oleh

Pemilih Prabowo-Sandi Lebih Rendah Tingkat Kepercayaannya pada Vaksin

PALU EKSPRES, JAKARTA – Survei yang dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia menemukan, sebanyak 41 persen warga tak bersedia divaksinasi Covid-19. Survei kali ini sampai meneliti pada basis pemilih Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Pilpres 2019. Hasilnya, tingkat kepercayaan terhadap vaksin Covid-19 pada basis tersebut lebih rendah.
Berdasar analisis hubungan antar dua variabel, tampak mayoritas warga bersedia menerima vaksin, di hampir setiap kelompok demografi, kecuali pada kelompok usia 22-25 tahun dan berpendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Tapi ada kecenderungan warga yang bersedia divaksin lebih rendah pada kelompok perempuan, usia semakin muda, kalangan muslim, orang pedesaan, kelompok pendidikan dan pendapatan yang semakin rendah. Kemudian, semakin tidak merasa takut tertular virus, semakin tidak percaya efektivitas vaksin, dan semakin relijius, kesediaannya untuk divaksin cenderung semakin rendah.
“Pada basis partisan pilpres 2019, basis Prabowo-Sandi lebih rendah kesediaannya untuk divaksin. Namun demikian, mayoritas kelompok yang bersedia divaksin, di tiap segmen tersebut di atas, tidak bersedia divaksin jika musti membayar atau membeli,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, dalam keterangan virtual, Minggu (21/2/2021).
Sementara itu, berdasar analisis multivariate secara simultan, tampak etnis, agama, tingkat pendidikan, tingkat ancaman tertular virus dan tingkat kepercayaan terhadap efektivitas vaksin, berpengaruh signifikan terhadap kesediaan warga untuk diberi vaksin. Sementara variabel lainnya tidak berpengaruh signifikan.
Menurut Burhanuddin, kelompok etnis berpengaruh signifikan dan positif terhadap kesediaan untuk divaksin, kelompok etnis Jawa lebih tinggi kesediaannya terhadap vaksin. Agama berpengaruh signifikan dan negatif terhadap kesediaan untuk divaksinasi.
“Kelompok muslim lebih resisten terhadap vaksin. Kehalalan vaksin harus menjadi syarat mutlak, karena 81,9 persen warga hanya mau divaksin jika sudah dipastikan kehalalannya,” ujarnya.
Kemudian, lanjut Burhanuddin, tingkat pendidikan, tingkat ancaman tertular virus dan tingkat kepercayaan terhadap efektivitas vaksin, berpengaruh signifikan dan positif. Karena, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin merasa terancam akan tertular virus, dan semakin percaya terhadap efektivitas vaksin, maka kesediaan untuk divaksin semakin tinggi.
“Ini kemungkinan karena persoalan sosialisasi terkait prilaku pandemi yang kurang baik kepada publik,” jelasnya.
Diketahui, survei kali ini dilakukan menggunakan kontak telpon kepada responden adalah cara yang paling mungkin dilakukan. Sampel sebanyak 1200 responden dipilih secara acak dari kumpulan sampel acak survei tatap muka langsung yang dilakukan Indikator Politik Indonesia pada rentang Maret 2018 hingga Maret 2020.
Sebanyak 206.983 responden yang terdistribusi secara acak di seluruh nusantara pernah diwawancarai secara tatap muka langsung dalam rentang 2 tahun terakhir. Secara rata-rata, sekitar 70 persen di antaranya memiliki nomor telepon. Jumlah sampel yang dipilih secara acak untuk ditelpon sebanyak 7.604 data, dan yang berhasil diwawancarai dalam durasi survei yaitu sebanyak 1200 responden.
Dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel 1.200 responden memiliki toleransi kesalahan (margin of error–MoE) sekitar ±2.9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional.(jpc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed