Oleh Hasanuddin Atjo
Pandemic Covid-19 berdampak kuat terhadap kondisi ekonomi negeri ini. Di kuartal satu tahun 2020 ekonomi hanya tumbuh 2,97 % separuh dari target. Di kuartal dua anjlok di luar prediksi, tumbuh -5,31% . Situasi ini menyebabkan pemerintah menjadi kuatir atas perkembangan ekonomi di kuartal tiga dan empat.
Karena itu Presiden Joko Widodo bersama jajarannya berupaya keras agar ekonomi di kuartal tiga dan empat tidak lagi tumbuh negatif dengan tujuan bisa terhindar dari jebakan krisis ekononi. Sejumlah regulasi maupun intervensi telah diambil antara lain melonggarkan PSBB, bantuan dana stimulant, dan kelonggaran pembayaran pinjaman bagi UMKM.
Harapan tumbuh positif di kuartal tiga semakin tipis, karena menteri Sri Mulyani memberi sinyal bahwa ekonomi negeri di kuartal tiga sulit tumbuh seperti yang diharapkan. Sejalan dengan hal itu Faisal Basri, Direktur executIve CORE (Center of Reform on Economics) Indonesia, memprediksi bahwa di kuartal tiga 2020 ekonomi tumbuh -2%, namun lebih baik dari kuartal dua 2020 yang tumbuh – 5,3%.
Secara sederhana tumbuh negatif dapat diterjemahkan bahwa nilai investasi tambah ekspor lebih kecil daripada nilai konsumsi tambah impor. Dan terpenting dalam situasi seperti ini bagaimana kita mampu keluar dari tekanan dan tidak lama terjebak dalam krisis ekonomi yang dalam.
Kondisi seperti ini tentunya menjadi tantangan dan PR berat pemerintah dan seluruh stakeholders terkait, oleh karena besar kemungkinan Indonesia terjebak dalam krisis yang dalam, sebagai konsekuensi dari tumbuh negatif pada dua kuartal berturut-turut. Namun kita masih optimis untuk tumbuh positif pada kuartal empat dan di tahun 2021, karena kuartal tiga ekonomi negeri ini tidak terperosok sedalam kuartal dua.
Menyikapi sutuasi dan kondisi yang memprihatikan , masing-masing daerah berupaya mempercepat pemulihan ekonominya yang lagi terpuruk termasuk di Sulteng melalui peningkatan investasi dan ekspor serta mengurangi konsumsi dan impor. Dan salah satu bagian kecil dari upaya itu adalah inisiasi yang dilakukan oleh sejumlah pihak di daerah ini.
Di Kamis Sore 27 Agustus 2020 bertempat di cafe Tanaris, saya bersama Direktur Utama Bank Sulteng Rahmat Abdul Haris dan Ketua DPD HIPMI Sulteng Ishak Basir Khan, pelaku usaha Mall di Sulteng, Karma Karim bersama sejumlah pengusaha muda Sulteng kembali melaksanakan meeting 2 terkait pengembangan pangan di Sulteng khususnya udang vaname.
Sejumlah agenda dibahas antara lain: menyatukan persepsi dengan para pelaku usaha tergabung di HIPMI Sulteng untuk terjun ke bisnis udang. Pengusaha muda ini sebelumnya kebanyakan berusaha di usaha jasa seperti konstruksi, penyewaan, percetakan dan properti. Direktur bank Sulteng membuka acara dan saya orang pertama diberi kesempatan untuk mengemukakan pandangan.
Ada dua komoditas yang selalu diperebutkan yaitu pangan dan energi. “Siapa yang menguasai pangan dan energi, maka dia akan menguasai dunia”. Indonesia sesungguhnya memiliki peluang itu.
Karena sebagai negara kepulauan, memiliki iklim tropis yang dapat berproduksi sepanjang tahun.
Dipilihnya komoditas ini didasari beberapa pertimbangan antara lain: Pertama, sebagai lanjutan kerjasama DKP Sulteng, KADIN, HIPMI dan Bank Sulteng di tahun 2018, bagi pengembangan pangan khususnya intensifikasi vaname yang terpending karena dihadang bencana di tanggal 28 September tahun 2018.
Kedua, ekspor komoditas pangan daerah ini sangat minim padahal daerah ini notabenenya potensial di sektor ini. Saat ini trend investasi di budidaya vaname terus meningkat dan tercatat sekitar 14 investor luar Sulawesi Tengah telah berinvestasi pada usaha ini, sayangnya investor lokal masih terbatas, dan kalau ada sebatas investasi usaha skala kecil dengan teknologi sederhana. Kita ingin HIPMI Sulteng memanfaatkan peluang ini dengan menerapkan teknologi yang lebih maju.
Ketiga melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan di bawah koordinasi Menko Maritim dan Investasi akan meningkatkan produksi udang nasional sebesar 250 persen pada tahun 2024, dari 500 ribu ton menjadi 1.270 ribu ton. Ini menjadi peluang bagi Sulteng yang memiliki 4 kawasan perairan yaitu teluk Tolo, teluk Tomini, selat Makassar serta laut Sulawesi. Dan satu-satunya provinsi yang memiliki keunggulan seperti ini.
Diakhir pandangan, disampaikan bahwa ada 5 pilar kesuksesan dalam usaha budidaya vaname yaitu adanya (1) Jaminan pasar, (2) Jaminan teknologi, (3) Jaminam
Input produksi, (4) jaminan modal. Keempatnya di Sulteng sudah ada termasuk kesiapan bank Sulteng dan saya sebagai tenaga ahli siap memberikan pendampingan. Dan yang ke (5) HIPMI Sulteng belum ada “keberanian” untuk bergeser ke bisnis vaname dari bisnis jasa. Semua pada tertawa lepas karena sejak beberapa tahun lalu mereka sudah ditantang untuk itu.
Sebagai simpulan dari meeting 2 yang berlangsung hampir 2 jam antara lain akan dibuat role model yaitu bisnis modelnya dan contoh budidayanya yang akan terapkan teknologi Supra Intensif skala kecil, disebut “tambak udang milenial”. Diharapkan di awal tahun 2021 role model ini sudah dapat diwujudkan dan dilihat untuk menjadi contoh bagi HIPMI di kabupaten dan kota. SEMOGA.






