PALU EKSPRES, PALU – Poltracking Indonesia merilis hasil survei elektabilitas Pasangan Calon (Paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Sulteng periode 20-24 Oktober 2020. Pada periode ini survei poltracking menunjukkan Paslon nomor urut 2, Rusdi Mastura – Ma’mun Amir meraih elektabilitas 56,8 persen. Dengan Margin of Eror (MoE) sebesar 2,8persen. Jika bertambah dari nilai MoE maka hasilnya bisa mencapai 59,6 persen. Dan jika berkurang hasilnya ke 54,0 persen.
Sementara Paslon nomor urut 1, Hidayat Lamakarate-Bartholomeus Tandigala hanya berada pada 25,0 persen. Dengan MoE juga sebesar 2,8 persen. Yang artinya jika bertambah dari angka MoE maka hasilnya bisa naik menjadi 27,8 persen. Dan jika berkurang dari angka MoE, maka hasilnya 22,2 persen. Selanjutnya Poltracking juga mencatat persentase yang merahasiakan jawaban sebesar 7,5 persen. Dan yang belum mempunyai pilihan sebesar 12,7 persen.
Faisal Arif dari Poltracking Indonesia mengatakan, jumlah responden pada survei ini sebanyak 1200responden. Samplenya kata Faisal diambil secara acak dari setiap periode survei. “Setiap periode survei respondennya tidak sama dengan survei periode sebelumnya, “kata Faisal, Senin 2 November 2020.
Ada tiga kesimpulan yang ditarik dari survei ini. Pertama Poltracking menemukan bahwa dalam pernyataan kandidat tunggal, Rusdi Mastura unggul lebih unggul 55,0persen dari Hidayat Lamakaratte yang hanya mencapai 24,0persen. Merahasiakan jawaban sebanyak 6,9persen dan undeciaded voters sebesar 14,1persen.
Demikian halnya elektabilitas kandidat tunggal calon wakilnya. Ma’mun Amir unggul 51,5persen dan Batholomeus Tandigala hanya 20,5persen. Sesuai pertanyaan dengan simulasi surat suara, elektabilitas Paslon nomor urut 2 sebesar 56,8persen. Sedangkan nomor 1 hanya 25,0persen. Dengan jumlah yang merahasiakan jawaban sebesar 5,5persen dan undecided voters sebanyak 12,7persen.
Menurut Faisal, metode pertanyaan dengan responden mencoblos kertas simulasi mempunyai validasi jawaban lebih baik dibanding jawaban responden yang disampaikan kepada interviewer survei. Kesimpulan kedua juga menunjukkan Paslon 2 unggul signifikan pada pemikib laki-laki dan perempuan. Unggul dari segmen pemilih agama Islam. Namun kedua Paslon berimbang dari segmen pemilih protestan dan Katolik. Berikutnya unggul dari kalangan pemilih dari semua jenjang pendidikan. Paslon nomor urut 1 hanya unggul pada segmen pemilih berpendidikan diploma.
Dari segmen pemilih berdasarkan usia, Paslon nomor 2 unggul disemua kategori usia. Sedangkan pada segmen pemilih kelompok suku, Paslon nomor 2 unggul sebesar 60,9 persen dari pemilih suku Kaili. Bugis 64,4 persen, suku saluan 91,0 persen, Bali 40,0 persen, Buol 37,5 persen, Jawa 62,3 persen, Gorontalo 65,2 persen, Mori 58,8 persen, Lauje 57,6 persen, Bungku 20,0 persen, Kulawi 31,6 persen, Balantak 83,2 persen, Tialo 50,0 persen dan Bare,’e 64,7 persen.
Paslon nomor 1 hanya unggul pada suku Banggai yakni 50,6persen, Pamona 62,9 persen dan Bajo 40,0 persen.
Selanjutnya kesimpulan dari basis politik pemilih juga menunjukkan konsistensi peta sebaran suara pemilih berdasarkan basis politik bagi Paslon 2, meski menunjukkan anomali (split ticket voting). Paslon nomor 2 yang diusul banyak partai memiliki soliditas pemilih yang tinggi. Sedangkan pemilih partai Gerindra dan PDIP yang mencalonkan Paslon nomor 1 terlihat solid memilih Hidayat dan Batrholomeus. Dengan angka dari pemilih Gerindra sebesar 60,7persen dan PDIP sebesar 51,9persen.
Faisal menegaskan, lembaga survei ini tidak berafiliasi dengan salahsatu Paslon Cagub dan Cawagub Sulteng. Namun ia mengaku survei yang mereka lakukan memang menjadi pesanan dari salahsatu Paslon.
Hanya saja ujar Faisal, terhadap hasil survei yang mereka lakukan, Paslon pemesan tidak boleh mengintervensi angka-angka persentase yang mereka dapatkan. “Hasilnya tidak boleh dianggu gugat oleh pemesan,” tegasnya.(mdi/palu ekspres)






