Nabi Muhammad SAW. pergi (untuk shalat) pada hari raya Idul Fitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya.” Dalam Riwayat lain: “Nabi SAW makan kurma dalam jumlah ganjil.” (HR Bukhari).

Dengan demikian, makna Idul Fitri adalah hari raya saat umat Islam kembali berbuka atau makan. Karena itu,  salah satu sunnah sebelum melaksanakan salat Idul Fitri adalah makan atau minum walaupun sedikit. Ini menunjukkan bahwa hari raya idul fitri 1 syawal adalah waktunya berbuka dan haram untuk berpuasa. Sedangkan kata Fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan berdasarkan dari akar kata “fathoro-yafthiru” dan hadis Rasulullah SAW  yang artinya “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaih).

Barangsiapa yang salat malam di bulan Ramadan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq ‘alaih).

Kesimpulannya, Idul Fitri bisa berarti kembalinya kita kepada keadaan suci atau keterbebasan dari segala dosa dan noda sehingga berada dalam kesucian (fitrah). Karena itu, ucapan Minal ‘Aidin Walfaizin” atau “Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum, Taqabbal yaa Kariim, wa Ja’alanaallaahu wa Iyyaakum Minal ‘Aidin Walfaizin, Wal Maqbuulin Kullu ‘Ammin wa Antum bi Khair.” menjadi sebuah kalimat yang indah terucap saat Idul Fitri.

Yang perlu diluruskan adalah anggapan sebagian masyarakat yang mengira bahwa arti dari “Minal ‘Aidin Walfaizin” itu adalah “mohon maaf lahir batin” Wallahul a’lam bi shawwab. ***

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777

Penyusunan Arah Digital yang Lebih Efisien melalui Kajian Rinci pada Ritme Bermain Akurat
Kebiasaan Pemain Saat Ini Makin Sering Ditelusuri demi Merancang Taktik Main Lebih Efisien dan Terstruktur
Mekanisme Adaptif Gates Of Olympus Perlahan Mengubah Alur Respons dan Memunculkan Formasi Baru yang Lebih Dinamis
Pendekatan Pengendalian Risiko dalam Game Online Viral lewat Pemantauan Skema Kemenangan
Perkembangan Media Sosial Terkini Dinilai Membuat Tampilan Feed Pengguna Majong Ways 2 Kian Beragam
Taktik Bermain Game Online
Sugar Rush
Gameplay Interaktif
Sistem Permainan Modern
Mahjongways Kasino Online
probabilitas game soft
pola Mahjong Ways 2
elemen slot online
interaksi pemain game modern
strategi bermain terukur
Mahjong Wins 3
Starlight Princess 1000 online
pendekatan rasional game
pola slot online
engagement pengguna game online
Strategi Kinerja Game Online Berbasis Statistik yang Memperlihatkan Gameplay Pola RTP Lebih Terukur, Efisien, dan Mudah Dibaca
Inovasi Teknologi Modern Mendorong Penataan Distribusi Probabilitas Game demi Pengalaman Bermain Lebih Berkualitas
Pembacaan Observatif pada Mahjong Digital Memperlihatkan Konsistensi Struktur Sesi dalam Ritme Permainan Modern
Sistem Tumble Progresif Menjadi Acuan Membaca Simbol Kemenangan dan Dinamika Kombo Gameplay Digital
Pemetaan Sosial Pemain Mahjongways Kasino Online melalui Observasi Visual dan Stabilitas Respons Sistem
Keterlibatan Pemain Mahjongways Kasino Online Ditinjau dari Relasi Simbol dan Stabilitas Respons Permainan
Visualisasi Interaksi Mahjongways Kasino Online untuk Menafsirkan Dinamika Simbol serta Respons Permainan Harian
Pemantauan Dinamis Bulan Ini Menghadirkan Pembacaan Baru soal RTP PGSoft dan Gameplay Terukur
Landasan Rasional Mahjong Ways 2 melalui Pengamatan Fase Visual dan Karakter Permainan
Ulasan Mahjong Ways 2 tentang Pergeseran Ritme serta Stabilitas Interaksi Sistem Permainan