Sabtu, 8 Agustus 2026
Opini  

Identifikasi Kebutuhan Belajar Peserta Didik

MHD Natsir. Foto: Istimewa

Oleh MHD. Natsir*

PANDEMI Covid 19 telah merubah cara pandang masyarakat terhadap lembaga pendidikan formal. Proses sosialisasi dan interaksi yang biasanya didapatkan di sekolah formal selama pandemic ini menjadi berkurang, bahkan tidak ada sama sekali. Belajar dilakukan secara daring dan para pelajar tidak pernah berinteraksi tatap muka langsung dalam sebuah proses pembelajaran di kelas. Kelas telah digantikan oleh ruang virtual yang memungkinkan masing-masing saling sapa, tetapi tidak bisa bersentuhan fisik.

Beberapa nilai yang biasa didapatkan di sekolah formal menjadi hilang, Khususnya anak-anak yang barumulai masuk sekolah di saat pandemi. Mereka tidak pernah merasakan bagaimana rasanya mempersiapkan diri pergi sekolah. Selain pakaian baru mereka juga akan merasakan bagaimana pengalaman pertama masuk sekolah. Berkenalan dengan teman-teman baru, ibu bapak guru dan suasana belajar yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Belajar bersama, berlarian di halaman sekolah, berkelahi dan kemudian damai lagi. Semua itu hanya dapat dirasakan di sekolah, bukan ruang virtual.

Seeing sebagian orangtua di awal anaknya masuk sekolah disibukkan oleh berbagai pertanyaan dan protes tentang sekolah. Apakah benar dia sudah masuk sekolah? Kalau sudah sekolah kenapa setiap hari selalu di rumah? Kenapa tidak pernah pergi ke sekolah. Beberapa pertanyaan ini sering muncul dari bibir anak yang baru masuk sekolah. Sebagian mereka ada yang mulai bosan dan tidak mau belajar secara online. Kebosanan mereka berhadapan dengan dunia virtual dan rasa rindu bermain dan belajar dengan teman-temannya. Inilah yang dirasakan oleh sebagian orang tua selama pandemic ini. Menghadapi anak yang rindu sekolah, tetapi tidak bisa pergi ke sekolah.

Bagi anak-anak tingkat dasar, mereka butuh belajar nilai-nilai sosial, berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas dari rumahnya. Bergaul dengan orang-orang yang selama ini mungkin belum mereka kenal. Seeing terbentuk perilaku dan karakter yang baik di dalam diri mereka, sebagai bekal untuk menjalani kehidupan sosial yang lebih luas. Hal ini tentu saja berbeda dengan mereka yang sudah remaja dan belajar di tingkat SMP atau SMA. Selain mereka butuh sosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya, mereka juga butuh untuk eksistensi yang lainnya.

Pandemi ini juga menjadikan sebagian dari peserta didik yang sedang menjalani proses belajarnya harus berhenti. Karena kebutuhan dana untuk menyiapkan belajar online lebih mahal dari pada biaya setiap hari mereka pergi sekolah tatap muka. Rasa tanggungjawab untuk ikut serta dalam membantu keterbatasan ekonomi keluarga terkadang menjadi salah satu alas an tidak melanjutkan pendidikannnya di tengah pandemi ini.

Kondisi ini tentu saja cukup mengkhawatirkan, karena menurut data yang dimiliki Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), jumlah anak usia 7-12 tahun di Indonesia yang tidak bersekolah berada diangka 1.228.792 anak. Untuk kategori usia 13-15 tahun di 34 provinsi, jumlahnya 936.674 anak. Sementara usia 16-18 tahun, ada 2,420,866 anak yang tidak bersekolah. Meskipun partisipasi pendidikan anak usia sekolah di Indonesia meningkat tiap tahunnya, tetapi total jumlah anak putus sekolah di 34 provinsi Negara ini masih berada di kisaran 4,5 juta anak.

Selama pandemi ini tidak menutup kemungkinan jumlah mereka yang putus sekolah semakin bertambah. Mereka seringkali tidak mendapat kesempatan untuk menikmati pendidikan yang lebih baik. Begitu juga dengan para remaja yang sudah menamatkan pendidikan setingkat SMA, tetapi tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bahkan saat ini sarjana yang sudah menamatkan pendidikan S1 pun merasa galau dengan masa depan mereka yang belum jelas.

Dalam konsep pendidikan sepanjang hayat (lifelong education), kebutuhan belajar mereka harus bisa dijawab dengan membuat program yang dapat meningkatkan kapasitas mereka dalam bekerja. Karena yang dibutuhkan mereka saat ini adalah pekerjaan dan pembelajaran yang bisa mengantarkan mereka untuk mendapatkan pekerjaan. Oleh sebab itu perlu adanya kebijakan yang tidak hanya melihat proses belajar pada satu satuan pendidikan, tetapi juga harus berjalan seiring dengan satuan pendidikan lainnya.

Beragamnya kebutuhan belajar peserta didik selama pandemic ini, menuntut seluruh komponen yang terlibat dalam pendidikan untuk mengambil langkah kreatif dan komprehensif dalam menjawab kebutuhan belajar tersebut. Melakukan identifikasi kebutuhan belajar peserta didik di setiap satuan pendidikan menjadi salah satu langkah yang harus dilakukan sebelum membuat satu program.

Identifikasi kebutuhan belajar dapat digunakan untuk menyusun kurikulum yang lebih baik bagi satuan pendidikan formal. Sedangkan pada satuan pendidikan non formal dan informal, identifikasi kebutuhan belajar akan memudahkan untuk membuat berbagai program. Agar proses belajar yang dilalui dapat membantu pembelajarnya menjadi lebih baik lagi dari sisi pengetahuan, maupun dari kemampuan yang dapat ditingkatkan melalui berbagai program pelatihan. Hal ini dimaksudkan agar proses belajar dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan masa depan peserta didik. Seeing segala kegiatan yang dilaksanakan menjadi efektif dan dapat diterima oleh semua.

Pandemi Covid 19 yang masih belum berakhir sampai saat ini tidak boleh mematikan semangat belajar para peserta didik. Sebaliknya harus menjadikan satuan pendidikan untuk lebih kreatif dalam menyusun pembelajaran berbasis kebutuhan belajar peserta didik. Belajar sesuatu yang akan mereka rasakan manfaatnya. Karena salah satu ciri pendidikan yang berpihak pada kebutuhan belajara dalah bersifat lokal, desentralistis, temporal, dan fungsional.Artinya setiap program pendidikan harus diselenggarakan spesifik berdasarkan situasi setempat, sesaat, dan berdaya guna segera. Seeing dengan demikian diharapkan kegiatan pembelajaran yang dijalankan dalam satuan pendidikan, baik formal, non formal dan informal bisa berpihak kepada peserta didik dan menjawab kebutuhan belajar mereka.

Semoga saja pandem iini segera berakhir dan memberikan kesempatan kepada setiap kita untuk bisa melaksanakan proses belajar dengan baik, dan bisa memenuhi kebutuhan belajar dari setiap peserta didik. Seeing segera terwujud tujuan dari pembelajaran yang dilaksanakan. ***

*Dosen Jurusan PLS FIP UNP Padang

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital