Minggu, 5 April 2026
Opini  

COVID19; Dimanakah Kamu Sekarang..?

Muhd Nur Sangadji. Foto: Dok

By; Nur Sangadji

DI hari terakhir bulan Ramadhan ini, seorang sahabat waktu kuliah dahulu, Amir Syarifuddin yang berdomisili di Parigi Moutong, pesisir teluk Tomini, mengirimkan pertanyaan untuk saya jawab. Isinya begini. Satu hal yang menjadi pertanyaan saya, kata beliau. Apakah kalau di kota Palu ada wabah, di kampung juga ada wabah. Dimana mana ada wabah. Bolehkah menjadi alasan orang bisa pulang kampung? Pertanyaan-pertanyaan ini beliau munculkan sesudah membaca tulisan Bayu Krisnamurthi berjudul “Pulang Kampung Para Salmon”.

Saya lantas uraikan pandangan pribadi atas pertanyaan itu. Saya bilang, alasan intinya adalah mobilitas. Bahaya orang bergerak berkait wabah penyakit.

Sudah lama sekali, agama mengkaidahkannya. Bila ada wabah di satu tempat. Mereka yang ada di dalam, jangan pergi. Karena, kita tidak akan bisa lari dari maut. Lantas, yang di luarnya jangan masuk. Karena yang demikian itu adalah tindakan takabur. Menantang bahaya.

Hal ini diterjemahkan ke dalam manajemen kesehatan sebagai penyebaran dan mengantarkan diri. Kalau yang di dalam, pergi. Dia pergi keluar membawa wabah. Mereka yang dari luar masuk, sama dengan menyetor diri. Mendatangi penyakit. Begitulah, bertemu metoda atau kaidah ilmiah dan doktrin transendental religius.


Sejak awal, saat meletus di Wuhan Cina. Bila, kita gunakan manajemen agama, maka, wabah itu harusnya dikurung di wuhan saja. Artinya, orang di Wuhan tidak boleh lari. Dari luar tidak boleh ke Wuhan. Tapi, kita saksikan apa yang terjadi? Semua negara berlomba-lomba memulangkan warganya atas nama peduli dan tanggung jawab. Meskipun diisolasi lebih dahulu, namun wabah itu telah ikut berpindah.

Ini juga sama dengan menyebar spesies invasif (asing) di alam. Flora atau fauna. Kebun, sungai, danau atau laut. Jenis yg bukan asli di habitatnya, dihadirkan. Biasanya, atas nama ekonomi. Akibatnya, spesies endemik terancam punah.


Contoh terakhir ini ditampilkan Untuk dekati analogi pak Bayu Krisnamurthi tentang Salmon. Dan, Salmon ini termasuk jenis ikan mahal di Eropa. Selama hampir 4 tahun tinggal di Montpellier, Nancy, Paris dan Lyon. Saya hampir tidak pernah makan ikan ini. Karena teringat kawan satu angkatan dahulu di Fakultas Ekonomi UNTAD tahun 1982. Namanya Salmon.

Dan, karena mahal itu pula, saya lebih sering makan ikan sardin. Mentah, maupun kaleng. Itulah sebabnya, waktu pulang ke tanah air 1997. Selain, agak putih sedikit. Kulit saya, juga mengkilat. Ciri khas sardin.🤠

Danau Lindu dan Danau Poso pernah diserbu oleh spesies invasif tersebut sehingga mengancam spesies asli biota danau. Begitulah kira-kira, mahluk di alam ini berkompetisi atau beradaptasi dalam rantai makanannya (food chain).


Namun sesungguhnya, yang jadi persoalan di Indonesia saat ini, bukan soal mudik dan pulang kampung. Akan tetapi, soal kepatuhan, keihlasan, kepercayaan, konsistensi dan teladan yang tidak terjelaskan tuntas. Munculah narasi dan “tag line” bernada sindiran di mana-mana.

Saya mencatat beberapa saja sebagai misal. “Pintu surga di buka oleh Tuhan di bulan Ramadhan, tapi pintu perbatasan di tutup pemerintah”. “Warga pribumi dilarang mudik, tapi warga asing dibiarkan masuk. Dari Wuhan pula”. Dan, masih banyak sindiran lain yang kian liar, terbang kian kemari.


Takutnya satu saat membentuk koagolasi “dis-trust” warga pada nagara (baca ; pemerintah). Berikut, berkembang pada stadium akut, bernama “civil disobeidiences”. Artinya, tidak lagi ada kepercayaan warga pada apapun yang diucap atau dilakukan pemerintah.

Karena itu, mari berkaca pada sejarah. “Dis-trust” ini, butuh waktu 350 tahun bagi kolonialisme untuk tumbang. Tapi, hanya 20 tahunan untuk pemerintahan orde lama. Dan, 30 tahunan Untuk Ordebaru. Entahlah untuk era reformasi. Tapi, kita berharap. Janganlah. Bangsa ini sudah terlalu lelah untuk urus dirinya sendiri. Sehingga, tidak punya cukup waktu mengurus hal lain untuk kepentingan dirinya.

Wabah ini seolah sedang dikirim Tuhan untuk menguji kesadaran kita berbangsa. Dan, bila kita bertanya, dimanakah dia sekarang? Nampaknya, masih ada di sekitar kita. Mungkin, karena tugasnya belum selesai. Sebab faktanya, kita belum juga berubah sadar. Siapa tahu ini momentumnya. Mumpung insya Allah, kita sedang berstatus fitrah, pasca Ramadhan. Wallahu a’lam bi syawab Minal Aidin wal faizin. Mohon maaf Lahir dan batin..🤲🤲🤲