Sabtu, 25 April 2026
Daerah  

Menangkal Radikalisme dan Intoleransi, Kapolsek Labuan Donggala Libatkan Remaja Masjid

Kapolsek Labuan IPTU Moh. Fikri, S.Sos saat diskusi menjelang buka puasa di sekretariat Remaja Islam Masjid (Risma) Al Falah Desa Labuan Toposo pada Senin (19/4/2021). Foto: Istimewa

PALU EKSPRES, DONGGALA– Saat ini ideologi radikal, provokasi teror, berita hoaks dan kebencian yang dibungkus dengan ajaran agama kian merebak dengan manfatkan kecanggihan teknologi. Melalui dunia maya individu maupun kelompok radikal melakukan penyebaran propaganda, perekrutan, hingga mencari pendanaan. Proses indoktrinasi dilakukan secara virtual, termasuk proses baiat. Para usia muda, perempuan dan anak-anak, termasuk orang-orang yang kesepian menjadi sasaran empuk regenerasi mereka.

Hal tersebut disampaikan Kapolsek Labuan IPTU Moh. Fikri, S.Sos dalam diskusi menjelang buka puasa di sekretariat Remaja Islam Masjid (Risma) Al Falah Desa Labuan Toposo pada Senin (19/4/2021).

Diskusi jelang buka puasa bersama Risma merupakan program Kapolsek Labuan selama Bulan Ramadan.  “Pendekatan dan diskusi dengan kelompok pemuda termasuk Risma merupakan salah satu cara moderasi beragama dalam rangka mencegah dan menangkal paham radikalisme, terorisme dan intoleransi yang saat ini menyasar kaum milenial dengan memanfaatkan media sosial yang sangat digandrungi oleh anak muda,” kata Fikri.

Pemuda dan remaja katanya, harus diajak untuk mengenali ideologi radikal tersebut. Seeing, saat paham radikalisme masuk dan berubah bentuk akan tetap mampu menghindarinya. Kaum milenial dan pergerakannya harus mampu mengimbangi dan membentengi masyarakat dan bukan sekadar konsep dan teoritis belaka.

“Ajaran agama apapun bertujuan untuk mewujudkan harmoni dan keteraturan sosial sebagai bagian dari indikator kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Mentaati hukum serta peraturan juga merupakan bentuk kesalehan bernegara,” ujar Fikri.

Hadir juga dalam diskusi tersebut Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Tanantovea (IPPTA), Sabrun. Ia menjelaskan, karena paham radikalisme ini telah menyasar generasi muda bahkan menjadikan sasaran utamanya dan sudah sangat mengancam masa depan bangsa dan Negara. Maka kaum muda tidak boleh hanya tingal diam tapi harus menjadi garda terdepan untuk menangkal paham tersebut.

Salah satu sasarannya adalah anak muda yang merasa sendirian atau kesepian, tidak memiliki teman atau tidak diberikan keadilan. Sehingga anak muda seperti ini gampang terpengaruh dengan paham radikalisme.

Karena itu lanjutnya,  di IPPTA pihaknya melakukan upaya-upaya untuk mencegah masuknya paham radikalisme dengan merangkul para pelajar, pemuda dan mahasiswa yang ada di wilayah Kecamatan Tanantovea, dengan ikut aktif dalam mensosilisasikan bahaya paham radikalisme dan terorisme. Termasuk mengajak para pemuda untuk menyebarkan konten-konten perdamaian dalam melawan narasi kekerasan dan radikal di media sosial dan mempertebal rasa nasionalisme.

IPPTA menurut Sabrun, juga aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, membuat kegiatan olahraga dan seni, melakukan diskusi dan pengajian. Serta, saat ini yang menjadi program kerja andalan adalah tour the village atau berkunjung ke desa, bersilaturahmi dan merangkul para pemuda di setiap desa di wilayah Tanantovea. Sehingga dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut, anak muda akan menjadi aktif, menyalurkan bakatnya dalam berbagai bidang, juga membuat mereka jauh dari paham radikalisme, termasuk pengaruh narkoba dan kenakalan anak muda lainnya. (***/bid/palu ekspres)

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777