Minggu, 5 April 2026
Opini  

Radio Republik Indonesia

NUR sangadji
Nur Sang Adji. Foto: Dok

Oleh Muhd Nur Sangadji

TIDAK banyak radio di dunia ini yang hari kelahirannya berhimpit dengan hari kemerdekaan bangsanya. Radio Republik Indonesia adalah salah satu atau satu satunya. Karena itu, namanya layak disandingkan dengan nama negara. Negara Republik Indonesia. Negara Republik Indonesia ini merdeka pada 17 Augustus 19945. Dan, Radio Republik Indonesia didirikan pada 11 September 1945. Selang waktunya kurang dari satu bulan. Itulah sebabnya, semangat kejuangannya berpadu dalam tekad. Sekali merdeka tetap merdeka. Dan, sekali di udara tetap di udara.

Saya tergerak menulis ini saat menghadiri musyawarah Angkasa Fan’s club (AFC) Palu. Sebuah organisasi sukarela (foluntiere) yang menghimpun para pendengar setia RRI Palu. Umurnya sudah dua puluhan tahun. Spirit yang dibangun dalam sambutan Kepala RRI Palu, H. Ferdy Kusna sangat menginspirasi. Membuat saya merefleksi banyak hal terkait. Makanya, tulisan ini saya gores.


Seorang sahabat asal Inggeris yang pernah tinggal di Palu pada era 90 an. Mr. Duncan. Bekerja untuk TNC (the nature conservation) di era itu. Dia pernah bicara tentang radio. Beliau bilang, teman yang paling fleksibel adalah radio. Mengapa.? Sebab, sambil mendengar radio, pekerjaan lain masih bisa dilakukan. Teringat di era 1990 an saat masih tinggal di Europa. Radio bertajuk “France Info” adalah sahabat saya yang paling setia. Informasi yang menggema setiap lima menit itu, mengabarkan berita seantero bumi.Informasinya sangat “Up to date”. Dari radio inilah, saya tahu informasi dengan sangat cepat.

Saya tidak tahu bagaimana mereka mengelola korespondensinya. Sehingga, informasi dari pelosok mana pun di kosmos ini, terkabarkan berganti dan terus menerus. Pengetahuan kita bertambah tentang kejadian mondial. Juga, kerinduan kita akan kampung halaman terobati.


Lain lagi dengan Inggeris Belanda dan Australia. Di sini ada radio siaran Indonesia. Di umur SMP, saya telah sering mendengarnya. Khusus untuk Australia. Kita yang hidup di tahun 70-80 an. Pasti, ingat suara khas berdiksi : bangun, bangun, bangun, bangun,, bangun…..!.Pemilik suara itu, Kang Ebet dan Bung Nuim El Hayat. Kang Ebet sudah Wafat. Bung El Hayat masih ada. Tahun 1998, saya beruntung berjumpa di kota Melbourne. Beliau memang menetap di kota itu.

Sampai kini, kita masih menikmati ulasan beliau tentang apa saja kejadian aktual global. Disiarkan langsung dari Australia. Siarannya bernama “post card from Melbourne”. Ulasan kata dengan analysis dan informasi mengalir alamiah. Kita beruntung punya lagendaris sekelas beliau.

Sesunguhnya di setiap tempat ada vigur yang melagenda. Ada yang telah wafat mapun yang masih hidup. Di RRI Palu sebagaimana diungkap kepala RRI. Kita punya Om Kota. Ayuba Lasira. Beliau ini sudah saya dengar suaranya semenjak tiba di Palu tahun 1982. Tiga puluh sembilan tahun yang lalu. Kini, beliau masih tetap eksis. Orang yang sederhana dan bersahaja. Layak menjadi patron.


Adalah Gery Vaynerchuk, sang motivator asal Belarusia yang sukses di Amerika. Dia bilang ini : “you are gonna die, so, do something about it”. (kamu semua akan mati, maka lakukan sesuatu untuk itu). Dia juga bilang, “look yourself in the mirror and ask yourself, what do I want to do every day for the rest of my life… do that..(lihat diri mu di cermin.. dan katakan pada diri mu,, apa yang ingin saya lakukan setiap hari untuk masa hidup yang tersisa….,lakukanlah.” Di umur RRI yang ke 75 dan umur kita yang se berapa pun. Nasehat dan motivasi Gery tersebut layak direnung. Dirgahayu RRI ke 75. Bangkitlah AFC (Angkasa Fan’s Club) Palu. Teruslah memberi karena “live is giving”. Semoga