oleh

Angka Kemiskinan Kembali Naik

PALU EKSPRES, PALU- Pandemi Covid-19 ternyata sangat berpengaruh terhadap peningkatan jumlah penduduk miskin di Sulawesi Tengah. Jumlah penduduk miskin dan persentase penduduk miskin di Sulawesi Tengah kembali meningkat, setelah sebelumnya menunjukkan tren penurunan hingga 2019.
Sebagaimana laporan BPS Sulteng, jumlah penduduk miskin di Sulawesi Tengah pada September 2020 mencapai 403,74 ribu orang atau 13,06 persen. Terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin sebesar 5.000 orang dari sebelumnya berjumlah 398,73 ribu orang atau 12, 92 persen pada Maret 2020. Sementara dibandingkan September 2019 jumlah penduduk miskin menurun sebanyak 0,29 ribu orang.
“Jumlah penduduk miskin di Sulteng masih berkutat di dua digit. Semoga angka penduduk miskin ini bisa satu digit seperti persentase angka kemiskinan di tingkat nasional,”kata Kepala BPS Sulawesi Tengah, Dumangar Hutauruk pada press rilis BPS melalui virtual, Senin (15/2/2021).
Berdasarkan daerah tempat tinggal lanjutnya, pada periode Maret 2020-September 2020,jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebesar 6,7 ribu orang dan daerah perdesaan turun sebesar 1,7 ribu orang. Persentase kemiskinan di perkotaan naik dari 8,76 persen menjadi 9,21 persen, sedangkan di perdesaan naik dari 14,69 persen menjadi 14,76 persen.
“Pada September 2020, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada garis kemiskinan baik di perkotaan maupun di perdesaan pada umumnya sama,” katanya.
Dumangar menjelaskan, beras memberi sumbangan sebesar 21,24 persen terhadap garis kemiskinan (GK) di perkotaan dan 23,29 persen di perdesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar ke dua terhadap GK 12,97 persen di perkotaan dan 16,58 persen di perdesaan. Komoditi lainnya adalah kelompok kue basah 4,09 persen di perkotaan dan 3,20 persen di perdesaan; tongkol/tuna/cakalang 3,72 persen di perkotaan dan 2,76 persen di perdesaan; cabe rawit 2,07 persen di perkotaan dan 2,80 persen di perdesaan, dan seterusnya. Sementara itu, untuk komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar baik pada GK perkotaan dan perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi, dan lain lain.
Selama periode Maret 2020-September 2020, Garis Kemiskinan di Sulawesi Tengah naik sebesar 1,90 persen, yaitu dari Rp 474.627 per kapita per bulan pada Maret 2020 menjadi Rp 483.662 per kapita per bulan pada September 2020. Sementara pada periode September 2019–September 2020, Garis Kemiskinan naik sebesar 3,67 persen, yaitu dari Rp 466.527 per kapita per bulan pada September 2019 menjadi Rp 483.662 per kapita per bulan pada September 2020.
Ia menambahkan peranan komoditi makanan masih jauh lebih besar pengaruhnya terhadap peningkatan garis kemiskinan di Sulteng dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Besarnya sumbangan Garis Kemiskinan Makanan (GKM) terhadap Garis Kemiskinan (GK) pada September 2020 sebesar 76,56 persen.
“Komoditi makanan memberikan sumbangan terbesar pada garis kemiskinan baik di perkotaan maupun di perdesaan pada umumnya sama,” ujarnya.
Menurut Dumangar, beras memberi sumbangan sebesar 21,24 persen di perkotaan dan 23,29 persen di perdesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar ke dua terhadap garis kemiskinan yakni, 12,97 persen di perkotaan dan 16,58 persen di perdesaan. Komoditi lainnya adalah kelompok kue basah masing-masing 4,09 persen di perkotaan dan 3,20 persen di perdesaan. Selanjutnya, tongkol/tuna/cakalang sebesar 3,72 persen di perkotaan dan 2,76 persen di perdesaan; cabe rawit 2,07 persen di perkotaan dan 2,80 persen di perdesaan.
Sementara itu, untuk komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar baik pada garis kemiskinan perkotaan dan perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi, dan lain lain. (bid/palu ekspres)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed