Ini Dua Kerangka Pemerintah Mengintervensi Stunting

  • Whatsapp
Kaper BKKBN Sulteng, Maria Ernawati dalam sosilisasi Bina Keluarga Balita Holistic Integratif (BKB HI) eliminasi masalah stunting (Emas), Rabu 16 Desember 2020 di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Al khairaat Palu. Foto: Istimewa

PALU EKSPRES, PALU– Tahun 2012 silam, Pemerintah Indonesia telah merancang dua kerangka besar untuk mengitervensi gizi kurang (Stunting). Kerangka Intervensi Stunting tersebut kemudian diterjemahkan menjadi berbagai macam program yang dilakukan Kementerian dan lembaga terkait.

Selanjutnya kerangka intervensi stunting yang dilakukan Pemerintah Indonesia terbagi menjadi dua. Yaitu intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif.

Bacaan Lainnya

Intervensi gizi spesifik merupakan intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang berkontribusi terhadap 30persen penurunan stunting.

Kegiatan intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan dengan sasaran intervensi yang dimulai dari masa kehamilan ibu hingga melahirkan balita.

Demikian Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Maria Ernawati dalam pembukaan sosialisasi sosilisasi Bina Keluarga Balita Holistic Integratif (BKB HI) eliminasi masalah stunting (Emas), Rabu 16 Desember 2020 di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Al khairaat Palu.

Selanjutnya kata Meria Ernawati adalah intervensi gizi sensitif. Yang dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan diluar sektor kesehatan. Intervensi ini berkontribusi pada 70persen penurunan angka Stunting di Indonesia.

“Sasaran dari intervensi ini adalah masyarakat secara umum dan tidak khusus ibu hamil dan balita pada 1.000 HPK,”paparnya.

Menurutnya, kegiatan intervensi gizi sensitif dapat dilaksanakan melalui beberapa kegiatan yang umumnya makro dan dilakukan secara lintas Kementerian dan Lembaga.

Kata dia ada 12 kegiatan yang dapat berkontribusi pada penurunan stunting melalui intervensi gizi sensitif. Salah satunya adalah melalui pemberdayaan keluarga sebagai bentuk pendidikan non-formal.

Dititik ini BKKBN memiliki peranan dalam pemberdayaan keluarga melalui kelompok kegitan Bina Keluarga Balita (BKB) dengan cara Promosi dan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) mengenai Pengasuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan (sejak saat kehamilan hingga anak berusia 2 tahun).

“Target kegiatan tersebut adalah keluarga baduta yang terpapar 1000 HPK,”ujarnya.

Dia mengurai bahwa Sulteng masuk dalam rangking 10 besar sebagai provinsi dengan stunting tinggi.

Berdasarkan data BPS tahun 2019, penduduk Sulteng sebanyak 3,054 juta jiwa yang umumnya mendiami daerah pedesaan dengan presentasi 71 persen.

Jika ditelisik lebih dalam sebut Erna, maka ditemukan bahwa dalam komposisi penduduk Sulteng, pada kelompok umur 0 – 4 tahun, 299.228 jiwa (9,80%).

“Dari jumlah penduduk ini, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan stunting 32,2 persen dan wasting 12,2 persen. Secara nasional, stunting 30,8 persen dan wasting 12,2 persen,”terangnya.

Sementara data Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng tahun 2019, menunjukkan bahwa dari 136.761 bayi bawa lima tahun (balita) ditemukan 29.208 angka stunting atau 21,4 persen dari total balita.

“Angka yang masih tebilang tinggi sehingga memerlukan intervensi yang komprehensif,”katanya.

Stunting jelas Erna disebabkan faktor multi dimensi intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi pervalensi stunting perlu dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita.

Hal ini telah disepakati para ahli di seluruh dunia sebagai saat yang terpenting dalam hidup seseorang. Sejak saat perkembangan janin di dalam kandungan, hingga usia anak 2 tahun menentukan kesehatan dan kecerdasan seseorang.

Oleh karena itu untuk mencetak anak Indonesia yang sehat dan cerdas, langkah awal yang paling penting adalah pastikan pemenuhan gizi ibu dan bayi selama masa kehamilan hingga anak menginjak usia 2 (dua) tahun. Jika tidak terpenuhi, maka anak akan mengalami malnutrisi.

BKKBN sendiri menurutnya dengan core bisnis keluarga memiliki peranan dalam pemberdayaan keluarga melalui kelompok kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB). Dengan cara Promosi dan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) mengenai Pengasuhan 1000 HPK (sejak saat kehamilan hingga anak berusia 2 tahun).

Target promosi dan KIE pengasuhan 1000 HPK adalah calon ibu, ibu hamil, dan keluarga baduta yang terpapar 1000 HPK.

Selanjutnya program Bina Keluarga Balita (BKB) sebagai bagian dari Program KKBPK. Program ini mempunyai tujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran ibu beserta anggota keluarga lainnya yang menjadi anggota kelompok. Dalam membina tumbuh kembang balitanya melalui rangsangan fisik, motorik, kecerdasan, sosial emosional serta moral yang berlangsung dlam proses interaksi antara ibu/anggota kelompok.

“Program BKB akan berjalan dengan baik jika mendapat dukungan dan komitmen dari pemangku kepentingan dan masyarakat akan pentingnya penyiapan kualitas SDM sejak usia dini. Salah satu sinergi yang kita bangun adalah melalui BKB holistik integratif yang terintegrasi dengan Posyandu dan PAUD,”urainya.

Jumlah BKB HI yang dibina BKKBN Sulteng saat ini sebanyak 232 kelompok terbesar di 13 kabupaten/kota.

Pada tahun 2019, jumlah keluarga yang terpapar 1000 HPK hampir 30 ribu keluarga dan tahun ini, ditargetkan 40.996 keluarga dan tagert 2021 juga 40.996 keluarga.

“Pada tahun ini, target keluarga yang terpapar 1000 HPK 40.996 keluarga dengan lokus Kabupaten Banggai, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Morowali. Berkat duukungan Bapak/Ibu terutama penyuluh dan bidan maka target 40.996 keluarga telah kami capai,”demikian Ernawati. (**/mdi/palu ekspres)

Pos terkait