PALU EKSPRES, PALU– Butuh puluhan tahun bagi ikan tuna (yelowfin) asal Sulteng untuk menembus pasar Jepang secara langsung. Walau volume ekspornya tergolong kecil 600 kilogram lebih, namun ini adalah torehan penting bagi Sulteng untuk mencatatkan diri sebagai salah satu pemain di komoditi ini pada hari-hari mendatang.
Selama ini, ikan tuna asal Sulteng, yang menembus pasar dunia masih dilakukan oleh eksportir di Makassar.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah, Arief Latjuba, mengatakan hal ini saat melepas ekspor perdana ikan tuna ke Jepang, di Bandar Mutiara Palu, Jumat 11 Juni 2020. Arif pantas berbangga. Dengan ekspor langsung yang dirintis oleh PT Arumia Kharisma Indonesia akan memberikan nilai tambah ekonomi yang tinggi bagi nelayan.
PT Arumia Kharisma Indonesia dengan didukung penuh oleh Dinas Kelautan dan Perikanan akan membeli langsung ikan tuna milik nelayan. Dan kemudian dilakukan ekspor secara langsung. Selama ini ikan tuna dikumpulkan oleh pengepul, di bawah ke daerah tetangga untuk selanjutnya diekspor ke negara tujuan.
Sekdaprov Sulteng Hidayat Lamakarate pada kesempatan tersebut mengapresiasi langkah PT Arumia Kharisma Indonesia, karena langkah ini memberikan untung berlipat bagi nelayan di Sulawesi Tengah. Pemerintah katanya akan memberikan dukungan sepenuhnya, termasuk memberikan kemudahan bagi swasta untuk melakukan ekploitasi sumber daya laut yang potensinya masih sangat besar. Diakui Hidayat, ekspor perdana masih banyak kekurangan yang harus dibenahi. Termasuk yang dioptimalkan adalah koordinasi dengan instansi terkait khususnya Bea Cukai.
Tapi harapan terbesar dari ekspor ini adalah, memberikan nilai tambah secara ekonomi kepada masyarakat nelayan. ”Karena itu kita berharap ekspor ini terus berlanjut karena potensinya tersedia besar di perairan kita,” ungkapnya.
Arief Latjuba menjelaskan, secara umum ikan tuna masih disuplai dari Pasar Pelelangan Ikan (PPI) Donggala. Berdasar data yang dinukil dari Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, total produksi ikan tuna yang didaratkan di PPI Donggala pada 2019, sebesar 276.564 kilogram. Dari jumlah tersebut, yang memenuhi kualifikasi ekspor sebesar 247.884 kilogram atau 89,62 persen. Sisanya sebesar 28.680 kilogram atau 10,37 persen dijual untuk pasar domestik. Pasar ikan tuna dunia seperti Jepang, menetapkan syarat yang ketat untuk bisa diterima pasar di negara itu. Salah satunya, bobot ikan tuna harus di atas 20 kilogram.
MASA DEPAN SULTENG ADA DI LAUT
Upaya pemerintah untuk memaksimalkan ekspor ikan tuna ke pasar Jepang, bakal menjadikan sektor ini menjadi kontributor signifikan bagi perekonomian Sulteng. Beberapa tahun terakhir ini, sumbangan sektor perikanan pada produk domestik regional bruto (PDRB) Sulteng cukup tinggi.
Ahlis Djirimu Dosen Fakultasi Ekonomi Universita Tadulako, mengungkapkan, selama periode 2015 – 2019, produksi sub sektor perikanan berdasarkan PDRB meningkat dari Rp6.471.894 juta di tahun 2015 menjdi Rp 9.782.243 juta pada tahun 2019. Atau rata-rata meningkat sebesar 10,88 persen. Peningkatan ini dinilainya sangat potensial, mengingat sektor perikanan masih sangat besar.
Namun, kontribusi sub sektor ini selama periode tersebut hanya 5,86 persen dalam perekenomian Sulteng. Walau demikian, melihat besarnya potensi perikanan, Ahlis menyebut masa depan Sulteng ada di laut.
Pasalnya, Sulteng menjadi satu satunya provinsi di Indonesia yang punya empat wilayah Pengolahan Perikanan (WPP) yaitu WPP Selat Makassar, Laut Sulawesi, WPP Teluk Tomini dan WPP Teluk Tolo serta WPP Perairan Halmahera Bagian Barat di kepala burung Kabupaten Banggai.
Selanjutnya Ahlis menyebut masih ada kendala besar di sub sektor ini. Antara lain alat tangkap nelayan rata-rata hanya 3 – 6 gross ton. Belum bisa bersaing dengan nelayan daerah tetangga. Kemudian ikan sering menjadi penyumbang kenaikan harga-harga bahan makanan di Sulteng. Ini karena belum terpenuhinya kebutuhan di sulteng dan masih dijual ke daerah lain. Selanjutnya, Tim Ahli Kemenkeu ini menyebut, value addednya (nilai tambah) masih dinikmati orang industri di daerah lain.
Lebih jauh ia menyebut, saat ini ada sekitar 14.623 kepala keluarga nelayan tangkap dan 2.521 kepala keluarga nelayan budi daya yang miskin. Atau 18.873 jiwa nelayan perikanan tangkap miskin dan 4.997 jiwa nelayan budidaya miskin. Itu berarti totalnya ada 23.870 jiwa nelayan miskin. Jumalah ini mempresentasikan 7,04 persen dari 410.360 penduduk miskin di Sulteng dengan konsentrasi terbanyak di Parimo, Donggala Tolitoli, Touna, Bangkep, Morowali dan Banggai serta Morowali Utara. (kia/palu ekspres)






