oleh

Warga Keluhkan Bau Busuk dari Tumpukan Sampah di Pasar Sentral Tagunu Parigi

 
PALU EKSPRES, PARIMO– Pedagang dan pembeli di Pasar Sentral Tagunu Parigi, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah (Sulteng), mengeluhkan persoalan sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS) di sisi bagian Timur Pasar tersebut.
Diketahui, sampah itu menumpuk karena tidak diangkut oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Selain menumpuk, keberadaan sampah juga menimbulkan bau tak sedap serta membuat pemandangan menjadi kumuh.
Nurhayati, salah seorang pedagang pasar mengaku sangat terganggu dengan keberadaan tumpukan sampah yang tidak jauh dari tempatnya berdagang. Bau busuk dari tumpukan sampah itu kata dia, membuat pembeli tidak nyaman berbelanja di tempatnya.
“Sekitar satu minggu sudah sampah ini belum diangkut oleh petugasnya. Akibatnya pembeli tidak nyaman belanja sama kami karena busuk sekali, apalagi ini orang sedang puasa,” kata Nurhayati kepada wartawan di Parigi, Rabu (14/4/2021).
Olehnya, ia berharap kepada pihak terkait untuk segera mencari solusi mengenai penanganan tumpukan sampah yang ada di komplek Pasar Sentral Parigi saat ini, agar tidak lagi ada bau busuk di tempat tersebut.
Selain itu kata Nurhayati, keberadaan sampah saat ini juga mengganggu pengguna jalan. Karena, tumpukan sampah terpantau nyaris menutupi badan jalan. Sehingga, jika hal ini dibiarkan bisa saja akses jalan di bagian Timur Pasar itu akan tertutup dengan tumpukan sampah.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Parimo, Irfan Maraila saat dikonfirmasi di Kantornya, Rabu (14/4/2021), mengatakan, terkait penanganan sampah di kota Parigi khususnya, di Pasar Sentral pihaknya terkendala pada sarana pengelolaan yakni, sarana mobilitas sampah.
“Jadi dari enam, dua amrol (Konteiner sampah) itu cuma satu yang bisa jalan dan satunya rusak,” ungkap Irfan Maraila.
Kemudian, lanjut dia, dari empat unit mobil Dump Truck yang ada, hanya dua unit yang sedikit normal dan bisa digunakan saat ini. Sementara dua unit lainnya, sudah termakan usia dan dinilai tidak layak pakai.
“Yang dua unit ini terbilang sudah tua karena pengadaan sejak tahun 2002. Dan usianya sampai hari ini sudah 19 tahun. Nah, itu yang menjadi persoalan. Sehingga, tidak maksimal dalam melakukan pengangkutan,” terangnya.
Selain itu tambahnya, DLH juga terkendala dengan biaya pengelolaan sampah. Ia mengaku, mulai dari Januari sampai April 2021 ini belum ada kejelasan terkait anggaran untuk DLH itu semdiri.
“Mulai dari Januari, Februari, Maret, sampai April ini kita cuma swadaya, untuk mendapatkan uang kami harus pinjam kiri kanan untuk membiayai itu. Uang dari mana kita mau ambil, ini DPA saja sampai sekarang tidak jelas mau keluar atau tidak,” keluhnya.
Olehnya, saat ini untuk mengefektifkan pengangkutan, pihaknya menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Karena, jika diikuti seperti kondisi sebelumnya, itu tidak bisa. Sebab masih terkendala anggaran dan sarana mobilitas pengangkut sampah. (asw/palu ekspres)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed