Minggu, 5 April 2026
Palu  

Populasi Tembus 8,42 Persen, Lansia di Sulteng Perlu Perhatian

Kaper BkkbN Sulteng, Maria Ernawati dalam rapat bersama pengelola bina keluarga balita (BKL) dan kader BKL proyek prioritas nasional (Pro PN), di Hotel Jazz Palu, Rabu 11 November 2020. Foto: Istimewa.

PALU EKSPRES, PALU– Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan persentase jumlah populasi Lanjut Usia (Lansia) di Wilayah Sulteng tahun 2020 sudah mencapai 8,42 persen. Persentase ini naik dari tahun 2019 yang hanya sebesar 8,15 persen dari jumlah total penduduk.

Kepala Perwakilan BkkbN Sulteng, Maria Ernawati, mengemukakan hal ini saat rapat bersama para pengelola bina keluarga balita (BKL) dan kader BKL proyek prioritas nasional (Pro PN), di Hotel Jazz Palu, Rabu 11 November 2020.

Tahun 2019, kata Erna, terdapat 5 provinsi yang memiliki struktur penduduk tua. Dimana penduduk lansianya sudah mencapai 10persen. Antara lain DI Yogyakarta sebsar14,50 persen, Jawa Tengah 13,36 persen, Jawa Timur, 12,96 persen, Bali 11,30 persen dan Sulawesi Barat 11,15 persen.

Meningkatnya populasi lansia menurutnya membuat Indonesia memasuki aging population. Yaitu suatu kondisi yang mana proporsi penduduk Lansia meningkat pesat. Karena itu, nasib kelompok rentan ini harus diperhatikan.

“Aging population mulai terasa jika jumlah lansia mencapai 10 persen. Populasi lansia sekarang sudah 9,6 persen. Ketika Indonesia memasuki usia 100 tahun pada 2045, yang sering digaungkan sebagai Indonesia Emas, sesungguhnya diprediksi akan mulai melonjaknya populasi lansia, yaitu 19 persen,”jelasnya.

Populasi lansia di Sulteng, jelas Erna, cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi ini perlu menjadi perhatian semua pihak. Semisal menyusun regulasi dan konsep baru dalam penanganan lansia. Diman pemerintah perlu membuat konsep-konsep pemberdayaan lansia.

“Pemerintah perlu mempersiapkan lansia agar tetap sehat dan aktif, adanya tempat yang layak bagi para lansia seperti konsep kota ramah lansia dan layanan umum untuk lansia, dan menyusun cara-cara baru agar lansia menjadi produktif,”paparnya.

Sementara itu, Kepala Sub Bidang Bina Ketahanan Balita, Anak, dan Ketahanan Keluarga Lansia (BKB, Anak, dan KKL) Perwakilan BKKBN Sulteng, Sakkirang, dalam laporannya mengatakan, pada tahun 1960-an terjadi ledakan penduduk (baby boomer).

“Baby boomer tersebut kini memasuki usia tua atau lanjut usia (lansia). Artinya, baby boomer akan menyebabkan meningkatnya jumlah lansia,” katanya.

Dia menambahkan bahwa seiring meningkatnya jumlah lansia maka Bkkbn mempunyai program lansia tangguh dengan tujuh dimensinya, yaitu dimensi spiritual, dimensiu intelektual, dimensi fisik emosional, dimensi sosial kemasyarakatan, dimensi profesional, dan dimensi vokasional dan lingkungan.

Selain itu, ada konsep pendampingan perawatan jangka panjang untuk lansia dengan melakukan kontrol kesehatan rutin, kehidupan rohani, pemenuhan nutrisi pada lansia, tidur yang cukup dan nyenyak, melakukan senam otak, menjaga kebersihan badan termasuk gigi dan mulut, melakukan rehabilitasi bagi lansia yang membutuhkan, bersosialisasi dengan masyarakat termasuk dengan lansia lainnya, melakukan kegiatan sesuai minat dan hobi termasuk kesenian serta melakukan kegiatan yang sesuai dengan budaya di mana tinggal. (**/mdi/palu ekspres)