Minggu, 5 April 2026
Opini  

Mewujudkan Tujuan Pendidikan

MHD Natsir. Foto: Istimewa

Oleh MHD. Natsir (Dosen Jurusan PLS FIP UNP)

BERBAGAI persoalan pendidikan saat pendemi ini masih berkutat pada kebutuhan belajar daring yang belum bisa dilaksanakan secara efektif. Kesulitan yang paling dirasakan di antaranya adalah oleh orang tua, pendidik dan anak yang terlibat dalam proses belajar. Kesulitan oleh orang tua di antaranya adalah belum bisa beradaptasi dengan pembelajaran dalam kondisi pandemi. Mengatur waktu antara tuntutan menyelesaikan pekerjaan yang sangat menentukan keberlangsungan ekonomi keluarga dengan waktu yang harus disediakan dalam mendampingi anaknya belajar. Kesulitan ekonomi menjadikan mereka tidak bisa memfasilitasi kebutuhan belajar anaknya secara maksimal.

Belum lagi keterbatasan orang tua dalam menggunakan tekonologi, sehingga berakibat pada efektifitas anak dalam belajar. Orang tua yang tidak memahami teknologi digital, tidak akan tahu kalau anaknya lebih banyak menggunakan kuota untuk main game dibanding kebutuhan belajarnya. Begitu juga persolan sinyal yang tidak merata di setiap daerah, sehingga mereka harus berjuang sampai ke puncak bukit untuk bisa belajar.

Namun tanpa mengabaikan kesulitan teknis yang dirasakan oleh seluruh komponen yang terlibat dalam pendidikan, maka kompetensi yang diharapkan dari peserta didik dalam setiap proses belajar menjadi persoalan yang harus diperhatikan. Kompentensi kognitif, afektif, dan psikomotorik harus dilatih dan diasah meskipun dalam kondisi belajar daring. Sayangnya saat ini proses yang sedang berlangsung masih seputar teknis belajar daring. Belum masuk pada substansi materi pembelajaran yang mampu meningkatkan ketiga kompetensi tersebut. Tentu kita sangat khawatir dengan sumber daya dan karakter anak didik kita di masa depan, apabila pembelajaran hanya fokus pada kemampuan kognitif dan melupakan kompetensi yang lainnya.

Apabila kita pahami kembali tujuan dari pendidikan nasional, maka tidak ada pernyataan yang secara tegas menjelaskan bahwa kemampuan kognitif, pintar dan cerdas menjadi tujuan utama pendidikan. Tetapi mengembangkan potensinya sebagai manusia agar memiliki akhlak mulia serta kecakapan untuk bertahan hidup adalah bagian penting dari pendidikan. Seperti yang termaktub dalam UU Sisdiknas Menurut UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Memiliki akhlak mulia dan taat pada Tuhannya adalah bagian penting dari tujuan pendidikan yang harus diwujudkan.

Tetapi apabila ditelisik pelaksanaan pembelajaran daring yang sudah berjalan selama ini memperlihatkan bahwa akhlak mulia belum menjadi prioritas. Aktivitas belajar daring lebih bersifat mekanis. Hubungan antara pendidik dengan siswa yang terjalin melalui media digital belum memperlihatkan arah pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

Komunikasi yang dijalin dalam pembelajaran terkesan sekedar membahas materi pelajaran dan hanya menilai kemampuan siswa menjawab setiap pertanyaan yang diberikan pendidik. Padahal poin penting dari tujuan pendidikan lebih kepada perubahan perilaku peserta didik sehingga mampu mengembangkan potensi dirinya untuk bisa menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya

Hal ini tentu saja harus dicegah, agar proses belajar bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan pendidikan. Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian agar proses belajar daring selama pandemi ini bisa memenuhi tujuan pendidikan itu sendiri. Pertama, menjalin komunikasi yang efektif dengan siswa dalam setiap proses pembelajaran. Pertemuan tidak boleh kaku yang hanya semata bicara tentang pembelajaran hari itu. Bisa saja dibuatkan belajar yang rileks tanpa harus terbebani dengan tugas yang sangat membosankan bagi siswa. Karenanya memberikan tugas sebanyak-banyaknya pada siswa, bukanlah solusi apabila pendidik tidak bisa menjelaskan materi belajarnya dengan baik.

Kedua, pendidik haruslah disiplin dan konsisten dalam memberikan materi pembelajaran. Jadwal yang disusun seharusnya bisa dilaksanakan dengan baik. Kemampuan pendidik dalam membelajarkan peserta didiknya akan sangat membantu mereka dalam memahami pelajarannya di rumah. Sehingga mereka bisa mengulang kembali materi pelajaran yang dijelaskan pendidik, meskipun pelajaran sudah berakhir.

Ketiga, pendidik haruslah memberikan sentuhan emosional kepada peserta didiknya di setiap pertemuan pembelajaran. Sentuhan emosional yang dimaksud adalah memberikan semangat kepada mereka untuk tetap rajin dan bersemangat belajar selama pandemi ini. Apabila saat belajar tatap muka seorang pendidik bisa mendekati siswanya yang “nakal” dengan membelai kepalanya. Tetapi pada saat belajar daring ini hal ini bisa dilakukan dengan memberikan nasehat penyemangat di setiap akhir belajarnya. Jadi penutup pembelajaran bukan hanya semata mengingatkan tugas yang harus mereka selesaikan, tetapi juga memberikan nasehat yang dapat menggugah semangat belajar mereka.

Keempat, menjalin kerjasama dan komunikasi yang intensif antara pendidik dan orang tua. Karena pendidik tidak bisa mewujudkan tujuan dari setiap pembelajaran tanpa melibatkan orang tua. Terlebih lagi di saat pandemi ini, di mana peserta didik lebih banyak bersama orang tua di rumah. Perilaku anak dalam kesehariannya bisa dibimbing dan diarahkan oleh orang tua. Agar memiliki akhlak mulia sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri.

Semoga saja pandemi ini tidak membuat semua yang terlibat dalam pendidikan terlupa dengan tujuan pendidikan. Sehingga tetap fokus bahwa pembelajaran daring saat ini hanyalah salah satu metode dalam pembelajaran. Apapun metode yang digunakan tujuan pendidikan tetaplah yang utama, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga memberi manfaat pada masyarakat dengan ilmu dan akhlak mulia yang dimilikinya. ***