Minggu, 5 April 2026
Opini  

Sosok Jenderal yang Supel

Muhd Nur sangadji
Dr. Ir. Nur Sangadji DEA. Foto: Dok

Oleh Muhd Nur Sangadji (muhdrezas@yahoo.com)

Sebelum menjadi bagian atau pengurus Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT), tidak banyak yang saya tahu tentang Jenderal yang satu ini. Umurnya terpaut bulanan dengan saya. Kami lahir di tahun yang sama, 1962. Beliau di bulan Juli, tanggal 04, dan saya 08 September. Karena itu saya memanggil beliau kakak. Kakak Hamli. Lengkapnya Irjen Polisi. Ir. Hamli. M. E.

Kalau kita lihat sepintas, tidak terkesan sama sekali bahwa beliau adalah perwira tinggi Polisi Republik Indonesia. Penampilannya sederhana. Tenang dan mudah senyum dalam bertutur. Suka mendorong spirit berbuat baik. Tekadnya terlihat jelas, menjaga generasi dari keterpaparan faham radikal dan terorisme. Berkali-kali kami terlibat diskusi serius tentang generasi bangsa. Saya menangkap kesungguhan dan ketulusan berpadu.


Hubungan dengan beliau ini sangat elegan. Secara formal, beliau adalah Direktur Pencegahan Terorisme BNPT yang membawahi atau mengelola FKPT seluruh Indonesia. Beliau ditopang oleh team yang sangat solid dan inovatif. Ibu Dr Andi Intang Dulung dan Letkol Laut, Setyo Pranowo serta “supporting Staf” yang enegik. Selalu menjadi contoh dan inspirasi bagi FKPT untuk kerja kerja cerdas dan disiplin.

Tapi, secara Informal dan “ad-hoc” adalah Yuri tetap lomba menyanyi FKPT se Indonesia. Nah, di lomba inilah, saya merasa sangat akrab dengan beliau secara psikologisnya. Saya mengukur bagaimana rona dan nuansa kepemimpinan beliau dalam hal yang melibatkan penilaian dan keputusan.

Pertama, tahun 2017, FKPT Sulteng mendapat juara dua, lomba lagu FKPT se Indonesia. Judul lagunya, “dream of me”. Mengungkap tentang rindu sepasang kekasih yang hidup berjarak lokasi. Mimpi menjadi penghubungnya. Sulteng dikalahkan oleh FKPT Sulawesi Utara. Judul lagunya “Aline”. Ini lagu Perancis yang bercerita tentang kekasih yang hilang. Kekasih itu bernama “Aline”. Jadi, sama-sama menyanyi tentang kekasih. Tapi, pak Hamli menjatuhkan pilihan pada kekasih dari Perancis. Bukan yang dari Amerika atau Inggris.


Saya bilang pada James,ketua FKPT Sulteng, tahun depan kita bersaing ulang. Dan, benar. Tahun 2018, kompetisi dilakukan lagi. Bagi saya ini kegiatan selingan yang sangat penting. Seni, bahkan bisa menjadi satu solusi dalam menghadapi gerakan radikalisme dan terorisme. Apa hubungannya ?

Seni dan hiburan akan menurunkan ketegangan. Dia juga adalah bidang profesi yang bisa dilakoni anak muda. Tentu, menjadi salah satu jalan agar mereka terhindar dari pengaruh pergaulan buruk. Narkoba, begal, radikalisme dan terorisme.

Pada konpetisi 2018 itu, saya bilang pada James. FKPT Sulteng akan menyanyikan lagu Ambon, “Sio Mama”. Dan, James bilang, dia akan menyanyikan lagu campuran. Berbahasa Inggris dan Spanyol. Saya pikir, celaka. Gugup saya dibuatnya. Tahun lalu, dia menyanyi hanya dengan satu bahasa saja yaitu Perancis. Sudah manang. Kali Ini, dia rencana menyanyi dengan dua bahasa. Pasti lebih keren.


James mencontohkan lagu itu dengan irama yang sangat asyik. Judulnya, “Before the next Tear drop fall” (sebelum air mata berikutnya tumpah). Saya menunggu agak berdebar saat dimulai. Bung Fahruddin alias Fafa yang sangat piawai mengolah perasaan Auden’s itu, mulai beraksi. Beliau mengumumkan juri yang akan menilai adalah Direktur pencegahan BNPT, Pak Hamli. Saya mulai bersemangat kembali.

Dipanggilah satu-satu peserta berdasarkan urutan pendaftaran. Tiba tiba, lagu ambon yang akan saya nyanyikan, telah dilantunkan FKPT Manado. Saya kelabakan. Lagu pilihan favorite, gagal dinyanyikan. Ternyata, James juga gagal menyanyikan lagu pilihannya. Soalnya, pemain elektonnya tidak familiar mengiringinya.

Saya dan James sama sama mencari akternatif judul baru. James memilih “To love somebody”. Dia tetap bernuansa barat. Tidak mengapa. Karena, kita juga ingin membawa BNPT dan FKPT go internasional. Namun, saya banting setir. Bukan hanya nasional atau pop nasional. Bahkan, lagu anak-anak yang sangat akrab dengan telinga audens. Judulnya, “burung kutilang”.

Semula, banyak yang tidak percaya. Namun kemudian, ikut larut melantunkan secara partisipatif. Mungkin ini salah satu pointnya. Semua ikut bergembira.


Irjen Polisi Hamli naik ke podium. Gayanya masih seperti biasa. Mengolah emosi auden’s yang tidak sabar menunggu lama. Diselingi gaya humoris yang natural, sang Yuri ini mengurai perlahan. Kalimat yang paling ampuh yang biasanya beliau keluarkan adalah “keputusan Yuri tidak bisa diganggu gugat”.

Diumumkan dari urutan ketiga. Pilihannya jatuh pada anak muda dari FKPT Sulawesi Barat yang menggemakan lagu pop milenial. Urutan kedua adalah FKPT Sulawesi Utara. Dan, urutan pertama jatuh pada FKPT Sulawesi Tengah. Saya seolah tidak percaya. Burung kutilang memenangkan lomba menyanyi FKPT seluruh Indonesia.

Kawan-kawan memberi analisis. Pak Hamli tidak asal menilai. Semua penyanyi sangat bagus. Perbedaan menyoloknya ada pada hafal atau tidaknya “lyric” yang dinyanyikan. Sedangkan, burung kutilang mungkin punya dua kelebihan ekstra. Pertama, nyanyiannya diikuti oleh Auden’s dengan gegap gempita. Kedua, mewakili konten lokal atau “local wisdom”.


“Kebijakan lokal atau local wisdom atau kearifan lokal”, merupakan isu penting pencegahan dan penanggulangan terorisme. Riset dari BNPT-FKPT membenarkannya. Kearifan lokal ini memudar atau hilang di banyak tempat. Kohesi sosial merenggang dan konflik kian berulang.

Namun, Ini hanyalah analisis individu berkait kompetisi lagunya. Hal yang benar, hanya Pak Hamli dan Tuhan yang tahu. Saya juga merasa tidak perlu mencari tahu. Satu hal yang saya tahu, pak Hamli sebagai yuri telah memutuskan dan menetapkan. FKPT Sulteng juara satu. Kenangan yang menggores dalam hidup. Sulit terlupakan. Saya membanggakan kepada mahasiswa sebagai motivasi, sambil berlindung dari sifat “Riyaa”.

Karena itu, ketika mendengar dari Bu Andi Intang, bahwa beliau akan pensiun. Hadirlah perasaan kehilangan. Saya berusaha untuk tidak larut. Saya bilang dalam hati. Pak Hamli, “I never say goodbye to you”. You are probably only disappear for while”.


Kita harus terus berkomunikasi dan berbuat. Berharap pak Hamli masih ikut serta meskipun sudah pensiun. Dan ternyata, harapan saya terwujud. Mendadak saya dapat telepon dari Bu Andi Intang. BNPT punya kegiatan dialog di Universitas Tadulako Palu di minggu pertama September 2020. Salah satu anggota rombongannya, Pak Hamli. Semoga beliau berkesempatan. Ini penting. Sebab, kerja kita belum selesai. Dedikasi, pengalaman dan kesungguhan beliau perlu diturunkan dan atau diduplikasi.

Dengan begitu, kita terus konsisten mewariskan pada generasi, semua kebaikan untuk menjaga Indonesia. Agar mimpi kita tentang negeri yang aman dan sejahtera sesuai cita-cita proklamasi, dapat terwujud.

Kendati, saat itu, baharu terjadi ketika kuburan kita telah ditumbuhi rerumputan. Selamat jalan Pak Hamli, Sang Jenderal yang Supel. Bhakti mu terpahat abadi pada lembaran sejarah negeri. Masih akan berlanjut, karena pensiun tidak identik dengan berhenti. Karya, pastilah terus mengalir. Berapapun besar atau kecilnya. Berkahlah yang didamba. Walahua’lam bisyawab. Salam kami dari lembah tanah Kaili Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. ***