Minggu, 5 April 2026
Daerah  

Erna Paparkan Urgensi 1.000 Hari Pertama Bagi Perkembangan Anak

Kaper BKKBN Sulteng, Maria Ernawati dalam sosilisasi Bina Keluarga Balita Holistic Integratif (BKB HI) eliminasi masalah stunting (Emas), Rabu 16 Desember 2020 di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Al khairaat Palu. Foto: Istimewa

PALU EKSPRES, PALU – Untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal, setiap anak butuh gizi yang cukup dan seimbang. Perawatan dan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan berkesinambungan serta perlindungan terhadap bahaya-bahaya fisik dan penyakit.

Kemudian orang dewasa harus mampu memberikan kasih sayang, perhatian, keamanan dan perlindungan serta memahami dan mampu merespon apa yang mereka butuhkan.

Selanjutnya kesempatan dan lingkungan yang mendukung untuk mengembangkan keterampilan sensorik dan motorik. Kemampuan intelektual, kemampuan bahasa, berinteraksi dengan orang lain, bereksplorasi, mengeluarkan pendapat, memikul tanggung jawab, mengekspresikan apa yang dipikirkannya, kemandirian, dan sebagainya.

Demikian penjelasan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) Maria Ernawat dalam sosilisasi Bina Keluarga Balita Holistic Integratif (BKB HI) eliminasi masalah stunting (Emas), Rabu 16 Desember 2020 di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Al khairaat Palu.

Erna menjelaskan, periode 1000 hari, yaitu 270 hari selama kehamilannya dan 730 hari pada kehidupan pertama bayi yang dilahirkannya, merupakan periode sensitif. Karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi.

Dampak tersebut tidak hanya pada pertumbuhan fisik, tetapi juga pada perkembangan mental dan kecerdasannya, yang pada usia dewasa terlihat dari ukuran fisik yang tidak optimal serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi.

Didalam kandungan, janin akan tumbuh dan berkembang melalui pertambahan berat dan panjang badan, perkembangan otak serta organ-organ lainnya seperti jantung, hati, dan ginjal.

Janin mempunyai plastisitas yang tinggi. Artinya janin akan dengan mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungannya baik yang menguntungkan maupun yang merugikan pada saat itu.

Sekali perubahan tersebut terjadi, maka tidak dapat kembali ke keadaan semula. Perubahan tersebut merupakan interaksi antara gen yang sudah dibawa sejak awal kehidupan, dengan lingkungan barunya.

“Pada saat dilahirkan, sebagian besar perubahan tersebut menetap atau selesai, kecuali beberapa fungsi, yaitu perkembangan otak dan imunitas, yang berlanjut sampai beberapa tahun pertama kehidupan bayi,”katanya.

Kekurangan gizi yang terjadi dalam kandungan dan awal kehidupan, sebutnya bisa menyebabkan janin melakukan reaksi penyesuaian. Secara paralel penyesuaian tersebut meliputi perlambatan pertumbuhan dengan pengurangan jumlah dan pengembangan sel-sel tubuh termasuk sel otak dan organ tubuh lainnya.

Akibat hasil reaksi penyesuaian akibat kekurangan gizi diekspresikan pada usia dewasa dalam bentuk tubuh yang pendek. Rendahnya kemampuan kognitif atau kecerdasan sebagai akibat tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan otak.

Reaksi penyesuaian akibat kekurangan gizi ini juga meningkatkan risiko terjadinya berbagai penyakit tidak menular (PTM) Seperti hipertensi, penyakit jantung koroner dan diabetes dengan berbagai risiko ikutannya pada usia dewasa.

“Berbagai dampak dari kekurangan gizi yang diuraikan diatas, berdampak dalam bentuk kurang optimalnya kualitas manusia. Baik diukur dari kemampuan mencapai tingkat pendidikan yang tinggi, rendahnya daya saing. Yang semuanya bermuara pada menurunnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan keluarga dan masyarakat,”demikian Erna. (**/mdi/palu ekspres).