Oleh Muhd Nur SANGADJI
Patien atau pasien, bermakna sabar. Diksi ini disematkan pada mereka yang masuk rumah sakit karena sakit. Mengapa rumah sakit, karena saya jarang mendengar mereka yang sakit di rumah, dipanggil pasien.
Saat ini, saya menerima status itu. Pasien untuk dua rumah sakit dalam satu malam. Semula, Budi agung. Lalu, pindah ke Undata Palu. Mengapa harus pindah.? Ini soal peralatan dan dokter ahli terkait jenis derita penyakitnya. Saya divonis bermasalah dengan ginjal. Diduga ada batu yang bersarang. Sakitnya luar biasa. Tidak ada posisi yang aman. Duduk, berdiri, tidur, balik kiri, balik kanan. Semuanya sama saja. Sakit.
Atas kejadian ini, baharu saya buktikan betapa sehat itu adalah nikmat tak terkira. Mungkin karena itu, baiknya kita manfaatkan masa sehat untuk sebesar-besarnya berfaedah bagi mahluk yang lain. Dia, penyakit itu, didatangkan untuk meluruskan kembali, orientasi hidup kita.
Allah SWT mendatangkannya untuk mengerem lajunya ambisi duniawi kita. Memindahkannya ke orientasi akhirat. Pesan langit itu jelas sekali. “Dan, kejarlah kebahagiaan kehidupan akhirat mu, tapi janganlah lupakan bagian mu di dunia”. Artinya, proporsional harus dominan akhirat. Sakit dikirimkan untuk mengoreksi penyimpangan orientasi ini.
Di saat sakit ini memuncak, Saya menyadari betapa tak berguna sama sekali nafsu mengejar dunia semata. Kita, akhirnya pasrah di batas dua garis balik. Sehat atau wafat.
Penyakit ini datangnya tidak terduga. Cepat sekali. Sore itu, Jumat 16 April 2021, bertepatan azan magrib. Saya meneguk sayuran buah naga, pepaya dan kelapa muda. Selepas itu, langsung menuju Kecamatan Dolo di Kabupaten Sigi. Di sana dipersilahkan memimpin salat Isya dan berceramah.
Di saat berdiri itulah, tiba-tiba punggung ku sakit. Tapi, saya tetap pimpin salat dan berceramah. Ketika salat tarawih dan witir di rakaat yang penghabisan. Rasanya, sudah tidak sanggup lagi. Muka pucat dan tubuh menjadi dingin.
Isteriku menancap gas dengan sigap. Ditujunya rumah sakit terdekat. Tindakan cepat harus diambil. Satu dua kendaraan dilewatinya. Kecepatan sangat tinggi. Hanya ada dua pilihan, celaka terlambat atau celaka tabrakan. Bersilang antara dua titik, ikhtiar dan takdir. Saya pasrah dalam kesakitan.
Berbagai hikmah saya temui. Di ruang UGD inilah, saya bersaksi tentang penderitaan. Penderitaan dari orang dan keluarga pasien. Orang datang silih berganti dengan penyakit yang beragam. Di sini tidak terlihat orang tertawa. Semuanya sedih dan kesakitan. Dengan sabar, para perawat melayani. Saya bayangkan, tiap hari mereka menerima tamu bertipe begini. Mereka mesti bermental baja dan berjiwa pengabdian tinggi. Saya pernah tulis tentang mereka. Perawat ; Manusia Setengah Dewa.
Oleh karena mereka harus bertindak cepat maka “mind set” kemanusiaan yang profesional ini harus terbentuk. Aspek administrasi yang terkadang membuat gerakan cepat sedikit terhambat. Pertanyaan tentang asuransi misalnya. Di negara moderen, pertanyaan ini sudah tidak ada. Itu, kerena semua warga negara wajib hidup dengan asuransi kesehatan. Perawat dan dokter hanya fokus kepada penyakit pasien semata. Kualitas pelayanan menjadi bermutu.
Di UGD ini pula saya menyaksikan dengan mata kapala, ada pasien yang wafat di sebelah ranjang. Lalu, keluarga pasien mengamuk karena menganggap para medis kurang tanggap. Saya merenung, kapankah kita bebas dari persoalan pelayanan publik berkait kesehatan ini. Negara perlu beri perhatian sungguh-sungguh. Tentu saja tidak mudah, tapi tetap harus berupaya menjadi lebih berkualitas. Sebab, orang di negeri lain bisa.
Di atas segalanya, pasien itu adalah orang lemah, tak berdaya, pasrah dan berserah. Kekuatannya hanya satu yaitu, “sabar”. Wujud kongkrit dari panggilan untuknya, yakni ; Pasien atau Patien. ***






