Oleh Hasna, S.Pd., M.Pd. (Dosen FKIP UNTAD, Mahasiswa S3 UNESA)
SECARA fitrah, setiap manusia normal yang sudah dewasa (dalam Islam disebut baligh) pasti memiliki naluri untuk menyukai lawan jenis (memenuhi kebutuhan seksual) dan melestarikan jenis. Naluri ini memiliki persamaan dengan naluri yang ada pada hewan. Perbedaannya adalah pada manusia naluri tersebut juga disertai keinginan untuk menambah kewibaan dan harga diri di depan manusia lain.
Hal ini sesuai dengan pandangan Islam yang mengatakan bahwa suami adalah pakaian bagi istri dan istri adalah pakaian bagi suami dan hendaklah keduanya saling menutupi aib masing-masing di depan manusia lain. Memiliki pasangan juga merupakan salah satu tolak ukur kebahagiaan.
Proses berpikir yang hanya berdasarkan akal dan perasaan semata dapat memunculkan pandangan bahwa wanita yang memiliki suami tampan, kaya, berbudi pekerti yang baik, penyayang dan setia pasti merupakan wanita yang telah merasakan kebahagian hidup. Begitupula lelaki yang memiliki istri yang cantik, body yang ideal, setia, manja, dan lain-lain adalah lelaki bahagia.
Itulah standar kebahagiaan dari sudut pandang yang konkrit dan mengesampingkan kebahagian yang bersifat abstrak. Ini merupakan sudut pandang orang-orang sekuler kapitalis bahkan komunis yang menafikkan keberadaan Sang Pencipta karena hanya menilai sesuatu dari segi penampakannya secara kasat mata (materi).
Kebahagiaan yang nampak secara fisik memang merupakan salah satu tolak ukur atau salah satu sumber kebahagiaan tetapi bukanlah satu-satunya penentu kebahagiaan. Sebab kebahagiaan hakiki itu bukanlah sebagaimana apa yang orang lihat tentang diri kita tetapi sebagaimana apa yang kita rasakan (apakah kita benar-benar merasa bahagia, tenang, tentram, sejahterah hidup bersama pasangan kita atau sebaliknya).
Jika kita memandang kebahagiaan berdasarkan logika dan perasaan kita, maka akan lahir berbagai pandangan yang saling berbeda antara satu sama lain berdasarkan pangalaman masing-masing atau fakta yang pernah kita jumpai.
Misalnya, seseorang yang memandang bahwa seorang perempuan yang cantik akan enak dipandang mata dan pasti akan bisa membahagiakan suaminya. Seorang wanita cantik yang dari desa itu akan bisa membahagiakan suaminya karena ia masih polos belum tersentuh kehidupan kota yang gemerlapan. Ia polos dan tidak punya akal busuk untuk menipu atau mengelabui suaminya.
Seorang wanita cantik dari desa yang polos dan miskin pasti akan taat kepada suaminya karena dia takut ditinggalkan oleh suaminya karena dia tidak punya keterampilan untuk mencari nafkah sendiri. Seorang wanita miskin ketika dinikahi oleh lelaki kaya, maka dia akan pandai bersyukur kepada suaminya karena dia pasti beranggapan bahwa daripada saya tinggal bersama orang tua saya yang miskin lebih baik saya bersama suami saya yang kaya yang bisa memenuhi segala keperluan hidup saya.
Sebaliknya seorang wanita cantik dari kota yang pendidikannya tinggi bergelar megister bahkan doktor dan sedang bekerja di tempat yang bergensi dan bergaji tinggi, membuat banyak lelaki takut untuk meminangnya. Para lelaki beranggapan bahwa wanita semacam itu akan sulit untuk patuh pada suaminya karena ia merasa cantik dan kaya. Sehingga, ia tidak takut ditinggal suaminya karena dia merasa akan bisa cepat dapat suami pengganti karena punya dua kelebihan yaitu cantik dan kaya sehingga pasti banyak lelaki yang suka.
Pandangan-pandangan tersebut lahir dari logika-logika dan perasaan-perasaan manusia yang tidak punya standar kebenaran yang besifat mutlak yang bersumber dari Yang Maha Pencipta, Maha Kuasa, Maha Berkehendak atas segala sesuatu, serta Maha Mengetahui segala sesuatu.
Orang-orang yang berpandangan seperti di atas tidak menyadari bahwa istri yang cantik tidak otomatis bisa membahagiakan suaminya. Wanita cantik tapi tidak taat pada suami dan tidak melayani hak-hak suami bagaimanapun cantiknya pasti tidak bisa menjadi sumber kebahagiaan suami. Wanita dari desa tidak otomatis polos karena listrik sudah masuk desa dan pastinya pengaruh media juga sudah masuk. Pergaulan bebas juga sudah masuk desa. Apalagi kalau menurut pandangan Islam, perbuatan manusia juga bisa dipengaruhi oleh mahluk tak terlihat oleh manusia seperti syaitan.
Juga tidak semua wanita cantik berpendidikan tinggi punya penghasilan yang banyak itu sombong karena telah dibuktikan oleh Khadijah istri pertama Rasulullah. Bahkan Khadijah adalah istri yang paling dikenang oleh Rasulullah sallahu alaihi wa sallam dan tidak dipoligami oleh beliau sampai-sampai Aisyah istri tercantik beliau cemburu karena nama Khadijah sering disebut-sebut oleh Rasul sallahu alaihi wa sallam meski sudah lama meninggal.
Hal ini juga membuktikan umur suami tidak harus lebih tua dari istri karena Khadijah berumur 40 tahun saat dinikahi oleh Rasulullah sallahu alaihi wa sallam, sedangkan beliau waktu itu masih berumur 25 tahun.
Meskipun memang juga ada faktanya bahwa ada wanita cantik yang bisa membahagiakan suaminya, ada juga wanita tidak beriman tapi patuh pada suaminya. Ada juga ustadz yang menceraikan istrinya. Ada juga wanita cantik dari kota yang berpendidikan tinggi dan sombong suka kawin cerai dan lain sebagainya. Jadi semua padangan ada faktanya. Oleh karena itu, jika kita berbicara fakta, maka tidak akan ada habisnya.
Oleh karena itu orang yang bijak tidak menjadikan fakta sebagai satu-satunya sumber pembelajaran hidup dan hanya mengikuti apa yang muncul dari akal pikiran dan perasaannya tanpa mengkaji kebenaran yang besifat mutlak. *** Bersambung






