PALU EKSPRES, TOLITOLI- Puluhan bungkus nasi kuning berjejer di atas dua meja bertaplak tepat di sebuah pelataran Cafe Tamaki Kabupaten Tolitoli. Selembar kertas putih bertulis nasi kuning gratis Jumat berkah, dipajang sebagai tanda menu itu siap disantap siapa saja yang melintas.
Ini Jumat kedua sang pemilik cafe melalukan hal itu. Setelah Jumat 19 Juni 2020 pekan lalu. Tujuannya semata berbagi berkah atas usaha cafenya yang dirintis sejak tiga tahun silam.
Cafe Tamaki memang menjadi salah satu pilihan tongkrongan di kota berjuluk kota cengkeh. Letaknya strategis, di sudut perempatan jalan Usman Binol dan Hasanuddin, Kelurahan Baru. Pengunjungnya terbilang ramai karena berada disatu titik jantung kota.

Sebab itu pula, nasi kuning gratis yang disediakan pemilik cepat ludes. Karena Jalan Usman Binol dan Hasanudin adalah dua ruas jalan protokol yang selalu ramai dilintasi pengendara. Juga menjadi jalan utama tempat hilir mudik warga yang bekerja sebagai Abang Becak. Mengantar jemput penumpang.
“Tidak sampai dua jam, nasi kuning yang kami sediakan sudah habis. Alhamdulillah karena mayoritas yang datang mengambil itu kebetulan adalah saudara kita Abang becak,”sebut Risman Anas, pemilik cafe Tamaki.
Becak masih tetap menjadi pilihan transportasi umum bagi warga kalangan bawah di ibu Kota Tolitoli. Meski kian tergerus zaman. Kondisi ini membuat ekonomi para Abang becak disana semakin sulit.
Risman pun mengaku niat ingin membagi rezeki itu langsung bersambut. Nasi kuning berkah yang ia siapkan ternyata lebih banyak diambil Abang becak yang setiap saat hilir mudik di depan tempat usahanya.

Pendapatan Abang becak kata dia kini sangat memprihatinkan. Upah yang didapat dalam sehari mengayuh mungkin hanya bisa untuk mencukupi kebutuhan makan hari itu.
Berbagi nasi kuning ini menurutnya untuk memaknai kewajiban ibadah puasa bagi umat muslim. Yakni sebuah ruang untuk bagaimana seseorang juga bisa merasakan kesulitan ekonomi yang sedang dialami orang lain.
“Saya hanya ingin berbagi rezeki kepada orang yang membutuhkan. Itu kewajiban kita bagi yang bisa membatu. Itulah sebenarnya tujuan puasa, agar kita mengetahui bagaimana rasanya kalau kita serba kekurangan. Dan saya pernah merasakan itu,”ujar Risman.
Selain abang becak, nasi kuning gratis yang ia siapkan juga kerap disinggahi para buruh pengangkut sampah. Dua profesi ini ujar Risman hampir pasti kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Karena itu dirinya berencana mengajak rekan-rekannya yang mapan secara ekonomi ikut bergabung dalam kegiatan sosial ini. Agar aksi sosial tersebut bisa terus dilalukan secara luas dan berkelanjutan.
“Saya mengajak teman yang mau berbagi. Meski hanya 5 atau 10 bungkus. Lalu sama-sama kita siapkan di cafe tamaki jam 7 pagi setiap hari Jumat,”ucapnya.
Pengusaha developer ini juga mengaku tengah merintis usaha peternakan ayam potong dan ayam kampung super di sebuah desa di Kecamatan Galang. Ia berharap usaha itu bisa berkembang pesat nantinya.
“Insyallah berjalan lancar. Saya punya niat, kalau usaha itu berhasil, lauk dalam nasi kuning berkah bisa ditambahkan daging ayam,”pungkasnya. (mdi/palu ekspres)






