Minggu, 5 April 2026
Opini  

Menumbuhkan Literasi Kebencanaan dari Keluarga

Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Keunggulan Penyelenggaraan Pendidikan
Firima Zona Tanjung. Foto: Dok

Oleh Firima Zona Tanjung*

BENCANA alam yang menimpa masyarakat Indonesia dalam tiga pekan terakhir menimbulkan duka yang mendalam bagi kita semua. Namun, disisi lain, kita pun semakin menyadari bahwa potensi bencana alam begitu tinggi di negeri ini.

Merespon potensi bencana alam yang cukup tinggi di Indonesia, Presiden Joko Widodo telah menyebutkan lima poin penting dalam arahan Presiden saat menghadiri Rakornas Penanggulangan Bencana 4 Februari 2020 lalu.  Di antaranya, sinergitas antara instansi pemerintah pusat dan daerah dalam pencegahan, mitigasi, dan peningkatan kesiapsiagaan. Setiap pemimpin daerah harus tanggap dalam penyusunan rencana kontinjensi, penggunaan pendekatan kolaboratif dalam penanggulangan bencana, kerjasama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam peningkatan kepemimpinan dan pengembangan sumberdaya manusia yang andal dalam penanggulangan bencana. Dan, keikutsertaan Panglima TNI dan Kapolri dalam mendukung upaya penanggulangan bencana termasuk penegakan hukum.

Dari arahan yang disampaikan oleh Presiden, salah satu poin yang menarik adalah poin keempat, yaitu signifikansi pendekatan kolaboratif antara unsur pemerintah, akademisi dan peneliti, dunia usaha, masyarakat, serta dukungan media massa guna menanggulangi bencana. Kolaborasi antarunsur menjadi aksi kunci yang diharapkan mampu berkontribusi pada kesiapsiagaan, ketanggapan, dan penurunan korban jiwa apabila terjadi bencana.

Adapun unsur terkecil yang berdampak besar pada efektivitas penanggulangan bencana adalah unsur masyarakat. Unsur ini harus literat terhadap bencana dan keterlibatan unsur ini dapat dimulai dari keluarga sebagai pranata sosial pertama. Lalu, peran apa yang dapat dilakukan oleh keluarga dalam menumbuhkan literasi kebencanaan?

Mengenalkan Ragam Bencana Alam

Ada berbagai bencana alam yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti gempa bumi, longsor, banjir, gunung meletus dan lain-lain. Tentu saja hal ini harus diketahui oleh setiap individu dalam suatu keluarga. Pengenalan ragam bencana ini dapat dimulai dengan cara sederhana semisal untuk anak usia 5-12 tahun, orang tua dapat mendongeng atau menggunakan pendekatan multimodal, yaitu pendekatan yang mengkaji teks, gambar, dan audiovisual sehingga membantu setiap anggota keluarga untuk mengetahui, menganalisis, memaknai, dan terinformasikan dengan jelas terkait bahaya bencana dan cara menyelamatkan diri.

Menyiapkan Tas Siaga Bencana

Upaya lain yang dapat mendukung optimalisasi literasi kebencanaan dalam lingkungan keluarga adalah kesiapan logistik bilamana terjadi bencana secara tak terduga. Guna menghadapi kondisi ini, orang tua dapat meminta setiap anggota keluarga untuk menyiapkan tas siaga bencana. Tas ini berisikan perbekalan berupa makanan tahan lama dan minuman, pakaian, dokumen dan surat penting, perlengkapan obat-obatan, gawai atau ponsel pintar, masker, penyanitasi tangan, senter, peluit, dan radio portabel bila ada. Semua perbekalan dan perlengkapan tersebut dimasukkan ke dalam plastik kedap air sehingga tidak mudah basah/rusak. Dengan menyiapkan tas siaga bencana, kebutuhan logistik setiap anggota keluarga dapat terjamin selama beberapa hari.

Diskusi Antaranggota Keluarga

Berdiskusi tak hanya memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk berpendapat, tetapi hal ini juga membuka ruang respon bagi pendapat yang dilontarkan. Dalam kaitannya dengan literasi kebencanaan, berdiskusi antaranggota keluarga mengenai ancaman dan dampak bencana dapat meningkatkan kesadaran sekaligus pengetahuan tentang bencana, mitigasi berdasarkan skala prioritas, penentuan titik kumpul, dan membuat kesepakatan mengenai skala prioritas berkenaan dengan rencana mitigasi, yang selanjutnya akan digunakan oleh setiap anggota keluarga sebagai langkah tanggap bencana apabila dihadapkan pada kondisi bencana yang sesungguhnya.

Semua Penting, Semua Punya Peran

Agar literasi kebencanaan dalam lingkungan keluarga dapat tercapai dengan optimal, tidak ada satupun anggota keluarga yang tak memiliki peran termasuk anggota keluarga yang difabel. Selama ini anggota keluarga yang difabel dianggap rentan manakala bencana terjadi. Akan tetapi, mindset seperti ini perlu diubah. Kini saatnya anggota keluarga yang difabel tersebut dilatih untuk dapat mengenali kondisi bencana, memahami langkah tanggap yang bisa diambil, dan melakukan usaha penyelamatan diri. Tak menutup kemungkinan, para difabel dalam lingkup keluarga juga mampu mengevakuasi anggota keluarga lainnya. Karena itu, sosialisasi dan pelatihan bagi mereka juga harus terus diupayakan.

Disiplin Menerapkan 5M

Kesiapsiagaan terhadap pandemi global COVID-19 harus terus ditingkatkan khususnya saat terjadi bencana. Karena itu, setiap anggota keluarga wajib saling mengingatkan tindakan pencegahan terinfeksi virus COVID-19, yaitu mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas atau yang lebih populer disebut dengan 5M. Kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan ini tentu berdampak pada penurunan kasus konfirmasi baru dan menjamin kesehatan seluruh anggota keluarga bahkan warga masyarakat lainnya selama bencana dan pascabencana.

Menjadi literat terhadap bencana alam memang tak dapat diwujudkan secara instan. Namun, pengenalan, pembiasaan, dan pelibatan seluruh anggota keluarga diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran dan ketanggapan. Dengan demikian, keluarga pun dapat berkontribusi optimal terhadap penurunan angka korban akibat bencana alam. ***

*Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Borneo Tarakan