oleh

Peringati Harkannas ke-7, DKP Sulteng Tampilkan Menu Uta Dada

PALU EKSPRES, PALU– Peringatan Hari Ikan Nasional (Harkannas) ke-7 yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, Kamis (26/11/2020), kembali mencatatkan sejarah.
Kegiatan yang diikuti oleh seluruh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi se-Indonesia secara virtual itu berhasil mencatatkan rekor MURI Makan Ikan di Waktu Bersamaan oleh 34 DKP se Indonesia. Kegiatan makan ikan di waktu bersamaan itu sekitar pukul 10.00 WITA.
Usai makan ikan di waktu bersamaan, setiap Provinsi kemudian diberi kesempatan untuk menampilkan menu andalan pada Peringatan Harkannas tersebut.
DKP Provinsi Sulawesi Tengah kali ini yang memusatkan kegiatannya di Aula DKP Sulteng, menampilkan menu andalan yang bercita rasa khas Makanan Kaili. Ini juga sesuai dengan menu favorit Kepala DKP Sulteng, Arif Latjuba.
“Sesuai menu favorit, saya suka masakan Uta Dada. Masakan yang berbahan dasar ikan ini merupakan masakan khas etnis Kaili. Masih ada menu lain yang ditampilkan yang juga masakan khas etnis Kaili,” kata Arif Latjuba ketika mempresentasikan secara virtual menu masakan berbahan dasar ikan pada kegiatan itu.
Dua UKM yang selama ini membuat kuliner berbahan dasar ikan juga diikutsertakan. Yakni, UKM Ngata Nata dan UKM Salsabila.
UKM Ngata Nata misalnya, menampilkan salahsatu produk andalannya, yaitu abon ikan. Produk ini sudah berambah hingga wilayah Papua.
Usai kegiatan, Kepala DKP Sulteng Arif Latjuba menjelaskan melalui momen Harkannas ke-7 ini, tingkat konsumsi ikan di Sulteng bisa lebih meningkat lagi, di mana sebelumnya tingkat konsumsi ikan di Sulteng pada 2019 mencapai 57 kilogram per kapita per tahun.
“Saya yakin tingkat konsumsi ikan di Sulteng bisa lebih meningkat lagi,” kata Arif Latjuba di hadapan sejumlah wartawan.
Keyakinan Kepala DKP Sulteng itu didasari tingkat kesadaran masyarakat Sulteng untuk tetap mengkonsumsi ikan tergolong cukup tinggi. Pandemi Covid-19 ini menurut Arif, bukan menjadi kendala untuk tetap mengkonsumsi ikan. Termasuk ketersediaan ikan sesuai musim ikan, juga bukan menjadi kendala utama untuk tetap mengkonsumsi ikan. Karena masyarakat di Sulteng paham, dengan memperbanyak mengkonsumsi ikan bisa meningkatkan imunitas tubuh.
Kalau misalnya harga ikan relative agak mahal karena pengaruh musim panen ikan, masyarakat di Sulteng tetap memperioritaskan untuk mengkonsumsi ikan. Kalau sebelum harga ikan mahal misalnya, ikan-ikan yang dikonsumsi kelas satu, tentu dengan mahalnya ikan, kelasnya bisa diturunkan.
“Tidak sulit mengimbau masyarakat di daerah ini untuk tetap menjadikan menu utamanya adalah tetap makan ikan,” kata Arif. (bid/palu ekspres)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed