Terhibur Tingkah Monyet Parigi Moutong

  • Whatsapp
Hasanuddin Atjo. Foto: istimewa
adv

Catatan Ringan Hasanuddin Atjo

Selasa sore, 29 Desember 2020 saya balik dari Parigi Moutong menuju kota Palu. Seperti biasa sengaja mampir di Toboli untuk membeli beberapa sisir pisang.

Bacaan Lainnya

Sepertinya si penjaja pisang itu tahu bahwa pisang ini dibeli untuk diberi ke monyet-monyet yang menunggu makanan dari pengendara yang lewat di pendakian Toboli-Tawaili KM 10 -15

Dengan uang sepuluh ribu rupiah , saya diberi 3 sisir pisang oleh si penjaja. Dalam hati saya berkata murah sekali. Kemudian sambil tersenyum dia berkata: untuk monyet ya pak?. Saya juga jadi tersenyum sambil menganggukan kepala, mengiyakan. Dan ternyata dugaan saya benar

Sebelum sampai ke kilometer 10, saya kagum juga dengan si penjaja itu. Meskipun hanya penjaja pisang yang bersangkutan masih ada rasa memiliki terhadap kelangsungan hidup dari monyet-monyet yang kelaparan dan relatif sudah jinak. Boleh jadi ekosistemnya terganggu dan ketersediaan makanan sudah menipis.

Kasus monyet ini mungkin perlu dikaji oleh anak-anak Mahasiswa Kehutanan jurusan konservasi, bahkan bila perlu menjadi tugas akhir untuk penyusunan skripsi atau tesis. Lebih baik lagi kalau Pemerintah Daerah memberikan dukungan untuk pengkajian. Dari pengkajian ini tentunya akan lahir sejumlah rekomendasi yang basisnya akademik.

Ketika tiba di KM 12, sudah terlihat beberapa kendaraan mampir memberi makanan ala kadarnya. Ketika pisang dilemparkan ke arah kelompok monyet, mereka pada menyerbu dan berebutan. Rupanya berdasarkan referensi pisang salah satu buah yang paling digemari.

Ada sekitar 30-an ekor populasi saat itu. Berdasarkan pengamatan rupanya ada yang dituakan atau menjadi raja, dan badanya besar. Setiap pisang yang dilempar si Raja harus mengambil terlebih dahulu dan anggotanya mempersilahkan. Demikian pula lemparan berikutnya, monyet lain yang akan mengambil melihat ke rajanya dulu, seperti meminta persetujuan. Kalau tidak ada gerakan raja yang melarang baru diambil.

Terlihat ada dua ekor monyet kecil. Satu di ranting pohon di dinding gunung, namun tidak melompat turun untuk berebutan pisang. Boleh jadi sedang dihukum oleh rajanya. Satunya lagi tiba tiba naik ke kap mobil depan dan dia tidak ada yang ganggu sehingga dapat pisang lebih banyak. Dan terakhir si monyet kecil membuat gerakan tambahan, karena makan pisang di atas spion mobil.

Istri yang kebetulan ikut bersama berkomentar si monyet kecil ini termasuk cerdas karena berani naik ke kap mobil dan bisa memperoleh pisang lebih banyak. Kemudian saya timpali ke driver: seharusnya di bawa ke Palu monyetnya untuk jadi topeng monyet. Kami bertiga tertawa karena rasa lucu. Setelah pisang habis kami meneruskan perjalanan.

Setidaknya ada dua pesan moral yang tersirat dari artikel ini, pertama bahwa masih ada yang peduli, termasuk penjaja pisang akan keberadaan monyet-monyet yang kemungkinan sudah kesulitan makanan. Kita berharap semakin banyak yang bisa jadi follower.

Kedua kiranya ada kajian akademik terkait keberadaan monyet-monyet tersebut sebagai asset daerah yang bernilai. Dan dari kajian itu akan ada rekomendasi yang lahir terkait pengelolaannya. Karena sudah tiba di Palu artikel ini diakhiri. SEMOGA TERHIBUR

Pos terkait