Minggu, 5 April 2026
Palu  

Megawati Direncanakan Hadiri Peresmian Patung Bung Karno di Palu

Wali Kota Palu Hidayat, Dirut Bank Sulteng, Rahmat Azis usai menyaksikan proses perakitan patung Bung Karno, Kamis 11 Juni 2020 di Taman GOR Palu. Foto: Hamdi Anwar/PE

PALU EKSPRES, PALU– Pemasangan bagian patung Bung Karno di Taman GOR Palu akhirnya tuntas, Kamis 11 Juni 2020. Proses perakitan diakhiri dengan memasang bagian kepala.

Patung Bung Karno setinggi 10 meter dengan seragam safari berlengan pendek dan menghadap ke selatan mulai dirakit sejak 4 Juni 2020. Waktu perakitan lebih cepat dari terget 10 hari.

Patung dengan tangan kiri memegang tongkat komando dan mengangkat tangan kanan tersebut dirakit 7 seniman dari Kota Boyolali.

Wali Kota Palu Hidayat menjelaskan setelah seluruh bagian patung terpasang, akan ada properti disekitar patung yang menceritakan Ikhwal kedatangan Bung Karno ke Kota Palu termasuk momen saat Bung Karno berada di lapangan itu pada 2 Oktober 1957.

“Setelah semua itu kita pasang, baru kita rencanakan peresmian,”kata Hidayat usai meninjau proses pemasangan bagian kepala patung, Kamis 11 Juni 2020.

Menyangkut seremoni peresmian, pihaknya berencana mengundang langsung putri Bung Karno, Megawati Soekarno Putri yang kini menjabat Ketua Umum DPP PDIP sekaligus salahsatu ahli waris Presiden Pertama Indonesia.

“Ibu Megawati juga tokoh nasional dan salahsatu ahli waris,”kata Hidayat.

Mengenai rencana ini, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan mantan Presiden RI ke 5 tersebut.

“Undangan kepada ibu Mega perlu dikoordinasikan secara tehknis. Kalaupun beliau tidak sempat, kita usahakan dihadiri ibu Puan Maharani, putri Megawati,”jelasnya.

Hidayat lebih jauh menjelaskan, patung Bung Karno ini akan dinamai monumen mutiara bangsa. Ini berangkat dari filosofi mutiara yang disematkan Bung Karno untuk Kota Palu.

Hidayat memaknai mutiara itu sebagai kearifan lokal masyarakat Kaili. Yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, kekeluargaan dan kegotong royongan.

Tiga nilai ini menurutnya jika dikaji secara mendalam merupakan intisari dari lima sila dalam Pancasila sebagai dasar negara.

“Tiga nilai itu merupakan hasil perasan makna dari Pancasila. Nilai-nilai inilah yang coba kota kembalikan dalam kehidupan masyarakat Palu,”jelasnya.

Filosofi kedua adalah mutiara tersebut bermakna keindahan alam Kota Palu dengan lima dimensi alamnya. Yakni, pegunungan, perbukitan, teluk dan sungai Palu.

“Rangkaian alam kita,gunung bukit, teluk dan sungai. Rangkaian alam ini mutiara yang kita miliki di Palu. Rangakaian alam ini yang saat ini coba kita gali potensinya untuk pariwisata,”ujarnya.

Hidayat menjelaskan, pembangunan patung monumen Mutiara Bangsa merupakan bentuk apresiasi Pemkot Palu atas sebuah moment sejarah yang pernah terjadi di Kota Palu tepat pada tanggal 2 Oktober 1957.Yakni kedatangan Presiden Soekarno.

Ini menjadi sejarah pertama kalinya Bung Karno mengunjungi  Kota Palu Sulawesi Tengah. Kedatangan Bung Karno jelas Hidayat untuk konsolidasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena masa itu terjadi gerakan Perjuangan Semesta (Permesta) dari pimpinan sipil dan militer wilayah timur yang dipelopori Letkol Ventje Sumual.

Di Taman GOR inilah kemudian Bung Karno berpidato sekaligus mengumumkan penggantian nama Bandara Udara Masowu menjadi Bandara Mutiara Palu.

Karena itu lanjut Hidayat, ukuran konstruksi parung Bung Karno didesain untuk menyesuaikan waktu kedatangan Bung Karno di Palu Sulawesi Tengah.

Mulai dari landasan tempat berdirinya patung setinggi 2 meter yang menggambarkan tanggal kedatangan yakni bulan Februari.

Tinggi patung 10 meter disesuaikan dengan bulan kedatangan yaitu bulan 10 Oktober. Sementara ukuran panjang kali lebar landasan seluas 5X7meter menggambarkan tahun kedatangan Bung Karno yakni 1957.

“Karena momentum sejarah itu, makanya patung Bung Karno itu kami namakan Monumen Mutiara Bangsa,”demikian Hidayat. (mdi/palu ekspres)