Membangun Pendidikan Nasional Seutuhnya

  • Whatsapp
MHD Natsir. Foto: Istimewa

Oleh HD. Natsir (Dosen Jurusan PLS FIP UNP Padang)

HARI Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei bukan hanya sekedar rutinitas mengenang hari lahir Ki Hajar Dewantara sebagai bapak Pendidikan Nasional. Tetapi lebih dari itu, peringatan ini adalah momentum bagi seluruh anak bangsa mengevaluasi seberapa besar nilai-nilai pendidikan yang diwariskan berhasil diwujudkan. Sesuai dengan cita-cita pendidikan yang tertuang dalam tujuan pendidikan. Sebagaimana yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu mengembangkan potensi insan-insan pendidikan yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Momentum ini juga menjadi bahan evaluasi terhadap capaian pendidikan yang sudah dihasilkan sampai saat ini. Keraguan dan skeptisisme sebagian masyarakat terhadap capaian pendidikan patut dijawab dengan hasil karya yang bisa dibuktikan. Sampai sekarang masih banyak yang menilai tujuan pendidikan belum berhasil diwujudkan. Hal ini dibuktikan dengan maraknya korupsi yang kebanyakan dilakukan oleh mereka yang memiliki tingkat pendidikan yang baik dan sudah lengkap dengan gelar yang tak perlu diragukan kemampuannya secara akademik. Tetapi kenyataannya kemampuan akademik tidak linier dengan kemampuan untuk bersikap lebih baik sebagai wujud akhir dari hasil pendidikannya.
Selanjutnya dunia pendidikan juga sedang diuji dengan pandemi yang belum berakhir sampai saat ini. Insan pendidikan belum bisa menemukan formula belajar yang dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. Evaluasi terhadap penyelenggaraan pembelajaran daring masih banyak ditemukan persoalan yang belum bisa diselesaikan dengan baik.
Oleh sebab itu, di saat peringatan Hari Pendidikan Nasional ini ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan dalam mewujudkan pendidikan nasional seutuhnya dan tetap optimis menyambut masa depan pendidikan yang lebih baik.
Pertama adalah pendidikan kita didasarkan pada Pancasila. Nilai-nilai yang ingin dikembangkan dalam dunia pendidikan termaktub dalam 5 sila Pancasila. Karenanya setiap proses pembelajaran dalam pendidikan haruslah didasarkan pada ketuhanan Yang Maha Esa, menghargai nilai-nilai kemanusiaan, menjaga persatuan dan kebersamaan, memperjuangkan kepentingan rakyat dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bukan keadilan yang terkotak-kotak dan hanya diperuntukan bagi kelompok tertentu.
Nilai-nilai Pancasila ini haruslah menjadi dasar dan tidak bisa dibiarkan hilang dalam setiap proses pendidikan yang dijalankan setiap anak bangsa. Makanya setiap upaya untuk menghilangkannya tidak boleh dibiarkan. Seperti menghilangkan mata pelajaran Pancasila sebagai mata pelajaran wajib yang harus dipelajari di setiap jenjang pendidikan adalah kesalahan fatal. Karena akan menghilangkan nilai-nilai yang sesungguhnya ingin dikembangkan dalam pendidikan.
Kedua, nilai-nilai religius tidak bisa dipisahkan dari pendidikan. Karena agama menjadi bagian yang sangat penting dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Lebih penting lagi bahwa Indonesia bukanlah negara komunis ataupun atheis yang tidak mengakui adanya Tuhan. Setiap warga negara yang hidup di bumi Indonesia adalah mereka yang beragama. Sehingga nilai-nilai relijius haruslah lahir dalam bentuk pembelajaran dan menguatkan pendidikan.
Ketiga, pendidikan haruslah dikembangkan berdasarkan budaya bangsa Indonesia. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menghargai budaya bangsanya yang beraneka ragam. Setiap anak tidak boleh tercabut dari akar budaya mereka. Boleh saja mereka belajar pemikiran Barat tetapi hati dan jiwa mereka tetaplah Indonesia.
Hal ini tentu saja sesuai dengan pandangan Ki Hadjar Dewantara, di mana dalam sistem pendidikan haruslah dikembangkan bahwa segala ilmu pengetahuan didasarkan pada jati diri bangsa. Ajaran ini masih terus diimplementasikan hingga hari ini. Seperti yang dikenal dengan “Teori Nasi Goreng”. Artinya dalam membuat nasi goreng bahan dasar tetaplah nasi yang merupakan bahan makanan pokok asli masyarakat Indonesia, tetapi dalam pembuatannya bisa menggunakan mentega, sosis, dan bahan lain yang asalnya dari negara lain. Rasanya tetap enak, tetapi nasi goreng berbahan tambahan apa pun tetaplah makanan berbahan dasar nasi.
Di saat pandemi ini, ujian terhadap dunia pendidikan memang begitu berat. Bagaimana tidak, proses belajar mengalami perubahan yang cukup drastis. Sehingga pendidikan yang seharusnya bisa mengubah kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik anak menjadi agak terabaikan. Pembelajaran daring yang dilaksanakan saat ini terkesan lebih kepada tersampaikannya materi dan meningkatnya pengetahuan kognitif peserta didik, belum mampu sepenuhnya meningkatkan kemampuan afektif peserta didiknya.
Oleh sebab itu dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2021, seharusnya bisa menjadi momen bagi kita untuk bangkit dalam pendidikan. Meskipun belajar daring, tetapi upaya untuk meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik secara seimbang tidak boleh berkurang. Jati diri mereka sebagai warga bangsa tidak boleh dilemahkan, malah seharusnya dikuatkan. Pemahaman mereka terhadap Pancasila, kemampuan religius dan identitas budaya mereka tetaplah harus dijaga. Meskipun mereka lahir dari budaya daerah yang berbeda, tetapi perbedaan itulah yang seharusnya menjadikan mereka bersatu. Berbeda bukan berarti harus sama. Bangunan yang berdiri kuat bukan karena dibangun atas unsur yang sama, tetapi banyak keterlibatan unsur yang berbeda. Ada besi, semen, pasir dan terlebih lagi ada air yang menyatukan semua unsur tersebut. Sehingga jadilah bangunan yang kuat. Semua berguna dan berfungsi untuk bisa saling menguatkan.
Semoga peringatan Hari Pendidikan Nasional ini tidak hanya bersifat rutinitas semata, tetapi hendaknya mampu meningkatkan keyakinan dan semangat setiap kita dalam membangun pendidikan nasional seutuhnya berdasarkan Pancasila, nilai relijius dan budaya yang berbeda. Agar bisa menyatu demi masa depan bangsa yang lebih baik. ***

Pos terkait