My Country, I Am Proud of You

  • Whatsapp
NUR sangadji
Nur Sang Adji. Foto: Dok

Oleh Muhd Nur Sangadji

Ponakan ku, Fadli Sangadji dari Jakarta mengirimkan ucapan ramadhan disertai gambar silsilah keluarga. Di silsilah ini baru saya tahu, siapa saya (who am i) dalam struktur keluarga. Semula, “Who am I” ini yang mau saya jadikan judul artikel ini. Tapi, terlalu sering, kalimat ini saya sematkan pada setiap kali ceramah tentang spirit hidup. Maka, saya ubah judulnya. menjadi, my country, I am proud of you.

Bacaan Lainnya

Ternyata, di lapisan ke tiga di atas saya, dari pihak Ibu. Ada dotu atau Opo (ayahnya kakek) yang dipanggil Sangadji Nur. Nama beliau sesungguhnya adalah Muhammad Nur. Karena, beliau menduduki jabatan sebagai seorang Sangadji. Maka, panggilannya menjadi Sangadji Nur. Sangadji adalah nama jabatan dalam struktur kesultanan Tidore dan Ternate. Barangkali, setingkat camat atau lurah (entahlah).


Ternyata, nama ku diambil dari nama dotu. Mungkin lantaran itu, ada beberapa kemiripan. Dotu ku punya anak tunggal bernama Abdurahman Sangadji, ayah dari Ibu. Beliau kakek ku itu, seorang guru. Mati, dibunuh di Pulau Gebe karena menolak bergabung dengan kaum pemberontak. Mayatnya ditenggelamkan ke laut. Paman ku, Abdullah Yohan Sangadji yang kala itu telah menjadi anggota Brimob memimpin operasi pencarian. Insya Allah, semua mereka memperoleh rahmat dan ampunan.

Saya pun punya anak tunggal bernama Mohammad Reza Sangadji. Lahir dari istriku orang Sulawesi bernama Rostiati Dg Rahmatu. Dotu ku ternyata, juga punya isteri orang Sulawesi bernama asli Nancy. Tepatnya berasal dari Tumohon, Minahasa Sulawesi Utara.

Entah kebetulan atau takdir, terdapat kemiripan hidup ku dengan Dotu. Sama sama bernama Muhammad Nur. Beristri orang Sulawesi dan memiliki anak tunggal.


Seketika, muncul perasaan bangga dalam balutan kemanusiaan dan kebangsaan. Bangga karena dengan begitu, saya punya banyak saudara bertalian darah secara geneologi dari kaum Kristiani di tanah leluhur Tumohon, Minahasa. Semoga, satu saat bisa jumpa. Saya berkelakar, pantas, meskipun lahir sebagai anak Maluku, warna kulit ku agak putih dikit.

Sewaktu melanjutkan sekolah ke Perancis tahun 1994, saya memilih kota Nancy di dekat Paris. Nama kota yang mirip dengan nama Dotu perempuan ku. Sayang, laboratoriumnya baru akan punya proyek riset tentang jamur micoriza pada tahun depannya. Inilah jamur akar tanaman yang menjadi interest riset ku kala itu.

Saya bertanya bagaimana Dotu bisa beristeri orang Manado ? Ternyata, beliau seorang perantau. Pasnya, seorang pelaut atau nelayan. Lebih kongkrit lagi, seorang pemburu ikan roa alias julung-julung (Hemaramphus Brasiliensis). Ini profesi favorit di desa kelahiran ku, Mareku. Desa yang tidak tidak bisa dilupakan dalam sejarah expansi bangsa Spanyol ke Indonesia. Sebastian d’Elcano yang mengambil over kepemimpinan Magellan tiba di desa Mareku Tidore, tahun 1521. Kala itu, emperium kesultanan Tidore beribukota di sini.


Sejarah ini tidak untuk bangkitkan kebanggaan primordialik yang feodalistik. Tapi, lahirkan spirit konfidensial. Bahwa, nenek moyang kita pernah hidup dengan martabat yang sangat agung. Bangsa-bangsa dunia sempat tunduk di bawah tahta otoritas politik dan ekonomi negeri. Era itu, kita tidak mencari pasar. Kitalah yang menciptakan pasar, sekaligus menyuguhkan komoditasnya. Justru, konsumen beberapa benua yang datang. Meskipun akhirnya barubah status dari konsumen menjadi penjajah.

Hari ini, semuanya mulai terbalik. Kita yang memburu pasar di benua benua itu. Kalaupun mereka datang. Datang untuk mengikat sumber bahan bakunya. Jadilah kita dalam jaringan oligopoli. Mereka tidak sendiri. Ada kaki tangannya, oknum anak negeri. Putra bangsa sendiri. Persis seperti di era kolonial. Sekarang, mereka juga punya kebun di tanah kita. Mungkin sedikit halus dari cultuurstelsel (tanam paksa). Syukur kalau tidak sampai ke Rodi dan Romusha (kerja paksa). Intinya kita sedang dijajah lagi, tapi halus sekali. Wujudnya bernama ketergantungan.

Pelajaran ini mesti diinsafi oleh generasi. Jejak historis sedang direplikasi. Sedikit lagi di ujung 2021 ini, direncanakan ada replika kapal Spanyol yang pernah meninggalkan pelabuhan Sevilla Spanyol tahun 1519 menuju Indonesia. Akan diulanginya kembali. Dubes Spanyol untuk Indonesia telah membuat video atas rencana tersebut.

Dua kapal, Victoria dan Trinidad dipimpin Sebastian d’Elcano yang akhirnya berhasil menembus bumi Maluku. Ditulis oleh Antonio pigafetta yang ikut dalam pelayaran itu. Terukirlah dalam literasi dunia. Dua kapal ini membuang sauh di pelabuhan Sumpodo, Desa Mareku, Tidore tahun 1521. Inilah Desa yang 441 tahun kemudian, menjadi tempat dan tahun kelahiran ku. Mareku, Tidore, September 1962. Expresi dan syukur atas semua peristiwa tersebut, maka saya menulis judul ini. “My country, I am proud of you”. ***

Pos terkait