Minggu, 5 April 2026
Opini  

Covid-19: Damai atau Adaptasi..?

Nur sangadji. Foto: Dok

Oleh Nur Sang Adji (muhdrezas@yahoo.com)

Di tengah keruwetan dan karut marut penanganan Covid- 19, muncul gagasan untuk berdamai. Ya, berdamai dengan virus. Penggagasnya, Presiden kita. Banyak yang menolak. Tapi. banyak juga yang membela. Biasalah, setiap gagasan akan selalu ada pro kontranya.

Pertanyaannya, bisakah kita berdamai dengan virus ? Entahlah. Karena itu, kawan- kawan SiDeGo (scientific institut for development and government) Maluku Utara mengangkatnya sebagai topik. Diformat dalam bentuk webinar, beberapa waktu silam. Saya sempat diberi waktu untuk mengulas. Maka, ini beberapa pemikirannya.

BERDAMAI

Saya tidak tahu siapa yang bilang kata kata ini. “if you can not fight your enemy, than think how to make them for being your friend”. Menarik, tapi bagaimana kalau yang kita hendak jadikan sahabat ini adalah virus ? Dia siap menyerang kita sewaktu waktu. Celakanya, dia tidak kelihatan. Saya fikir, dia juga tidak melihat kita. Jadi, sebetulnya adil fair atau draw.

Lantas kita bilang, dia tidak terlihat tapi menyerang kita. Sebaliknya, kita juga menyerang dia. Memakai deterjen saat mencuci tangan, adalah bentuk penyerangan balik terhadap virus ini. Berarti, saling menyerang. Di sini, kata-kata damai, sedikit mendapat ruang logika. Masalahnya, kita dengan virus tidak bisa berkomunikasi. Padahal, berdamai itu, butuh kesepakatan. Sering orang bilang genjatan senjata.

Ada juga falsafah damai itu, indah sekali diukir orang. Saya temukan di naskah undangan sebuah pernikahan. Karena itu, tidak ada riwayat citasinya. Tapi, kalimatnya indah menginspirasi. “Peace come from the spirit of understanding, and the fundamental of understanding, is willingness to listen”.

Damai itu datang dari semangat untuk saling mengerti. Dan, hakikat paling pokok dari saling mengerti itu adalah kemauan untuk saling mendengar. Saya berfikir, mungkin inilah soalnya. Kita mengalami kesulitan dalam hal saling mendengar. Rakyat tidak mau dengar pemerintah. Sebaliknya, pemerintah juga enggan mendengar rakyatnya.

ADAPTASI

Mengapa jadi begitu ?. Beberapa analis dunia membandingkan cara berbagai negara hadapi bencana, termasuk Covid- 19. Negara yang berhasil, umumnya menjadikan pendekatan ilmu pengetahuan sebagai basis bertindak. Sementara negara gagal, umumnya menggunakan pendekatan politik. Benar atau tidak, silahkan mengukurnya. Tapi ada fakta, presiden dijatuhkan (coup d’etat) gara-gara Covid- 19. Presiden Brazil, Jair Bolsonaro.

Ternyata, damai yang dimaksud itu, adalah adaptasi. Saya berfikir, kaidahnya mulai mengena. Kalau begitu, mengapa tidak langsung disebut adaptasi saja ? Tapi sudahlah, barangkali damai itu bahasa politik. Sedangkan, adaptasi itu bahasa ilmu pengetahuan. Mari rukunkan keduanya agar bermakna sama.

Di dalam ilmu lingkungan, dikenal tiga pendekatan dalam menghadapi musibah. Mitigasi, alternatif dan adaptasi. Kalau kita menumpang kereta api Bogor ke stasiun kota Jakarta. Kita akan lewati stasiun Gambir. Di sebelahnya ada Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Suara kereta diasumsikan mengganggu dua tempat ibadah itu. Maka tindakan mitigasinya adalah dipasangkan dinding kaca meredam suara di samping luar rel kereta api.

Bila tidak menyelesaikan masalah kebisingan. Boleh cari alternatif lain. Pindahkan rel kereta atau masjid dan gereja. Tapi, ini pasti sulit. Maka, adaptasi dapat dipilih. Orang beribadah sambil dengar suara kereta api. Lahirlah kebiasaan baru (new normal behavior).

NEW NORMAL

Bupati Poso, Muin Pusadan, saat terjadi konflik horisontal, pernah berkisah. Waktu beliau pulang ke Palu, mengeluh kesulitan tidur. Masalahnya, karena tidak terdengar lagi suara bunyi tembakan. Justru, pada keadaan kota Poso yang bising oleh suara letupan, beliau tertidur. Lihatlah, betapa kebiasaan itu terbentuk oleh keseringan.

Cerita kebisingan kereta menjadi lain, bila teknologi perkereta apian kita berkembang. Sama dengan kereta api Jepang, Shinkansen. Atau, Perancis, TGV (Train Grande a Vitesse). Kedua jenis kereta ini kecepatannya di atas 400 an km/jam. Hampir setengah kecepatan pesawat udara. Sangat cepat, tapi suaranya halus sekali. Bandingkan dengan kereta kita yang rata-rata hanya sekitar 150 km/jam dengan suara bergemuruh.

Jadi, teknologi sebagai produk ilmu pengetahuan, menjadi pilihan solusi. Covid- 19 juga sedang menunggu peran pengetahuan dan teknologi ini. Tentu, di bidang kesehatan. Produknya bernama “vaksin”. Sayang, sampai kini, meskipun sudah ada wujudnya. Implementasinya masih penuh keraguan.

Maka, tibalah kita pada simpulan akhir. Yaitu, bahwa Covid-19, adalah reaksi alam atas tindakan menyimpang (deviant behavior) yang kita produksi. Berdamai ataupun adaptasi menjadi tidak penting lagi untuk disoal. Pengakuan (recognition) bahwa kita harus hadapi bersama (collective awarness) dengan semua cara yang benar. Itu lebih penting. Kekompakan (togetherness) menjadi taruhan. Karena, tanpa itu, kita bakal musnah bersama. Serentak atau perlahan. Wallahu a’lam bi syawab. Selamat memasuki tahun baru 2021. ***