Sabtu, 25 April 2026
Opini  

FGD Pascasarjana Untad, Industri Pangan Jadi Salah Satu Prioritas

Hasanuddin Atjo. Foto: istimewa

Oleh Hasanuddin Atjo

Senin Pagi 1 Maret 2021 bertempat di Hotel Santika Palu, saya bersama Moh. Basir Chyo, ketua Senat guru besar Universitas Tadulako, Untad Palu didaulat menjadi  narasumber, membedah Visi, Misi dan Tujuan program studi doktoral Pertanian 2021-2026.

Kesimpulan dalam FGD itu bahwa industri pangan menjadi salah satu pendekatan menyusun  visi, misi dan tujuan program studi doktoral pertanian pada universitas negeri ternama  yang berkedudukan di kota Palu, ibukota Provinsi Sulteng.

Hal yang mendasari pendekatan tersebut , bahwa kurang lebih 70 % masyarakat di Sulawesi Tengah  bekerja pada sektor pangan dan hasil hutan, namun produktifitas rendah, tersebar tidak merata , dan dikelola dengan cara konvensional sehingga daya saingnya rendah.  

Kondisi ini telah menjadi salah satu peyebab NTP, Nilai Tukar Petani di Provinsi ini selama beberapa tahun terakhir kurang dari 100%, yang bermakna  bahwa indeks harga yang diterima petani lebih kecil dari indeks harga yang dibayarkan dari usaha taninya.

Berdasarkan data  BPS Sulteng,  dirilis 1 Maret 2021, menunjukkan , selama tahun 2021, NTP Sulteng dibawah 100 %, yakni di Januari sebesar 95,98 % dan di Februari turun menjadi 95, 70 % atau minus 0,28 %. Ini tentunya menjadi satu warning bagi kita semua.

Kondisi NTP Sulteng yang  rendah dan berkepanjangan menjadi salah satu sebab, sulitnya menurunkan angka kemiskinan. Tercatat bahwa didalam kurun 10 tahun terakhir angka kemiskinan daerah hanya bisa diturunkan sekitar  1,4 %. 

Padahal tidak sedikit dana yang telah digelontorkan. Dana desa dalam 5 tahun terakhir jumlahnya sekitar 7 triliun rupiah.  Belum lagi dana sektor lainnya dan APBD Provinsi maupun kabupaten kota yang jumlahnya juga tidak sedikit.

Evaluasi BPS pusat menunjukkan bahwa di tahun 2020, provinsi  ini masuk kelompok 10 besar provinsi termiskin, dengan jumlah orang  miskin sebesar 13,06 %. Tentunya ini menjadi salah satu PR besar gubernur terpilih Rusdy Mastura bersama bupati/walikotanya.

Dalam kesempatan terpisah, Rusdy Mastura berkeinginan dalam lima tahun ke depan, (meskipun masa  jabatan 3,5 tahun) kapasitas fiskal provinsi ini akan ditingkatkan dari 4,2 triliun rupiah menjadi 10 triliun rupiah serta angka kemiskinan di tekan turun kurang dari 10 %.

Untuk tujuan itu setidaknya ada 2 sektor yang didorong berorientasi industrialisasi berkelanjutan yang berbasis rakyat yaitu  pangan dan pariwisata.  Sektor tambang yang selama ini menjadi lokomotif utama pertumbuhan ekonomi Sulteng akan di redesain pengelolaannya berorientasi ramah lingkungan.

Diakhir diskusi, saya mengatakan bahwa kalau seperti ini arah dialog kita, maka sudah selaras dengan keinginan Presiden Joko Widodo,  Gubernur  Rusdy Mastura untuk mengembangkan sektor pangan dengan pendekatan yang akhir akhir ini lebih sering disebut dan didengar dengan  “ pangan estate”.

Saya melanjutkan komentar, sudah saatnya DUDA diijabkabulkan dan semua peserta dialog, terutama bapak bapak bersemangat apa yang dimaksud dengan kalimat itu.  Saya diam, sejenak dan kemudian berkata bahwa “dunia usaha dan dunia akademisi” harus dinikahkan.

Dan penghulunya adalah Pemda,  yaitu gubernur terpilih di Pilkada 2920, Rusdy Mastura. Semua tertawa lepas dan mengamini.

Di clossing statement saya katakan bahwa saat ini usia tidak lagi jadi pembeda, tetapi karakter berpikir pembedanya.  Mahathir Muhamad umur 90 tahun  menjadi perdana menteri, PM Malaysia dan Rusdy Mastura di usia 71 tahun menjadi gubernur terpilih Sulteng  priode 2021-2024.

Saatnya, semuanya  harus Move on. Karakter berpikir harus apdate, adaptif, serta inovatif  dikarenakan  kereta  perubahan sudah tiba dan siap akan berangkat, jangan lagi ada yang tertinggal di stasiun.  Dan semua kembali tertawa. SEMOGA

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777