Minggu, 5 April 2026
Opini  

Isi Luar dan Dalam Idealnya Sama Bagus

Oleh  Hasanuddin Atjo

Selasa pagi, 19 Januari tahun 2021 harus terbang ke Jakarta  karena suatu urusan.  Penumpang pesawat di pagi itu tidak padat, sekitar 60 % sehingga dimungkinkan melakukan save distancing yang merupakan penerapan protokol Covid-19, dan  saat ini trend laju penularan terus meningkat, yang kemudian Sulteng berada di peringkat ke-7 Nasional. 

Penumpang  di sebelah saya  yang hanya dipisahkan satu kursi kosong menyapa dan bertanya ke saya. Mohon maaf pak! , bapak tujuan Jakarta?.  Benar pak jawab saya.  Dan bapak sendiri? Oh, saya dari Kementerian yang baru balik dari  Sulawesi Barat meninjau korban bencana alam, gempa bumi.  Di tahun 2018 saya juga ke Palu di saat bencana multi dampak tanggal 28 September.

Seperti biasanya orang yang baru pertama kali bertemu ingin tau lebih jauh lagi tentang tetangga sebelah sebagai sahabat barunya.  Oh iya, bapak tugas di instansi mana?. Saya diam sejenak dan menjawab sambil senyum, saya alumni ASN pak . Sudah enam bulan pak. Dia juga tertawa kecil karena adanya  kata alumni.

Rupanya juga dia masih penasaran, dan dia melanjutkan pertanyaanya. Terakhir bapak tugas di mana. Dan saya  diam sejenak dan menjawab; di Badan Perencana Pembangunan Daerah Provinsi, sebelumnya pada Dinas Kelautan dan Perikanan sekitar 12 tahun.  Woou cukup lama juga ya pak di Kelautan.

Dia kemudian mulai berkomentar. Di Palu ini gedung kantornya bagus bagus ya pak. Padahal  dua tahun lalu, hampir semua fasilitas publik porak poranda termasuk sejumlah kantor yang  diakibatkan  bencana multi dampak berupa gempa bumi, tsunami dan liquafaksi. 

Dia terus berkomentar penampilan sebuah gedung kantor  penting sebagai kesan  wibawa. Selain itu gedung kantor yang bagus serta  tertata rapi mendukung terciptanya  suasana kerja yang baik dan bisa bermuara kepada peningkatan  kinerja. Dia terus membahas begitu pentingnya tampilan gedung.

Bangga juga mendengarkan pujian itu. Namun tiba-tiba dengan mimik agak serius, dia berkata hanya ada sayangnya pak.  Apa itu pak kata saya penasaran . Kawan  tadi, diam sejenak dan kemudian dia berkata dengan pelan bahwa idealnya  “Isi Luar  Harus Sama Bagus  Dengan Isi Dalam”. 

Mohon maaf pak, maksud bapak kata saya dengan suara juga yang agak pelan. Saya masih sulit  dapat informasi dan data update melalui fasilitas digitalisasi dari sejumlah instansi di daerah ini.  Padahal saat ini kita sudah berada di era industri 4.0, era digitalisasi dan sebentar lagi masuk ke era industri 5.0.

Saya tersenyum kecil mendengar komentarnya dan kemudian saya berkata dengan guyon “ mungkin belum move On pak akibat gempa bermagnitudo 7,4 diikuti tsunami dan liquafaksi. Kami berdua tertawa agak keras terkait belum move on karena bencana.

Setidaknya ada pesan moral yang bisa diambil dari dialog singkat itu. Pertama bahwa lingkungan kerja berupa gedung yang bagus, tertata rapi akan menciptakan suasana kerja yang dapat meningkatkan produktifitas dan bermuara kepada peningkatan kinerja.

Kedua, SDM yang terlibat dalam pembangunan mulai perencanaan hingga implementasi harus Move On.  Artinya harus update, adaptif dan inovatif. Sehingga menciptakan kesan “Isi luar sama bagusnya Isi Dalam.  Ini tentunya  merupakan tantangan bersama.

Gubernur Longki Djanggola patut kita apresiasi yang telah berupaya membangun fasilitas kantor yang memadai “Isi Luar”  menunjang  iklim dan suasana kerja nyaman agar dapat meningkatkan kinerja. 

Karena itu  agar lengkap tuntutan “Sama Baik  Isi Luar dan Isi Dalam”, maka gubernur terpilih pilgub 2020,  Rusdi Mastura harus membenahi SDM agar semuanya bisa Move On, dan mampu bekerja dengan cara cara baru sesuai janji dalam bentuk taglinenya  kerja cerdas, cepat dan tuntas.

Gubernur terpilih bersama koalisi partai pengusung, sudah harus berani melakukan “impor pemain” untuk meningkatkan kinerja timnya agar bisa naik peringkat dari posisi bawah di saat ini terkait  indikator kinerja pembangunan daerah. 

Antara lain tingkat kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi; Indeks kapasitas fiskal di peringkat ke 25; Indeks Daerah Membangun di peringkat ke 21, nyaris berada di kelompok provinsi dengan kategori tertinggal. Padahal daerah ini kaya dengan potensi di sektor produksi pangan, tambang dan energi serta pariwisata.

Kita semua berharap, skenario atau strategi menuju arah itu  segera di disusun dan termuat dalam RPJMD Provinsi 2021-2025 untuk menjadi acuan bagi RPJMD  kabupaten dan Kota , yang diselaraskan dengan RPJMN Jokowi-Maruf 2020 -2024. SEMOGA